Dong
Lin, di dalam sebuah lembah tersembunyi.
Chu
Beijie dan Pingting serta rombongannya sedang menyalakan kembali semangat yang
telah hancur. Setelah diskusi militer selesai, setiap Jendral, masing-masing
telah memiliki tugasnya ketika mereka melangkah keluar tenda. Langkah kaki
mereka menjadi ringan dan mantap.
Tapi
mereka juga sangat mengerti resiko yang harus dihadapi. Rencana Panglima Zhen
Beiwang dan Pingting sangat berbahaya. Tidak boleh ada kesalahan sekecil
apapun.
Setelah
pertemuan selesai, Chu Beijie menarik Pingting menjauh dari kerumuman ke sudut
tenda. “Bagaimana mungkin penasibat Bai tidak menemaniku setelah menunjukan
kehebatannya yang luar biasa itu?”
Pingting
berbalik dan tersenyum, “Jangan lupakan taruhan kita. Pingting sudah
memenangkannya, jadi Tuan tidak boleh menyentuh tangan Pingting selama sepuluh
hari.”
Mata
Chu Beijie bersinar, tanpa ragu ia mengeluarkan pedangnya dari sarungnya di
pinggangnya. Ia menyerahkannya pada Pinting, “Kalau begitu Pingting boleh
melukaiku sepuluh kali, menggantikan janji sepuluh hari.”
Pingting
segera memasukan pedangnya kembali ke dalam sarungnya dan menggerutu, “Rencana
Tuan untuk berikap menyedihkan tidak akan berhasil. Tuan yang mulai memancing
Pingting terlebih dahulu, padahal sudah memiliki peta kota Qierou diam-diam.
Tuan berencana menguji Pingting, sangat terlihat jelas. Bagaimana kalau
Pingting tidak mampu menjawab, Pingting akan mempermalukan diri sendiri?”
Chu
Beijie berkata pelan, “Apanya yang bersikap menyedihkan. Tidak bisa menyentuhmu
selama sepuluh hari ketika kau berada di depanku, jauh lebih menyakitkan
daripada di iris pedang. Sungguh menyiksa, sakitnya berasal dari dalam. Aku
lebih suka mengambil cara yang mudah, sebanding dan tepat” wajah tampan Chu
Beijie terlihat sangat tulus.
Hati
Pingting bergetar karena kata-katanya. Ia meundukkan kepalanya, diam agak lama,
sampai akhirnya ia berkata dengan suara seperti berbisk, “Bahkan jika Tuan bisa
menghilangkan perjanjian sepuluh hari, Tuan tidak seharusnya memegang tangan
Pingting setiap hari di setiap saat-saat penting” Pingting berpikir sejenak
teringat kembali kejadian tadi dan menjadi sedikit marah. Ia cembetut sambil
berkata, “Tuan sudah keterlaluan, mendesak Pingting sampai Pingting harus
membuat taruhan seperti itu. Pingting akan membalas Tuan.” Mata Pingting
menjadi bersinar menatap Chu Beijie dengan perasaan kesal dan cinta.
Chu
Beijie melihat ekspresi lembut di wajah Pingting. Ia tersenyum sambil berbisik,
“Katakan, kemana kau akan pergi?”
Mendengarnya
Pingting wajah Pingting menjadi sedikit muram. Ia berkata pelan, “Aku harus
mencari si jenius Tabib Huo. Zuiju….” Matanya mulai memerah.
Hati
Chu Beijie terbakar rasa sakit.
Setelah
pertemuan mereka, Pingting mulai mengingat kembali kenangan-kenangan lamanya,
dan ia kadang mengutarakannya. Setiap kali Pingting melakukannya, ia hanya
bicara sedikit tidak berniat menjelaskannya.
Tapi
Chu Beijie sangat mengerti, penderitaannya sama sekali belum hilang. Kematian
Zuiju adalah salah satu hal yang paling menyiksanya.
Saat
itu, apa yang sebenarnya terjadi di gunung Songseng, yang menyebabkan tragedi
seperti ini?
Apa
anak mereka juga terkubur di bawah salju yang begitu putih?
Tapi
ia tidak berani bertanya pada Pingting apakah anak mereka benar-benar mati atau
tidak. Bagi Pingting, hal ini pasti merupakan penderitaan yang tak mampu di
tahannya.
“Aku
akan menemanimu.” Chu Beijie menggengam erat tangan Pingting.
Pingting
perlahan menggelengkan kepalanya, “Maaf Tuan, Pingting ingin menyampaikan pada
Tabib Huo sendiri saja.”
“Pingting…”
“Kalau
Pingting memang benar-benar membutuhkan sesuatu…” Pingting menatap mata Chu
Beijie “Tuan, pasti akan berada di sisi Pingting, ya kan?”
Chu
Beijie benar-benar tak berdaya menghadapi tatapannya. Keberaniannya sebagai
seorang pahlawan seperti menghilang tanpa jejak ketika ia berjanji dengan
sungguh-sungguh. “Pasti”
Pingting
tersenyum. Ia perlahan menarik tangannya dari genggaman Chu Beijie, dan
berbalik meninggalkannya.
Chu
Beijie berdiri menyaksikan Pingting keluar dan menjauh dari tenda. Dan ketika
kesadarannya mulai kembali, ia menyadari seseorang sedang memperhatikan
dirinya.
Chu
Beiji bukan orang biasa, ketika ada seseorang memperhatikannya, tubuhnya secara
reflek memperingatinya. Ia berbalik dan tertawa kecil. “Kalau kakak ipar ingin
tertawa, silakan saja. Seperti pepatah mengatakan, selalu ada hal yang perlu
ditaklukan. Aku tak pernah bisa melakukan apapun di depan Bai Pingting.”
Para
Jendral di dalam tenda sudah pergi, tapi Ratu masih berada di sana, duduk di
atas sebuah kursi. Ia tertawa sambil tersenyum, “Tuan besar Zhen Beiwang
sepertinya sangat kesal. Bersikap menyedihkan sungguh pilihan yang bagus. Tapi
mengapa kau mengatakan – tak bisa melakukan apapun? Kelembutan selalu menjadi
titik lemah seorang pahlawan, seorang wanita yang melawan kekasihnya pasti akan
berakhir seperti Tuan Zhen Beiwang.” Tatapan Ratu melayang jauh melewati tirai
tenda. Seperti bercampur dengan angin dan langit, melayag melewati ribuan
kilometer, mencapai istana Dong Lin yang dulunya berdiri megah dan mewah.
Ia
mengingat, arak yang paling bagus, makanan istimewa, dan hall utama yang dihias
dari emas. Semua itu terasa seperti khayalan.
Ia
telah menemani Raja selama betahun-tahun, tapi hal yang paling diingatnya
adalah saat kematiannya.
Ia
bukan hanya seorang Ratu tapi juga istri dari pria itu.
Setelah
melihat kematian Raja Dong Lin di depan matanya, ia baru menyadari perasaan
yang mengikat mereka berdua.
Bukan
karena Dong Lin, atau istana kerajaan, juga bukan karena status Raja dan Ratu.
Tapi
karena mereka suami istri, pria dan wanita.
Karena
peraturan tata tertib istana, ia sering sekali tak mampu menahan kenginannya
untuk menggenggam tangan pria itu dan memeluknya, tapi ia selalu memikirkan
statusnya sebagai Ratu. Ia menahan keinginannya sekuat tenaganya.
“Kakak
ipar?”
“Eh?”
Ratu berguman, kesadarannya kembali. Ia berkata, “Tuan besar Zhen Beiwang,
mendekatlah,”
Chu
Beijie melangkah dua kali, dan duduk di sampingnya.
“Apa
kau berencana membuat prajurit Dong Lin sebagai bagian dari Pasuan Ting?” Ratu
bertanya.
Chu
Beijie memang berniat membahas hal ini sampai jelas dengan kakak iparnya. Ia
mengangguk sambil berkata, “Benar.”
“Pasukan
Ting…” Ratu berkata sambil menahan ucapannya lalu ia tersenyum kecut, “Hari itu
Raj pernah berkata kalau, Zhen Beiwang terlalu tulus sebagai seorang pria, ia
sama sekali tidak cocok untuk kehidupan istana yang kejam. Hal itulah yang
paling dikhawatirkan oleh Raja, dan sekarang, entah aku harus khawatir atau
bergembira atas status Tuan besar Zhen Beiwang saat ini. Lagi pula, tanpa rasa
cinta yang besar terhadap Bai Pingting bagaimana mungkin Panglima Zhen Beiwang,
bisa secara hebat membentuk Pasukan Ting yang bersedia melawan He Xia?”
kemudian Ratu mengubah pembicaraan, “Aku ingin memastikan masalah ini, karena
prajurit Dong Lin menjadi Pasukan Ting…. Dan kalau Pasukan Ting berhasil
memenangkan pertempuran, Tuan besar Zhen Beiwang pasti akan memiliki kekuasaan
paling besar, lantas bagaimana nasib Dong Lin?”
Chu
Beijie diam sejenak, ia mengertakan giginya, “Jujur, kakak ipar, aku akan
membuat negara baru dengan nama baru”
“kalau
begitu, Dong Lin….”
“Dong
Lin sudah menjadi masa lalu. Aku tidak melakukan ini untuk Dong Lin melainkan
untuk memberikan Pingting tempat yang damai untuk hidup. Kalau Dong Lin
menerima semua keuntungan setelah semua ini selesai, maka Dong Lin akan secara
resmi dianggap menaklukan tiga negara. Kalau seperti itu apa bedanya dengan He
Xia? Tiga negara lainnya akan menyimpan kemarahan dalam hati mereka dan
menunggu waktu yang tepat untuk memberontak. Tidak akan ada kedamaian yang
sebenarnya.” Mata Chu Beijie menjadi lebih lembut ketika melanjutkan, “Ini
janjiku pada Pingting, dan tidak berubah.”
Tatapan
mata Ratu menjadi tajam dan memperhatikan Chu Beijie dengan seksama.
Chu
Beijie tidak menghindari tatapan Ratu barang sedetikpun. Ia berkata dengan
sedih, “Kalau kakak ipar marah, silakan menghukum Chu Beijie, tapi keputusanku
sudah bulat.”
Ratu
memandang Chu Beijie lama sekali sampai akhirnya sorot matanya mulai melembut.
Ia berkata dengan lemah, “Pokok dari sebuah negara adalah rakyat. Benar bukan?”
“Kakak
ipar?” Chu Beijie terkejut.
“Dimana
kau bisa menemukan dinding yang tidak membiarkan angin melewatinya? Percakapan
antara Tuan Putri Yaotian dan Panglima Zhen Beiwang, sesaat sebelum peperangan
di perbatasan Yun Chan, telah membuat banyak orang bertanya-tanya” Ratu
perlahan tersenyum, “Ketika istana Dong Lin terbakar, aku selalu berpikir,
seperti apa negara Dong Lin ketika pertama kali terbentuk. Mungkin terdiri dari
beberapa kumpulan orang-orang yang tidak ragu mengucurkan darah mereka demi
berkumpul kembali dengan istri dan anak, agar bisa menjalani kehidupan bahagia
setiap harinya.”
Mengapa
setelah ratusan tahun, kenyataan bahwa yang membentuk sebuah negara adalah
rakyat malah dilupakan?
Ratusan
ribu rakyat, ratusan ribu kematian, semuanya telah kacau balau.
Ratu
perlahan menatap mata Chu Beijie kembali. Ia menghela napas, dan membuat sebuah
keputusan, “Negara memang penting, tapi apa hal itu membuat sebuah nyawa
menjadi tidak berharga? Tanpa rakyat yang hidup dengan damai, sebuah negara
sama saja sudah binasa. Panglima Zhen Beiwang, lakukan saja apa yang ingin kau
lakukan.”
Chu
Beijie tidak menyangka Ratu akan membuat keputusan secepat itu. Ia dengan
segera bangkit dan berlutut di hadapan Ratu, “Aku, selamanya akan mengingat
kemurahan hati kakak ipar.” Chu Beijie benar-benar sama sekali tidak menyangka,
halangan yang berat ini akan dilewatinya dengan lancar.
“Pergilah,
persiapkan perangmu, agar sebuah nyawa tidak lagi di injak-injak, kembalikan
kedamaian kedunia ini.” Bibir Ratu tertarik ke atas menampilkan sebuah senyuman
dan harapan. “Rakyat atau keluarga Raja, memiliki harapan yang sama. Sebagai
seorang manusia yang memiliki hak untuk diperlakukan selayaknya manusia, kita
semua seharusnya tahu kalau nyawa kita sangat berharga dan tidak seharusnya
menginjak-injak yang lain seperti seekor semut”
Panglima
Zhen Beiwang akan membentuk sebuah kekaisaran baru.
Sebuah
kekaisaran yang tidak berasal dari militer, setiap penduduknya akan tahu
bagaimana menghargai diri mereka dan tidak memandang rendah diri sendiri.
Mereka
tidak akan melihat yang lainnya sebagai boneka atau alat atau yang lainnya.
Mereka
tidak akan pernah di paksa untuk turun ke medan perang.
Dan
ketika ada ancaman perang, mereka bisa memilih untuk maju berjuang melindungi
negara atas kemauan sendiri, seperti pasukan Ting saat ini.
Dan
jika darah merah mereka mengalir di medan perang, setiap tanah yang dilewatinya
akan tumbuh rumput hijau yang rimbun di kemudian hari.
“Bai
Pingting,” Ratu menegadah tatapanya seakan melihat langit, “Sungguh wanita yang
luar biasa.”
--
Gui
Li, senja mulai tiba.
Tidak
ada lagi wangi harum yang lembut, ataupun kumbang dan kupu-kupu untuk
dipandangi bagi orang yang berada di istana dingin.
Kunci
yang tidak tersentuh setelah beberapa lama mulai bersuara pelan. Ratu Gui Li
yang mengenakan pakaian compang-camping perlahan mengangkat kepalanya. Ia
melihat sosok yang sangat di kenalnya.
Raja
Gui Li, He Su, melangkah masuk melewati pintu. “Kakak laki-lakimu Le Zhen telah
dikalahkan oleh Fei Zhaoxing. Karena takut pasukan Yun Chang akan menyerang
lagi, ia memimpin pasukan yang tersisa melarikan diri, jauh sekali dari
ibukota.”
Nada
suaranya tenang, sama sekali tidak ada kemarahan.
Ratu
telah di tahan selam beberapa hari, ini pertama kalinya ia mendengar kabar
tentang kakak laki-laknya. Ia diam sejenak sebelum akhirnya berkata dengan
dingin, “Apa kedatangan Yang Mulia untuk menganugrahkan kematian untukku.”
He
Su tidak bersuara. Ia berjalan mendekati istrinya dan menyadari, setelah sekian
lama ternyata ia masih menyimpan perasaan padanya, lalu ia memegang dagunya.
“Ratu,
apa kau tidak ingin melihat Shao Er?” Raja bertanya.
Ratu
sangat terkejut mendengar pertanyaan itu, ia memandang He Su dengan tidak
percaya. “Yang Mulia… akan mengijinkan aku melihat Shao Er?” Anaknya adalah
seluruh hatinya, suaranya sangat bergetar.
“Mengapa
aku tidak mengijinkanmu?” He Su menghela napas.
Ratu
tahu ia akan mati, kemungkinan dengan racun, entah dengan pisau atau arak. Ia
telah membuat keputusan untuk menerima semua itu. Tapi ia sama sekali tidak
menyangka, He Su sendiri yang datang. kata-kata dan tindakannya sangat diluar
perkiraan. Hatinya jadi melemah, karena mereka telah menikah selama
bertahun-tahun dan ia menyebut anak mereka. Wajahnya tidak lagi menampakan
ekspresi dingin, ia menundukan kepala ketika berkata, “Aku diam-diam
membocorkan rahasia rencana penyergapan Yang Mulia, ayahku memonopoli
kekuasaan, dan kakakku, menentang titah dan menggunakan pasukan untuk melawan
Yang Mulia. Hukuman bagi keluarga Le …… yang sepatutnya, adalah kematian.”
“Ratu
sudah tahu kesalahan sendiri?” He Su memikirkan situasi Gui Li saat ini dan ia
tertawa dingin. Lalu ia melihat Ratu semakin menuduk rendah, dan He Su mulai
melembut, “Berdirilah, aku memaafkan kesalahanmu. Kau diperintahkan untuk
kembali ke istana kerajaan dan kembali memimpin di istana belakang.”
“Apa?”
Ratu mengangkat kepalanya dengan terkejut.
Le
Zhen memimpin pasukan melarikan diri dari ibukota sama saja dengan memberontak.
Ini kejahatan paling berat terhadap istana, kesalahan yang tidak bisa diampuni.
Tapi
ekspresi He Su sama sekali tidak menampakan sedang bercanda.
Istana
dingin sangat gelap ketika malam. Sosok He Su yang berdiri di depan pintu
berada sangat dekat dengannya tapi Ratu seakan tidak bisa melihat dirinya,
seperti penampakan dari sebuah bayangan yang samar.
Ratu
berpkir kalau hubungannya dengan suaminya telah hancur sampai sampai ke titik
tidak mungkin di perbaiki. Ia menundukan kepalanya lagi dan berkata sambil
mengatup rapat giginya, “Raja tetap harus membunuhku. Aku menikah dan masuk ke
dalam istana sejak usiaku lima belas. Ketika Yang Mulia meneruskan taktah, aku
juga di nobatkan sebagai Ratu. Mengingat bagimana kisah cinta kita dulu, sama
sekali tidak terbersit akan berakhir seperti ini. Semuanya telah terjadi, tidak
mungkin diubah, meskipun Yang Mulia memafkan aku, aku tidak punya muka untuk
menjadi Ratu lagi. Aku sunggh menyesalinya, karena cemburu pada Bai Pinting aku
memperingati He Xia tentang rencana penyergapan. Bahkan jika Bai Pingting masuk
ke istana para selir, apa masalahnya, selama Yang Mulia bahagia. Hanya karena
seorang wanita, Gui Li menjadi kacau…. Aku, aku sungguh bodoh..”
Pundak
Ratu berguncang kencang seperti hendak jatuh berkeping-keping, ia menangis
hebat.
Sebagai
seorang Ratu, ia telah di besarkan dan tumbuh di dalam istana. He Su
satu-satunya pria dalam hatinya. Dulu, mereka menyantap hidangan terbaik,
dikelilingin para pelayan, membicarakan berbagai macam masalah setiap harinya,
termasuk juga tentang ayah dan kakak laki-lakinya. Tapi Ratu selalu menutupi
kebenarannya, ia hanya mengutamakan egonya sendiri.
Ketika
pakaian merahnya mulai memudar warnanya, dan ia mulai malas meyisir rambut
hitamnya sendiri. Ia memandang langit di balik istana dingin dengan pedih dan
mulai mengingat-ingat kenangan lalu, hari-hari yang paling di ingatnya.
Ia
ingat sekali ketika melangkah dengan hati-hati, masuk ke kediaman Putra Mahkota
untuk pertama kalinya. Bagaimana wajah He Su pertama kali di lihatnya, pria itu
mengangkat kain penutup wajahnya di malam pernikahan mereka. Ia juga ingat
betapa gembiranya ia ketika dengan penuh kasih berbisik di telinga He Su
tentang dirinya yang mengandung darah dagingnya. Dan ia ingat sekali bagaimana
ia didandani begitu megah untuk menerima segel Ratu di hadapan begitu banyak
orang.
Bagaimana
pasangan ini melangkah ke dalam ajang perebutan kekuasaan? Mengapa nasib
seperti ini? Padahal mereka telah terikat untuk seumur hidup, ikatan ini terus
menerus menjadi semakin kusut bahkan putus hanya karena sedikit sakit hati, apa
sama sekali tidak ada yang tersisa?
Ratu
begitu sedih seperti tubuhnya akan hancur. Lalu ia merasakan sentuhan lembut
dari pundaknya, sepasang tangan yang lembut.
Ratu
menegadah, He Su membantunya berdiri.
“Jangan
menangis lagi, Ratu, jujur, Le Zhen secara diam-diam membawa semua pasukan,
ibukota tanpa pasukan sama sekali. He Xia membawa pasukan Yun Chang sudah tiba
disini, kita terkepung total.”
Ratu
menjadi lebih terkejut, “Apa?” ia telah terkurung lama, tidak ada seorangpun
yang berani memberi kabar padanya, maka ia sama sekali tidak menduga situasinya
akan seburuk itu.
“Sebuah
kekuatan sama sekali tidak berarti, kalau sudah pasti akan kalah. Sebaiknya aku
tidak melakukan pertempuran ini. Besok di jam seperti ini, aku akan membuka
gerbang kota dan memberikan surat penyerahan diri kepada He Xia.” He Su
tersenyum pahit, “Istana dan ibukota sudah hampir hancur, mengapa aku tidak
memaafkan penghianatan Ratu dan Penasihat.”
Ratu
mendengar Raja berkata dengan sangat putus asa dan hilang harapan. Sikapnya
sangat berbeda dengan anak kecil yang penuh wibawa dulunya, dalam hatinya Ratu
merasa sangat menyesal. Suaranya sangat bergetar, “Kalau bukan karena
kesalahnku, Yang Mulia tidak akan menghadapi perselisihan dalam pemerintahan
dan masih miliki pasukan. Dengan begitu He Xia tidak akan bisa datang dengan
mudah. Aku…”
“Jangan
dilanjutkan.” He Su menyela ucapannya dan berkata dengan pelan, “Para pelayan
sedang memegang pakaian dan perhiasanmu di depan, mereka menunggumu di depan.
Seorang Ratu harus berpenampilan layak. Sudah begitu lama sejak terakhir kali
kau menemaniku minum. Malam ini, akan menjadi malam kita berdua saja, tidak
akan ada yang datang menganggu.”
Ratu
menatap He Su dan ia membungkuk, “Baik.”
He
Su berbalik beranjak pergi. Dan di depan pintu para pelayan sedang menungu.
Begitu Raja berlalu, para pelayan berhamburan masuk seperti ikan yang berenang
bersama-sama. Setiap pelayan memegang sebuah nampan. Di atas nampan di letakan pakaian
dan perhiasan kesukaan Ratu, juga bedak, perona pipi dan pemerah bibir.
“Ratu”
para pelayan berlutut ketika melihat wajah Ratu mereka yag telah lama
menghilang. Ekspresi para pelayan agak gelap karena bersedih. Berita tentang
Raja akan menyerahkan diri pada He Xia telah menyebar di seluruh istana.
Setelah
Ratu selesai mandi dan berpakaian, ia dengan hati-hati membentuk alis matanya.
Ia memastikan penampilannya seperti seorang dewi sebelum pergi ke kamar Raja.
He
Su sudah memerintahkan para pelayan menyiapkan makanan dan arak. Ia berada di
samping tirai manik-manik menyaksikan bulan di langit malam sambil meneguk
araknya.
Pemandangan
malam itu sangat indah, hidangan masih hangat, begitu juga dengan araknya.
Ketika tadi ia masih berada di istana dingin, situasi saat ini seperti mimpi
bagi Ratu. Ia hanya bisa menghela napas, nasib memang tak bisa ditebak.
Mereka
berdua, tenggelam dalam pemikiran masing-masing ketika duduk di depan meja
makan, dan menegak beberapa cangkir arak. He Su bertanya, “Mengapa Ratu diam
saja?”
“AKu….”
Wajah Ratu yang dipoles sempurna itu, menjadi bingung, “Tidak tahu harus
berkata apa.”
He
Su perlahan menoleh pada istrinya dan memandangnya lama, lalu ia tertawa, “Aku
baru saja berpikir, sejak kau menjadi Ratu, hari ini adalah penampilanmu yang
paling cantik.”
Medengar
pujian itu, hati Ratu yang terasa berat menjadi ringan untuk beberapa saat,
tubuhnya seperti di liputi kabut putih tipis. Ia menunduk ringan, “Seseorang
hanya bisa melihat dengan jelas ketika hatinya tanpa beban. Mungkin karena hari
ini, aku, tidak ada yang perlu, berpura-pura pada Yang Mulia.”
“Baguslah.”
He Su mengangkat cangkirnya, “Hari ini, Ratu mengingatkan aku ketika pertama
kali Ratu masuk ke kediamanku sewaktu aku masih Putra Mahkota. Waktu sungguh
berlalu sangat cepat, kita sudah menjadi suami istri selama bertahun-tahun.”
Suaranya terdengar lembut ketika ia mengingat kenangan itu.
Ekspresi
Ratu sangat terkejut dan tersentuh, “Yang Mulia masih mengingat bagaimana
penampilanku ketika pertama kali tiba di kediaman Putra Mahkota?”
“Bagaimana
mungkin bisa dilupakan.”
“Sungguh…”
Ratu menggerakkan tangannya, membelai rambutnya, dan ia berkata pelan, “Jujur,
aku juga selalu mengingatnya.”
Di
kediaman Putra Mahkota He Su, saat itu.
Dipenuhi
suara musik yang indah, senda gurau dan tawa, juga irama kecapi.
Sekelompok
anak-anak muda dari keluarga terpandang di wilayah Gui Li. Mereka berlatih
pedang, bermain kecapi dan membahas masalah-masalah seni, sastra juga politik.
Begitu yang satu bertepuk tangan yang lain menyambut dengan tepuk tangan pula,
dan begitu yang satu bercanda yang lain menimpali dengan candaan lain. Yangfeng
selalu berada di kediaman Putra Mahkota, sedangkan He Xia dan Pingting selalu
datang berkala.
Keluarga
Le menerapkan peraturan yang sangat ketat. Ia adalah calon istri Putra Mahkota
karena itulah statusnya berbeda dengan yang lainnya. Ia tidak bisa ikut
bercanda dan berpatisipasi dalam permainan mereka, hanya bisa bersandar di
tembok yang berat dan mendengarkan suara tawa yang terdengar samar.
Dulu.
Raja
mengingat masa lalu mereka.
Tapi,
apa Suami Ratu Yun Chang itu, He Xia, pemimpin pasukan yang sedang mengepung
ibukota Gui Li saat ini, juga masih mengingatnya?
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar