Jumat, 25 Agustus 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.65

-- Volume 3 chapter 65 --



Dong Lin, di dalam sebuah lembah tersembunyi.

Chu Beijie dan Pingting serta rombongannya sedang menyalakan kembali semangat yang telah hancur. Setelah diskusi militer selesai, setiap Jendral, masing-masing telah memiliki tugasnya ketika mereka melangkah keluar tenda. Langkah kaki mereka menjadi ringan dan mantap.

Tapi mereka juga sangat mengerti resiko yang harus dihadapi. Rencana Panglima Zhen Beiwang dan Pingting sangat berbahaya. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun.

Setelah pertemuan selesai, Chu Beijie menarik Pingting menjauh dari kerumuman ke sudut tenda. “Bagaimana mungkin penasibat Bai tidak menemaniku setelah menunjukan kehebatannya yang luar biasa itu?”

Pingting berbalik dan tersenyum, “Jangan lupakan taruhan kita. Pingting sudah memenangkannya, jadi Tuan tidak boleh menyentuh tangan Pingting selama sepuluh hari.”

Mata Chu Beijie bersinar, tanpa ragu ia mengeluarkan pedangnya dari sarungnya di pinggangnya. Ia menyerahkannya pada Pinting, “Kalau begitu Pingting boleh melukaiku sepuluh kali, menggantikan janji sepuluh hari.”

Pingting segera memasukan pedangnya kembali ke dalam sarungnya dan menggerutu, “Rencana Tuan untuk berikap menyedihkan tidak akan berhasil. Tuan yang mulai memancing Pingting terlebih dahulu, padahal sudah memiliki peta kota Qierou diam-diam. Tuan berencana menguji Pingting, sangat terlihat jelas. Bagaimana kalau Pingting tidak mampu menjawab, Pingting akan mempermalukan diri sendiri?”

Chu Beijie berkata pelan, “Apanya yang bersikap menyedihkan. Tidak bisa menyentuhmu selama sepuluh hari ketika kau berada di depanku, jauh lebih menyakitkan daripada di iris pedang. Sungguh menyiksa, sakitnya berasal dari dalam. Aku lebih suka mengambil cara yang mudah, sebanding dan tepat” wajah tampan Chu Beijie terlihat sangat tulus.

Hati Pingting bergetar karena kata-katanya. Ia meundukkan kepalanya, diam agak lama, sampai akhirnya ia berkata dengan suara seperti berbisk, “Bahkan jika Tuan bisa menghilangkan perjanjian sepuluh hari, Tuan tidak seharusnya memegang tangan Pingting setiap hari di setiap saat-saat penting” Pingting berpikir sejenak teringat kembali kejadian tadi dan menjadi sedikit marah. Ia cembetut sambil berkata, “Tuan sudah keterlaluan, mendesak Pingting sampai Pingting harus membuat taruhan seperti itu. Pingting akan membalas Tuan.” Mata Pingting menjadi bersinar menatap Chu Beijie dengan perasaan kesal dan cinta.

Chu Beijie melihat ekspresi lembut di wajah Pingting. Ia tersenyum sambil berbisik, “Katakan, kemana kau akan pergi?”

Mendengarnya Pingting wajah Pingting menjadi sedikit muram. Ia berkata pelan, “Aku harus mencari si jenius Tabib Huo. Zuiju….” Matanya mulai memerah.

Hati Chu Beijie terbakar rasa sakit.

Setelah pertemuan mereka, Pingting mulai mengingat kembali kenangan-kenangan lamanya, dan ia kadang mengutarakannya. Setiap kali Pingting melakukannya, ia hanya bicara sedikit tidak berniat menjelaskannya.

Tapi Chu Beijie sangat mengerti, penderitaannya sama sekali belum hilang. Kematian Zuiju adalah salah satu hal yang paling menyiksanya.

Saat itu, apa yang sebenarnya terjadi di gunung Songseng, yang menyebabkan tragedi seperti ini?

Apa anak mereka juga terkubur di bawah salju yang begitu putih?

Tapi ia tidak berani bertanya pada Pingting apakah anak mereka benar-benar mati atau tidak. Bagi Pingting, hal ini pasti merupakan penderitaan yang tak mampu di tahannya.

“Aku akan menemanimu.” Chu Beijie menggengam erat tangan Pingting.

Pingting perlahan menggelengkan kepalanya, “Maaf Tuan, Pingting ingin menyampaikan pada Tabib Huo sendiri saja.”

“Pingting…”

“Kalau Pingting memang benar-benar membutuhkan sesuatu…” Pingting menatap mata Chu Beijie “Tuan, pasti akan berada di sisi Pingting, ya kan?”

Chu Beijie benar-benar tak berdaya menghadapi tatapannya. Keberaniannya sebagai seorang pahlawan seperti menghilang tanpa jejak ketika ia berjanji dengan sungguh-sungguh. “Pasti”

Pingting tersenyum. Ia perlahan menarik tangannya dari genggaman Chu Beijie, dan berbalik meninggalkannya.

Chu Beijie berdiri menyaksikan Pingting keluar dan menjauh dari tenda. Dan ketika kesadarannya mulai kembali, ia menyadari seseorang sedang memperhatikan dirinya.

Chu Beiji bukan orang biasa, ketika ada seseorang memperhatikannya, tubuhnya secara reflek memperingatinya. Ia berbalik dan tertawa kecil. “Kalau kakak ipar ingin tertawa, silakan saja. Seperti pepatah mengatakan, selalu ada hal yang perlu ditaklukan. Aku tak pernah bisa melakukan apapun di depan Bai Pingting.”

Para Jendral di dalam tenda sudah pergi, tapi Ratu masih berada di sana, duduk di atas sebuah kursi. Ia tertawa sambil tersenyum, “Tuan besar Zhen Beiwang sepertinya sangat kesal. Bersikap menyedihkan sungguh pilihan yang bagus. Tapi mengapa kau mengatakan – tak bisa melakukan apapun? Kelembutan selalu menjadi titik lemah seorang pahlawan, seorang wanita yang melawan kekasihnya pasti akan berakhir seperti Tuan Zhen Beiwang.” Tatapan Ratu melayang jauh melewati tirai tenda. Seperti bercampur dengan angin dan langit, melayag melewati ribuan kilometer, mencapai istana Dong Lin yang dulunya berdiri megah dan mewah.

Ia mengingat, arak yang paling bagus, makanan istimewa, dan hall utama yang dihias dari emas. Semua itu terasa seperti khayalan.

Ia telah menemani Raja selama betahun-tahun, tapi hal yang paling diingatnya adalah saat kematiannya.

Ia bukan hanya seorang Ratu tapi juga istri dari pria itu.

Setelah melihat kematian Raja Dong Lin di depan matanya, ia baru menyadari perasaan yang mengikat mereka berdua.

Bukan karena Dong Lin, atau istana kerajaan, juga bukan karena status Raja dan Ratu.

Tapi karena mereka suami istri, pria dan wanita.

Karena peraturan tata tertib istana, ia sering sekali tak mampu menahan kenginannya untuk menggenggam tangan pria itu dan memeluknya, tapi ia selalu memikirkan statusnya sebagai Ratu. Ia menahan keinginannya sekuat tenaganya.

“Kakak ipar?”

“Eh?” Ratu berguman, kesadarannya kembali. Ia berkata, “Tuan besar Zhen Beiwang, mendekatlah,”

Chu Beijie melangkah dua kali, dan duduk di sampingnya.

“Apa kau berencana membuat prajurit Dong Lin sebagai bagian dari Pasuan Ting?” Ratu bertanya.

Chu Beijie memang berniat membahas hal ini sampai jelas dengan kakak iparnya. Ia mengangguk sambil berkata, “Benar.”

“Pasukan Ting…” Ratu berkata sambil menahan ucapannya lalu ia tersenyum kecut, “Hari itu Raj pernah berkata kalau, Zhen Beiwang terlalu tulus sebagai seorang pria, ia sama sekali tidak cocok untuk kehidupan istana yang kejam. Hal itulah yang paling dikhawatirkan oleh Raja, dan sekarang, entah aku harus khawatir atau bergembira atas status Tuan besar Zhen Beiwang saat ini. Lagi pula, tanpa rasa cinta yang besar terhadap Bai Pingting bagaimana mungkin Panglima Zhen Beiwang, bisa secara hebat membentuk Pasukan Ting yang bersedia melawan He Xia?” kemudian Ratu mengubah pembicaraan, “Aku ingin memastikan masalah ini, karena prajurit Dong Lin menjadi Pasukan Ting…. Dan kalau Pasukan Ting berhasil memenangkan pertempuran, Tuan besar Zhen Beiwang pasti akan memiliki kekuasaan paling besar, lantas bagaimana nasib Dong Lin?”

Chu Beijie diam sejenak, ia mengertakan giginya, “Jujur, kakak ipar, aku akan membuat negara baru dengan nama baru”

“kalau begitu, Dong Lin….”

“Dong Lin sudah menjadi masa lalu. Aku tidak melakukan ini untuk Dong Lin melainkan untuk memberikan Pingting tempat yang damai untuk hidup. Kalau Dong Lin menerima semua keuntungan setelah semua ini selesai, maka Dong Lin akan secara resmi dianggap menaklukan tiga negara. Kalau seperti itu apa bedanya dengan He Xia? Tiga negara lainnya akan menyimpan kemarahan dalam hati mereka dan menunggu waktu yang tepat untuk memberontak. Tidak akan ada kedamaian yang sebenarnya.” Mata Chu Beijie menjadi lebih lembut ketika melanjutkan, “Ini janjiku pada Pingting, dan tidak berubah.”

Tatapan mata Ratu menjadi tajam dan memperhatikan Chu Beijie dengan seksama.

Chu Beijie tidak menghindari tatapan Ratu barang sedetikpun. Ia berkata dengan sedih, “Kalau kakak ipar marah, silakan menghukum Chu Beijie, tapi keputusanku sudah bulat.”

Ratu memandang Chu Beijie lama sekali sampai akhirnya sorot matanya mulai melembut. Ia berkata dengan lemah, “Pokok dari sebuah negara adalah rakyat. Benar bukan?”

“Kakak ipar?” Chu Beijie terkejut.

“Dimana kau bisa menemukan dinding yang tidak membiarkan angin melewatinya? Percakapan antara Tuan Putri Yaotian dan Panglima Zhen Beiwang, sesaat sebelum peperangan di perbatasan Yun Chan, telah membuat banyak orang bertanya-tanya” Ratu perlahan tersenyum, “Ketika istana Dong Lin terbakar, aku selalu berpikir, seperti apa negara Dong Lin ketika pertama kali terbentuk. Mungkin terdiri dari beberapa kumpulan orang-orang yang tidak ragu mengucurkan darah mereka demi berkumpul kembali dengan istri dan anak, agar bisa menjalani kehidupan bahagia setiap harinya.”

Mengapa setelah ratusan tahun, kenyataan bahwa yang membentuk sebuah negara adalah rakyat malah dilupakan?

Ratusan ribu rakyat, ratusan ribu kematian, semuanya telah kacau balau.

Ratu perlahan menatap mata Chu Beijie kembali. Ia menghela napas, dan membuat sebuah keputusan, “Negara memang penting, tapi apa hal itu membuat sebuah nyawa menjadi tidak berharga? Tanpa rakyat yang hidup dengan damai, sebuah negara sama saja sudah binasa. Panglima Zhen Beiwang, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan.”

Chu Beijie tidak menyangka Ratu akan membuat keputusan secepat itu. Ia dengan segera bangkit dan berlutut di hadapan Ratu, “Aku, selamanya akan mengingat kemurahan hati kakak ipar.” Chu Beijie benar-benar sama sekali tidak menyangka, halangan yang berat ini akan dilewatinya dengan lancar.

“Pergilah, persiapkan perangmu, agar sebuah nyawa tidak lagi di injak-injak, kembalikan kedamaian kedunia ini.” Bibir Ratu tertarik ke atas menampilkan sebuah senyuman dan harapan. “Rakyat atau keluarga Raja, memiliki harapan yang sama. Sebagai seorang manusia yang memiliki hak untuk diperlakukan selayaknya manusia, kita semua seharusnya tahu kalau nyawa kita sangat berharga dan tidak seharusnya menginjak-injak yang lain seperti seekor semut”

Panglima Zhen Beiwang akan membentuk sebuah kekaisaran baru.

Sebuah kekaisaran yang tidak berasal dari militer, setiap penduduknya akan tahu bagaimana menghargai diri mereka dan tidak memandang rendah diri sendiri.

Mereka tidak akan melihat yang lainnya sebagai boneka atau alat atau yang lainnya.

Mereka tidak akan pernah di paksa untuk turun ke medan perang.

Dan ketika ada ancaman perang, mereka bisa memilih untuk maju berjuang melindungi negara atas kemauan sendiri, seperti pasukan Ting saat ini.

Dan jika darah merah mereka mengalir di medan perang, setiap tanah yang dilewatinya akan tumbuh rumput hijau yang rimbun di kemudian hari.

“Bai Pingting,” Ratu menegadah tatapanya seakan melihat langit, “Sungguh wanita yang luar biasa.”

--
Gui Li, senja mulai tiba.

Tidak ada lagi wangi harum yang lembut, ataupun kumbang dan kupu-kupu untuk dipandangi bagi orang yang berada di istana dingin.

Kunci yang tidak tersentuh setelah beberapa lama mulai bersuara pelan. Ratu Gui Li yang mengenakan pakaian compang-camping perlahan mengangkat kepalanya. Ia melihat sosok yang sangat di kenalnya.

Raja Gui Li, He Su, melangkah masuk melewati pintu. “Kakak laki-lakimu Le Zhen telah dikalahkan oleh Fei Zhaoxing. Karena takut pasukan Yun Chang akan menyerang lagi, ia memimpin pasukan yang tersisa melarikan diri, jauh sekali dari ibukota.”

Nada suaranya tenang, sama sekali tidak ada kemarahan.

Ratu telah di tahan selam beberapa hari, ini pertama kalinya ia mendengar kabar tentang kakak laki-laknya. Ia diam sejenak sebelum akhirnya berkata dengan dingin, “Apa kedatangan Yang Mulia untuk menganugrahkan kematian untukku.”

He Su tidak bersuara. Ia berjalan mendekati istrinya dan menyadari, setelah sekian lama ternyata ia masih menyimpan perasaan padanya, lalu ia memegang dagunya.

“Ratu, apa kau tidak ingin melihat Shao Er?” Raja bertanya.

Ratu sangat terkejut mendengar pertanyaan itu, ia memandang He Su dengan tidak percaya. “Yang Mulia… akan mengijinkan aku melihat Shao Er?” Anaknya adalah seluruh hatinya, suaranya sangat bergetar.

“Mengapa aku tidak mengijinkanmu?” He Su menghela napas.

Ratu tahu ia akan mati, kemungkinan dengan racun, entah dengan pisau atau arak. Ia telah membuat keputusan untuk menerima semua itu. Tapi ia sama sekali tidak menyangka, He Su sendiri yang datang. kata-kata dan tindakannya sangat diluar perkiraan. Hatinya jadi melemah, karena mereka telah menikah selama bertahun-tahun dan ia menyebut anak mereka. Wajahnya tidak lagi menampakan ekspresi dingin, ia menundukan kepala ketika berkata, “Aku diam-diam membocorkan rahasia rencana penyergapan Yang Mulia, ayahku memonopoli kekuasaan, dan kakakku, menentang titah dan menggunakan pasukan untuk melawan Yang Mulia. Hukuman bagi keluarga Le …… yang sepatutnya, adalah kematian.”

“Ratu sudah tahu kesalahan sendiri?” He Su memikirkan situasi Gui Li saat ini dan ia tertawa dingin. Lalu ia melihat Ratu semakin menuduk rendah, dan He Su mulai melembut, “Berdirilah, aku memaafkan kesalahanmu. Kau diperintahkan untuk kembali ke istana kerajaan dan kembali memimpin di istana belakang.”

“Apa?” Ratu mengangkat kepalanya dengan terkejut.

Le Zhen memimpin pasukan melarikan diri dari ibukota sama saja dengan memberontak. Ini kejahatan paling berat terhadap istana, kesalahan yang tidak bisa diampuni.

Tapi ekspresi He Su sama sekali tidak menampakan sedang bercanda.

Istana dingin sangat gelap ketika malam. Sosok He Su yang berdiri di depan pintu berada sangat dekat dengannya tapi Ratu seakan tidak bisa melihat dirinya, seperti penampakan dari sebuah bayangan yang samar.

Ratu berpkir kalau hubungannya dengan suaminya telah hancur sampai sampai ke titik tidak mungkin di perbaiki. Ia menundukan kepalanya lagi dan berkata sambil mengatup rapat giginya, “Raja tetap harus membunuhku. Aku menikah dan masuk ke dalam istana sejak usiaku lima belas. Ketika Yang Mulia meneruskan taktah, aku juga di nobatkan sebagai Ratu. Mengingat bagimana kisah cinta kita dulu, sama sekali tidak terbersit akan berakhir seperti ini. Semuanya telah terjadi, tidak mungkin diubah, meskipun Yang Mulia memafkan aku, aku tidak punya muka untuk menjadi Ratu lagi. Aku sunggh menyesalinya, karena cemburu pada Bai Pinting aku memperingati He Xia tentang rencana penyergapan. Bahkan jika Bai Pingting masuk ke istana para selir, apa masalahnya, selama Yang Mulia bahagia. Hanya karena seorang wanita, Gui Li menjadi kacau…. Aku, aku sungguh bodoh..”

Pundak Ratu berguncang kencang seperti hendak jatuh berkeping-keping, ia menangis hebat.

Sebagai seorang Ratu, ia telah di besarkan dan tumbuh di dalam istana. He Su satu-satunya pria dalam hatinya. Dulu, mereka menyantap hidangan terbaik, dikelilingin para pelayan, membicarakan berbagai macam masalah setiap harinya, termasuk juga tentang ayah dan kakak laki-lakinya. Tapi Ratu selalu menutupi kebenarannya, ia hanya mengutamakan egonya sendiri.

Ketika pakaian merahnya mulai memudar warnanya, dan ia mulai malas meyisir rambut hitamnya sendiri. Ia memandang langit di balik istana dingin dengan pedih dan mulai mengingat-ingat kenangan lalu, hari-hari yang paling di ingatnya.

Ia ingat sekali ketika melangkah dengan hati-hati, masuk ke kediaman Putra Mahkota untuk pertama kalinya. Bagaimana wajah He Su pertama kali di lihatnya, pria itu mengangkat kain penutup wajahnya di malam pernikahan mereka. Ia juga ingat betapa gembiranya ia ketika dengan penuh kasih berbisik di telinga He Su tentang dirinya yang mengandung darah dagingnya. Dan ia ingat sekali bagaimana ia didandani begitu megah untuk menerima segel Ratu di hadapan begitu banyak orang.

Bagaimana pasangan ini melangkah ke dalam ajang perebutan kekuasaan? Mengapa nasib seperti ini? Padahal mereka telah terikat untuk seumur hidup, ikatan ini terus menerus menjadi semakin kusut bahkan putus hanya karena sedikit sakit hati, apa sama sekali tidak ada yang tersisa?

Ratu begitu sedih seperti tubuhnya akan hancur. Lalu ia merasakan sentuhan lembut dari pundaknya, sepasang tangan yang lembut.

Ratu menegadah, He Su membantunya berdiri.

“Jangan menangis lagi, Ratu, jujur, Le Zhen secara diam-diam membawa semua pasukan, ibukota tanpa pasukan sama sekali. He Xia membawa pasukan Yun Chang sudah tiba disini, kita terkepung total.”

Ratu menjadi lebih terkejut, “Apa?” ia telah terkurung lama, tidak ada seorangpun yang berani memberi kabar padanya, maka ia sama sekali tidak menduga situasinya akan seburuk itu.

“Sebuah kekuatan sama sekali tidak berarti, kalau sudah pasti akan kalah. Sebaiknya aku tidak melakukan pertempuran ini. Besok di jam seperti ini, aku akan membuka gerbang kota dan memberikan surat penyerahan diri kepada He Xia.” He Su tersenyum pahit, “Istana dan ibukota sudah hampir hancur, mengapa aku tidak memaafkan penghianatan Ratu dan Penasihat.”

Ratu mendengar Raja berkata dengan sangat putus asa dan hilang harapan. Sikapnya sangat berbeda dengan anak kecil yang penuh wibawa dulunya, dalam hatinya Ratu merasa sangat menyesal. Suaranya sangat bergetar, “Kalau bukan karena kesalahnku, Yang Mulia tidak akan menghadapi perselisihan dalam pemerintahan dan masih miliki pasukan. Dengan begitu He Xia tidak akan bisa datang dengan mudah. Aku…”

“Jangan dilanjutkan.” He Su menyela ucapannya dan berkata dengan pelan, “Para pelayan sedang memegang pakaian dan perhiasanmu di depan, mereka menunggumu di depan. Seorang Ratu harus berpenampilan layak. Sudah begitu lama sejak terakhir kali kau menemaniku minum. Malam ini, akan menjadi malam kita berdua saja, tidak akan ada yang datang menganggu.”

Ratu menatap He Su dan ia membungkuk, “Baik.”

He Su berbalik beranjak pergi. Dan di depan pintu para pelayan sedang menungu. Begitu Raja berlalu, para pelayan berhamburan masuk seperti ikan yang berenang bersama-sama. Setiap pelayan memegang sebuah nampan. Di atas nampan di letakan pakaian dan perhiasan kesukaan Ratu, juga bedak, perona pipi dan pemerah bibir.

“Ratu” para pelayan berlutut ketika melihat wajah Ratu mereka yag telah lama menghilang. Ekspresi para pelayan agak gelap karena bersedih. Berita tentang Raja akan menyerahkan diri pada He Xia telah menyebar di seluruh istana.

Setelah Ratu selesai mandi dan berpakaian, ia dengan hati-hati membentuk alis matanya. Ia memastikan penampilannya seperti seorang dewi sebelum pergi ke kamar Raja.

He Su sudah memerintahkan para pelayan menyiapkan makanan dan arak. Ia berada di samping tirai manik-manik menyaksikan bulan di langit malam sambil meneguk araknya.

Pemandangan malam itu sangat indah, hidangan masih hangat, begitu juga dengan araknya. Ketika tadi ia masih berada di istana dingin, situasi saat ini seperti mimpi bagi Ratu. Ia hanya bisa menghela napas, nasib memang tak bisa ditebak.

Mereka berdua, tenggelam dalam pemikiran masing-masing ketika duduk di depan meja makan, dan menegak beberapa cangkir arak. He Su bertanya, “Mengapa Ratu diam saja?”

“AKu….” Wajah Ratu yang dipoles sempurna itu, menjadi bingung, “Tidak tahu harus berkata apa.”

He Su perlahan menoleh pada istrinya dan memandangnya lama, lalu ia tertawa, “Aku baru saja berpikir, sejak kau menjadi Ratu, hari ini adalah penampilanmu yang paling cantik.”

Medengar pujian itu, hati Ratu yang terasa berat menjadi ringan untuk beberapa saat, tubuhnya seperti di liputi kabut putih tipis. Ia menunduk ringan, “Seseorang hanya bisa melihat dengan jelas ketika hatinya tanpa beban. Mungkin karena hari ini, aku, tidak ada yang perlu, berpura-pura pada Yang Mulia.”

“Baguslah.” He Su mengangkat cangkirnya, “Hari ini, Ratu mengingatkan aku ketika pertama kali Ratu masuk ke kediamanku sewaktu aku masih Putra Mahkota. Waktu sungguh berlalu sangat cepat, kita sudah menjadi suami istri selama bertahun-tahun.” Suaranya terdengar lembut ketika ia mengingat kenangan itu.

Ekspresi Ratu sangat terkejut dan tersentuh, “Yang Mulia masih mengingat bagaimana penampilanku ketika pertama kali tiba di kediaman Putra Mahkota?”

“Bagaimana mungkin bisa dilupakan.”

“Sungguh…” Ratu menggerakkan tangannya, membelai rambutnya, dan ia berkata pelan, “Jujur, aku juga selalu mengingatnya.”

Di kediaman Putra Mahkota He Su, saat itu.

Dipenuhi suara musik yang indah, senda gurau dan tawa, juga irama kecapi.

Sekelompok anak-anak muda dari keluarga terpandang di wilayah Gui Li. Mereka berlatih pedang, bermain kecapi dan membahas masalah-masalah seni, sastra juga politik. Begitu yang satu bertepuk tangan yang lain menyambut dengan tepuk tangan pula, dan begitu yang satu bercanda yang lain menimpali dengan candaan lain. Yangfeng selalu berada di kediaman Putra Mahkota, sedangkan He Xia dan Pingting selalu datang berkala.

Keluarga Le menerapkan peraturan yang sangat ketat. Ia adalah calon istri Putra Mahkota karena itulah statusnya berbeda dengan yang lainnya. Ia tidak bisa ikut bercanda dan berpatisipasi dalam permainan mereka, hanya bisa bersandar di tembok yang berat dan mendengarkan suara tawa yang terdengar samar.

Dulu.

Raja mengingat masa lalu mereka.

Tapi, apa Suami Ratu Yun Chang itu, He Xia, pemimpin pasukan yang sedang mengepung ibukota Gui Li saat ini, juga masih mengingatnya?

--00--

Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar