Jumat, 13 Januari 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.48

-- Volume 2 chapter 48 --


Selain Gui Li, masih ada pasukan lain yang menyaksikan pertikaian Yun Chang dan Dong Lin.

 

Setelah Ze Yin mengundurkan diri dan tinggal di tempat terpencil, Ruohan menggantikan posisinya sebagai Panglima Bei Mo. Ruohan telah menemani Ze Yin selama bertahun-tahun terjun di medan perang, prestasinya di militer luar biasa, dan sebagai sosok yang berkharisma, kenaikan pangkatnya sudah bisa ditebak oleh semua orang.

 

Ruohan memimpin pasukan Bei Mo, menunggu tak jauh dari perbatasan Yun Chang. Bei Mo hampir dihancurkan oleh Chu Beijie dalam pertempuran terakhir mereka, karena itu semua para Jendral Bei Mo memandang Chu Beijie sebagai utusan pencabut nyawa. Kalau mereka bisa masuk ketika ada jeda antara Yun Chang dan Dong Lin, menambahkan sedikit tenaga mereka dalam usaha membunuh Chu Beijie, tentunya akan memberikan keuntungan bagi Bei Mo.

 

Bagaimanapun….

 

“Pertempuran sudah berakhir.”

 

“Bukan berakhir, lebih tepatnya mereka tidak memulainya sama sekali.”

 

“Apa yang terjadi?”

 

Di dalam tenda penasihat, Ruohan meletakan laporan militer di atas meja. Ia menggenggam tangannya di belakang, dan ia menegadahkan kepalanya melihat keseliling langit-langit tenda.

 

“Panglima?”

 

“Bai Pingting…” Ruohan seperti mencoba mengingat sesuatu, ketika dulu berada di kota Kanbu. “Nona Bai, apa yang kau tulis di surat itu untuk mengagalkan peperangan? Ruohan benar-benar tidak tahu apakah harus kecewa atau malah kagum padamu.” Ruohan tersenyum masam.

 

Bahkan saat ini, ia masih bisa mendengar dengan jelas suara kecapi itu. Tembok kota Kanbu yang sudah hancur, keadaan yang sanggat menyedihkan, Chu Beijie datang dengan beberapa ribu prajurit khusus, bersiaga di depan tembok. Lalu, saat itu ketika suasana menjadi genting, ia mendengar suara kecapi yang paling merdu.

 

Bai Pingting meletakan dirinya di tempat tertinggi. Lengan bajunya yang lebar diterbangkan angin, berkibar kencang.

 

Wanita itu telah menyelamatkan Kanbu, menyelamatkan Bei Mo. Atau bisa dibilang kenaikan pangkat Ruohan adalah berkat rencana yang ia buat untuk hari itu.

 

Tapi, kemana wanita yang membuat seluruh para Jendral Bei Mo bersedia menundukan kepala padanya hari ini?

 

“Panglima, pasukan Dong Lin sudah mundur. Apa yang harus kita lakukan?”

 

“Perang ini bahkan tidak dimulai, pasukan inti Dong Lin sama sekali tidak terluka. Kita tdak boleh ceroboh mengambil resiko menyerang. Karena kesempatan ini sudah hilang, seluruh pasukan kita akan mundur juga.” Ruohan memerintahkan dengan tegas, “Sampaikan perintah, istirahat malam ini, besok pagi-pagi sekali kita pulang.”

 

Beberapa Jendral mulai pergi dan kembali ke tenda masing-masing. Sen Ron, Komandan pasukan sayap kanan yang terakhir pergi, tapi ia berhenti di pintu tenda. Ia berpikir sebentar sebelum berbalik dan bertanya, “Panglima, apakah ada kabar dari Nona Bai?”

 

“Kudengar ia meninggalkan Yun Chang. Keberadaannya sekarang tidak diketahui.” Ruohan menghela napas.

 

Sen Ron mengerutkan dahi, “Bai Pingting dibenci oleh Raja Dong Lin karena telah membunuh dua anaknya, He Xia di Yun Chang ingin mengurungnya, dan sepertinya ia juga tidak bisa kembali ke Gui Li. Panglima, apa kau pikir ia akan…”

 

“Aku juga berpikir seperti itu.” Ruohan mengangguk. “Ketika kita berangkat besok, kau pilih tiga puluh bawahanmu yang paling terpercaya, tetap disini dan berpatroli disekitar perbatasan. Kalau mereka menemukannya, setidaknya kita bisa memberi bantuan sedikit.”

 

Sen Rong segera mengangguk. “Baik, aku juga berpikir seprti itu. Sungguh terasa pahit, tapi hanya ini yang bisa kita lakukan.” Ia menatap Ruohan sebelum berkata lagi. Kata-kata itu sudah menggantung di tenggorokannya, tapi ia tak sanggup mengeluarkannya, dan akhirnya ia pergi.

 

Ruohan bisa melihatnya, Sen Rong menahan ucapannya. Hanya ada mereka berdua di dalam tenda. Mereka bersaudara yang telah melalui bertahun-tahun medan peperangan. Tidak ada yang tidak mengerti pemikiran masing-masing. Ia berkata dengan suara pelan, “Kau tidak perlu berkata lagi, aku sangat mengerti. Sejak Panglima Ze Yin pergi, pemikiran Raja semakin tidak terduga. Tidak ada yang pernah berpikir kalau Raja akan bersekutu dengan He Xia untuk membuat jumlah pasukan sebesar tiga ratus ribu demi menekan perbatasan Dong Lin, memaksa Raja Dong Lin menyerahkan Nona Bai. Sepertinya perbuatan buruk belum mendapat balasannya. Meskipun banyak yang tidak setuju, perintah Raja tidak bisa dilanggar. Sen Rong, aku telah memimpin pasukan selama bertahun-tahun, tapi aku tidak pernah merasa bersalah sampai saat itu.”

 

Mereka berdua berpikiran sama. Sen Rong menghentakan kaki dengan keras, dan berkata dengan kasar, “Jangan dilanjutkan, hal ini sungguh menyebalkan. Kalau Panglima Ze Yin masih disini, ia pasti akan menyakinkan Raja untuk tidak bersekutu dengan si berengsek He Xia itu. Kalau saja… haaah….” Ia menghela napas keras sambil keluar dari tenda dan melangkah menjauh.

 

Ruohan tertinggal sendirian di dalam tenda dan memikirkan banyak hal.

 

Meskipun perang penentuan antara Yun Chang dan Dong Lin tidak dimulai, situasi antara empat negara telah menjadi lebih sulit. Masing-masing telah mengumpulkan kekuatan di balik kegelapan, menunggu badai yang akan menghancurkan keheningan saat ini. Sepertinya pertempuran antara empat negara yang sebenarnya akan terjadi dalam tiga tahun mendatang. Apakah kekuatan militer Bei Mo cukup kuat untuk bertahan dari malapetakan saat itu?

 

Ia melangkah bolak-balik, tak lama kemudian ia telah memutuskan apa yang perlu di ubah di dalam pasukannya. Ia berbalik, duduk di kursinya, menyebarkan beberapa kertas di meja dan mulai menulis laporan untuk Raja Bei Mo.

 

Setelah beberapa ratus kata, Ruohan meniup tinta di kertas yang sudah hampir kering. Ia berpikir untuk memanggil seseorang, untuk membawa surat ini dengan kuda tercepat menuju ibukota, ia menengadah dan terkejut.

 

Ada sebuah sosok di depannya. Ia sama sekali tidak bisa menduga sudah berapa lama pria itu berdiri di depannya dengan tenang.

 

“Aku akan bertaruh denganmu Panglima, sebelum kau sempat berteriak memanggil bantuan, aku sudah selesai mengiris tenggorokanmu.”

 

Pria itu mengenakan pakaian hitam dan penutup wajah yang juga berwarna hitam, hanya tersisa sepasang mata yang tajam. Tangan kanannya menggenggam pedangnya. Pedang itu belum keluar dari sarungnya, tapi sudah penuh hawa membunuh.

 

Ruohan telah berpengalaman ratusan pertempuran dan beberapa diantaranya membuatnya mendekati kematian. Tapi, ketenangan dan ekspresinya membuatnya benar-benar tak berdaya.

 

Sangat mengesankan, sangat berani, siapa pria ini?

 

“Lantas mengapa kalau kau membunuhku, tidak ada kemungkinan juga kau bisa keluar dari sini hidup-hidup.” Ruohan menatap balik, dan merendahkan suaranya.

 

Pria itu tiba-tiba tertawa, “Kalau begitu biar aku membuat taruhan lain dengan Panglima. Setelah membunuhmu, tidak hanya aku bisa keluar dengan aman seperti ketika aku datang, aku pastikan aku juga akan menyingkirkan beberapa Jendral Bei Mo. Pertempuran Yun Chang dan Dong Lin tidak terjadi, maka para prajurit sedang sangat bersantai karena berpikir mereka tidak akan terlibat pertempuran. Panglima sudah memerintahkan seluruh pasukan untuk kembali besok pagi. Saat ini sudah tengah malam, kurasa semua prajurit akan menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat. Semuanya terdengar, tertidur sangat pulas.”

 

Meskipun saat ini tidak dalam suasana pertempuran dan para penjaga lebih santai, pria ini telah berhasil menyelinap ke jantung perkemahan tanpa ada suara peringatan. Kemampuannya sungguh luar biasa.

 

Ruohan mengamatinya lama.

 

Warna kulit di tangannya terlihat coklat karena terbakar matahari, warna coklatnya terlihat padat seperti baja yang dilumerkan. Seseorang yang sangat berpengalaman bahkan seumur hidupnya sudah berkelut dibidang ini, karena itu akan sulit menjatuhkannya hanya dengan sebuah pukulan.

 

Ruohan menatapnya lama sebelum berbisik pelan, “Chu Beijie?”

 

“Seperti yang diharapkan dari seorang Ze Yin, setidaknya kau bisa menebak sedikit.” Chu Beijie terkekeh, melepaskan cadar hitamnya. Wajahnya tampan.

 

Ini pertama kalinya Ruohan melihat dari dekat dan sangat jelas wajah musuh terbesar Bei Mo.

 

Tak heran ia begitu mengesankan dan berani. Tak heran ia bisa masuk ke perkemahan pasukan Bei Mo seperti sedang bermain-main. Orang ini adalah Panglima Zhen Beiwang dari Dong Lin, Chu Beijie.

 

Dan pria yang sangat dicintai oleh Bai Pingting.

 

“Apakah alasan Panglima Zhen Beiwang menyelinap masuk ke perkemahan ini untuk membunuhku?”

 

“Aku tidak menginginkan nyawamu saat ini.” Chu Beijie menjawab, “Aku disini karena aku ingin kau menyampaikan pesan pada Raja Bei Mo.”

 

“Pesan apa?”

 

“Ia berani mengirim pasukannya untuk menyelidiki pasukan Dong Lin, berpikir kalau ia bisa mengambil keuntungan. Ia harus menghadapi resikonya.” Chu Beijie menunduk dan memandang pedang berharganya. “Tanganku sangat gatal karena pertempuran dengan Yun Chang batal. Mulai sekarang, aku akan membunuh para Jendral Bei Mo, satu persatu, dimulai dari yang berpangkat paling tinggi, sampai Raja Bei Mo kehabisan Jendral. Dengan begitu ia bisa menyaksikan pasukannya perlahan hancur seiring berlalunya waktu. Bukankah itu sangat menarik?”

 

Ruohan terkejut sesaat tapi ia berhasil memberikan senyum mengejek, “Dengan kata lain, Panglima Zhen Beiwang akan terus berada disini sebagai pembunuh.” Ia berpikir kalau ia akan menjemput kematiannya sebentar lagi, tapi ia sama sekali tidak gentar. Ia tiba-tiba berdiri, mengeluarkan pedangnya. Ia berteriak, “Perkemahan Bei Mo tidak akan membiarkanmu pergi semudah kedatanganmu. Bahkan jika aku harus memberikan nyawaku hari ini, aku harus membunuhmu untuk Raja Bei Mo. Penjaga kemarilah !” ia berteriak dan menunggu sebentar, tapi tak seorangpun yang datang.

 

Ruohan lagi-lagi terkejut.

 

Chu Beijie menjawab dengan meremehkan, “Kalau kau ingin berteriak, kau harus melakukannya lebih baik dari yang tadi. Semua para pengawal pribadimu telah kehilangan kepala mereka, dan tenda terdekat berjarak lima kaki dari sini. Semua ini berkat peraturan tidak masuk akal, milik pasukan Bei Mo, yang mengatakan kalau tenda utama butuh jarak agak jauh dari tenda lainnya.”

 

Jantung Ruohan membeku mendengarnya. Para pengawal yang berada di luar tenda sangat dipilih, dan mereka semua telah di bunuh Chu Beijie tanpa suara. Kemarahannya luar biasa meningkat dan ia berteriak sangat keras, “Siapapun datanglah! Ada pembunuh!” ia mengangkat pedangnya ke atas dan menyerang ke depan.

 

Chu Beijie memperhatikan dengan dingin ketika musuhnya mengarahkan pedangnya kepadanya. Matanya menyipit ketika ia mengeluarkan pedangnya sendiri dari sarungnya. Kilauan sinar dingin mulai terlihat dan suara pedang beradu terdengar oleh yang lainnya. Ruohan merasakan gelombang kekuatan yang besar ketika mengadu beradu. Pundaknya menjadi kaku, ia kembali berkonsentrasi untuk melihat sosok Chu Beijie yang tidak terlihat, silau cahaya lilin ketika pedangnya tadi beradu. Ruohan menjadi lebih siaga dan mengayunkan pedangnya ke kiri dan ke kanan. Ia melangkah mundur dua langkah dan tiba-tiba merasakan rasa sakit luar biasa. Ia berteriak kesakitan, dan merasakan pingangnya terluka.

 

Ruohan menahan sakitnya dan mengayunkan pedangnya untuk menusuk, tapi tangan Chu Beijie sudah mengenai lukanya terlebih dahulu, sehingga pedangnya terjatuh ke tanah. Pedang itu menyentuh lilin, membuat lilin-lilin itu jatuh ke tanah dan padam, meyebabkan tenda berada dalam kegelapan yang sunyi.

 

Ruohan hanya melihat hitam, tapi ia merasakan sebuah benda yang dingin di lehernya. Ia tahu Chu Beijie telah meletakan pedang berharganya di lehernya.

 

Dulu, orang ini, dengan tiga gerakan, berhasil membunuh Mengchu, wakil terbaik Panglima Ze Yin ketika di Kanbu. Dan sesuai dengan kemasyurannya, ia sungguh orang yang terlatih.

 

Ruohan tahu ia akan segera mati, tapi ia tidak akan memohon belas kasihan. Ia mendengar suara langkah-langkah kaki yang kalut di luar tenda, “Kau bisa membunuhku kalau kau ingin, tapi jelas, kau tidak akan lolos dari sini.”

 

Chu Beijie menjawab dengan sangat percaya diri, “Tentu saja, kalau aku berniat membunuhmu. Aku akan memulainya darimu, tapi seperti yang kukatakan tadi, aku tidak menginginkan nyawamu saat ini. Ketika kau bertemu Raja Bei Mo, pastikan kau ingat untuk menyampaikan padanya untuk tidak membuat masalah dengan Dong Lin.”

 

Ruohan belum sempat membalas ucapan Chu Beijie ketika ia merasakan denyutan di kepalanya dan pingsan.

 

--

Gunung Songsen tertutup es dan salju. Ketika matahari bersinar di atas salju, memantulkan sinar merah. Sebuah sosok kecil melangkah di atasnya, terkadang dalam, terkadang dangkal, ia tergesa-gesa dalam langkahnya.

 

Lapisan salju sangat tinggi, terkadang sampai ke lutunya. Setiap langkah membutuhkan tenaga yang banyak.

 

Zuiju bernapas dengan berat. Sinar kemerahan yang terpancar dari salju membuat matanya berkunang-kunang. Mulai membutakannya dan membuatnya sulit melihat arah di depannya. Terkadang, ia tak kuat dan bersandar di pohon untuk mengatur napasnya, tapi ketika ia berhenti, hatinya mulai digerogoti rasa bersalah.

 

Pingting kesakitan, dan menunggunya di area bebatuan.

 

Pingting dan anak dalam kandungannya sedang menunggunya.

 

Zuiju tahu persis, Pingting sedang berjuang. Ia seorang tabib, jadi tak mungkin ia tidak tahu kondisi Pingting. Bagaimanapun, tidak ada kemungkin mereka bisa bertahan hidup kalau tetap berdua. Pingting benar, jalan sendirian mencari Yangfeng meminta bantuan, adalah kemungkinan satu-satunya untuk mereka bisa bertahan hidup.

 

Oh langit, mengapa keadaan harus jadi seperti ini?

 

Hanya dalam sekejab mata, bunga plum yang belum sempat mekar di kediaman terpencil, harumnya telah mengalir di udara dan selanjutnya menjadi layu.

 

 Mengapa wanita yang paling pandai yang mencintai pria yang paling gagah harus mengalami nasib seperti ini?

 

Tusuk rambut giok pemberian Yangfeng dikenakan oleh Zuiju di rambutnya. Benda itu terasa seberat satu ton, menekan kuat tubuhnya seperti keselamatan nyawa Pingting dan anaknya.

 

Ia mengeluarkan peta dan mempelajarinya dengan seksama.

 

“Tersesat lagi?” Zuiju menjadi pucat karena khawatir. Gunung Songsen yang putih telah membuat orang-orang yang berada disitu kehilangan pijakan arah. Ia tahu ia sudah sangat dekat ke tempat Yangfeng karena itu ia telah bergegas tanpa istirahat.

 

Tujuannya adalah gunung Bei Mo terdekat dari Gunung Songsen.

 

Gunung itu sudah dekat, harus sudah dekat.

 

“Kyaa!” Kakinya terpeleset dan Zuiju jatuh ke salju lagi.

 

Tidak apa-apa, aku sudah terjatuh ratusan kali, mungkin bahkan sudah ribuan kali. Guru, Guru, aku bertaruh kau tidak pernah berpikir kalau Zuiju kecil akan begitu berani suatu hari.

 

Udaranya begitu dingin, tapi hatiku memiliki api yang akan membakar seluruh tubuhku.

 

Ia menggertakan giginya dan berusaha berdiri di salju. Ia segera melangkah mundur begitu ia melihat sosok seorang pria di matanya. ia telah berjalan di gunung Songseng agak lama dan tidak pernah melihat satu orangpun kecuali Pingting.

 

Seorang pria.

 

Pria itu mengenakan pakaian gunung. Tangannya memegangpanah dan sepertinya menghalangi arah tujuan Zuiju.

 

Zuiju menatap pada tatapannya yang dingin dan mulai khawatir.

 

Ia perlahan menegakan punggungnya.

 

Fanlu memperhatikannya dengan seksama dan akhirnya bibirnya terangkat, ia tersenyum dan berkata, “Bai Pingting?”

 

“Siapa kau?”

 

“Jadi, kau Bai Pingting.” Tatapan Fanlu jatuh ke tusuk rambut yang dikenakan Zuiju, “Sungguh tusuk rambut yang indah.”

 

Zuiju mulai bergetar dan merasa jantungnya di pukul.

 

Ia menatap Fanlu, perlahan melangkah mundur.

 

Fanlu perlahan menaikan busurnya. Anak panah yang tajam bersinar ketika ia mengarahkannya pada dada Zuiju.

 

Zuiju merasa ia bisa mati saat itu. Tubuhnya menjadi dingin dan setiap helai rambutnya gemetar. Tusuk rambut itu terasa sangat berat dan jatuh ke tanah.

 

Tidak, aku tidak boleh mati.

 

Ia memikirkan Pingting.

 

Pingting yang membaca buku dengan anggun, Pingting yang memainkan kecapi di salju dan Pingting yang memetik bunga plum. Ia mengingat Pingting yang berlutut di lantai ketika bulan di hari ke enam telah muncul di langit malam, menangis pedih dan hancur.

 

Aku tidak boleh mati disini. Zuiju dengan berani melotot pada Fanlu. Ia sudah kehabisan tenaga untuk melawan, dan pria itu memegang busur, tapi ia tetap memberikan tatapan tajam pada pria itu.

 

Fanlu hampir bingung dengan tatapannya. Ia tak pernah tahu seorang wanita bisa menghadapi kematian tanpa rasa takut.

 

Ketika ia merasa ragu, Zuiju berbalik dan berlari dengan sekuat tenaga.

 

Tidak, aku tidak boleh mati!

 

Ia meminjam kekuatan dari langit, untuk berlari sekuatnya ke dalam hutan.

 

Whuuusss.

 

Suaran angin dibelah mengejarnya, di telinganya, ia melihat sebuah anak panah melewatinya, tertancap ke pohon di sebelahnya. Zuiju terkejut dan langkah kakinya semakin cepat.

 

Whuss, whuuusss….

 

Suara angin terdengar lagi, mendekatinya. Satu demi satu, anak panah menancap di pohon dan semak-semak. Zuiju menghindarinya satu demi satu.

 

Oh dewa, apa kau tidak berniat menolongku?

 

Tolong bantu aku sampai selesai. Bantu aku bertemu Yangfeng dan memberitahunya kalau Nona Bai menunggu pertolongannya.

 

Juga anaknya, darah daging Tuan Besar Zhen Beiwang, salah satu anggota keluarga kerajaan Dong Lin.

 

Ia begitu putus asa berusaha melarikan diri. Semua yang ia lihat berwarna putih. Dan kakinya tak berasa menyentuh apapun.

 

“Ah!” Zuiju berteriak panik. Dan terjatuh di tanah.

 

Ia jatuh ke dalam salju yang tebal. Kaki kanannya telah tersandung batu yang menonjol ke atas.

 

Rasa sakit yang megerikan menjalar di kakinya. Begitu sakit, hampir membuatnya pingsan.

 

“Ah…” Zuiju mengeram, berusaha untuk duduk. Dan memeriksa keadaan kakinya.

 

Benar-benar patah. Seluruh tubuhnya bergetar karena rasa sakit dari tulang.

 

Apa yang harus kulakukan? Ia masih harus segera menyampaikan pesan. Ia tidak bisa berhenti disini. Tumbuhan obat, selama ada tumbuhan obat yang bisa digunakannya, ia bisa menahan sakitnya.

 

Tapi dimana tumbuhan obatnya?

 

Ia berbalik, mencari disekitarnya. Tapi sekelilingnya benar-benar putih dan pepohonan mati dan beberapa batu yang muncul di salju, tak ada apa-apa lagi?

 

Ia menoleh ke kiri dan tidak percaya dengan penglihatannya. Ia menggosok matanya dengan kedua tangannya.

 

“Ah, rupanya disitu!” Zuiju merasa terkejut dan senang. Matanya mulai terasa basah.

 

Aku melihatnya, aku melihatnya! Gunung tempat kediaman Yangfeng akhirnya terlihat di mataku. Aku telah mencapai kaki gunung.

 

Zuiju akhirnya bisa menangis gembira, karena telah menemukannya. Nona Bai, kita selamat.

 

“Nona Bai, tunggu aku. Aku sudah melihatnya.”

 

Rasa sakit muncul begitu Zuiju berusaha bangun. Ia hampir berdiri ketika tiba-tiba tubuhnya kehilangan tenaga dan kembali jatuh ke tanah.

 

“Tak pa-pa, tak pa-pa.” ia mengatakannya pada dirinya sendiri. “Aku bisa mendaki ke sana. Aku bisa mendaki gunung itu.”

 

Sesuatu berkelebat di matanya, seperti mutiara bersinar di kedalaman laut, mutiara yang telah melewati waktu begitu lama yang akhirnya siap untuk bersinar.

 

Zuiju menyeret tubuhnya melewati salju. Mengapa jarak kesana masih begitu jauh? Ia mengertakan giginya dan berjuang bergerak maju. Ia merasa ia mendekati ujung dunia, putih yang tanpa ujung berada di sekelilingnya.

 

Darahnya yang merah cerah tercecer di salju, membuat sebuah lukisan indah.

 

Ia mendengar suara langkah kaki, tidak jauh. Ia menoleh, keputusasaan mencengkramnya sampai mencekik jantungnya.

 

Pria itu berdiri disana, menyaksikannya dengan dingin.

 

Tidak, tidak….

 

Zuiju dengan galak menatap balik.

 

Aku sudah sampai disini, kau tak bisa mengambil perjuangan kami dengan begitu mudahnya.

 

Hanya tinggal selangkah, satu langkah lagi.

 

Tangan Fanlu tidak bergerak. Tangan kanannya memegang busur, dan tangan kirinya memegang anak panah. Ia telah melepaskan semua anak panahnya tadi. Dua puluh tujuh, dan tidak satupun yang meleset.

 

Zuiju menatap tajam pada pria itu dan pada anak panahnya.

 

Aku tidak boleh mati.

 

Pingting masih menungguku di salju berangin. Ada batas waktu tiga hari, untuk Pingting dan anaknya.

 

Chu Beijie telah melanggar janji tanggal enam, menghancurkan kebahagiaannya. Aku tidak boleh membuat kesalahan dan menggacaukan hidupnya lagi.

 

Tanah bersalju dan gunung sangat dingin dan tidak berperasaan. Membawa rasa kematian yang kuat, bisa memenuhi seluruh hati, membuat rasa putus asa begitu memilukan.

 

Zuiju menegakkan kepalanya dan mulai berteriak dengan sedih, “Yangfeng! Yangfeng! Kau disana? Tolong aku!”

 

“Yangfeng, istri Panglima, Yangfeng, kau bisa mendengarku?”

 

“Siapa saja, Chu Beijie, Tuan Besar Zhen Beiwang, tolong selamatkan Bai Pingting! Apa kalian semua sudah melupakan Bai Pingting?”

 

“Chu Beijie, kau pengecut, kau telah melupakan Bai Pingting?”

 

Ia istrimu, bersama darah dagingmu. Ia tidak seharusnya pergi ke ujung dunia, tidak seharusnya terkubur di gunung Songsen.

 

“Bagaimana bisa kau tidak muncul? Bagaimana bisa…..” Zuiju menangis putus asa, “Apa kau masih ingat Bai Pingting? Apa kau masih ingat janji yang kau ucapkan? Bagaimana bisa kau melupakannya….”

 

Suaranya bergema di hutan, tapi keajaiban tetap tidak terjadi.

 

Sungguh tidak adil, sangat tidak adil.

 

Ia menengadahkan kepalanya, wajahnya penuh airmata ketika ia melihat senyum di wajah pria itu.

 

“Bisakah kau mencium wangi salju?” Pingting pernah bertanya padanya seperti itu, ketika pertama kali mereka bertemu.

 

Ia telah menemani gurunya ke rumah-rumah keluarga kaya, keluarga bangsawan dan keluarga kerajaan, melihat begitu banyak orang berbeda dan peristiwa berbeda-beda, tapi ia tak pernah melihat cinta yang sedalam itu.

 

Bai Pingting dan Tuan Besar Zhen Beiwang.

 

Sungguh cinta yang hebat, tapi juga sangat menyedihkan, begitu sulit dan mematahkan hati.

 

Oh langit, mengapa kau begitu kejam.

 

Mengapa kau tidak tersentuh oleh cinta yang seperti itu?

 

Zuiju yang tak berarti ini bersedia membayar dengan nyawanya, tapi dengan begitupun tidak membuat keadaan berakhir bahagia.

 

“Yangfeng! Yangfeng! Cepatlah datang! Aku memohon padamu, datanglah!”

 

Gunung terus mengemakan tangisan Zuiju. Fanlu dengan tenang duduk menyaksikan kepedihannya.

 

Fanlu tidak mengangkat panahnya, karena ia merasa tidak perlu.

 

Zuiju berteriak sampai suaranya serak. Begitu ia kehabisan tenaga untuk menangis, ia diam. Wangi salju mengalir di hidungnya, begitu juga wangi darah segarnya.

 

Darah yang merah menyala, mengalir dari kakinya.

 

Zuiju sepertinya menyadari sesuatu. Ia mengangkat tubuhnya dengan kekuatan luar biasa, dengan gugup melihat kesekeliling.

 

Di tengah malam, ia melihat warna hijau menyala dengan tenang dan diam mendekat dari arah hutan.

 

Srigala!

 

Ia akhirnya mengerti senyum dingin pria itu.

 

--00--


Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia

1 komentar:

  1. Kapan ya, novelnya bahasa indo.nya di lanjutin? Aku sudah nunggu dari tahun lalu... Tapi kok nggak ada perkembangan??sayang sekali, novel yg menarik seperti ini di telantarkan... :(

    BalasHapus