Senin, 31 Agustus 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.20

-- Volume 1 chapter 20 --

Chu Beijie memimpin pasukannya memasuki hutan dan memilih sebuah tempat terbuka untuk beristirahat singkat. Ia mengirim mata-mata terbaiknya untuk mengetahui pergerakan pasukan Bei Mo.

Bersama Moran, mereka berada di tenda utama komandan, lalu mengelar peta dan mulai mempelajarinya.

“Hutan mengelilingi Kanbu sekitar beberapa hektar. Beberapa tempat sama sekali belum tersentuh. Artinya pasukan Bei Mo tak akan masuk begitu dalam. Tempat terbaik untuk mereka beristirahat disini, disini, dan disini.” Tangan Chu Bejie menunjuk tiga gambar bentuk gunung berturut-turut.

Moran setuju. “Pasuka Bei Mo berkisar lima puluh ribu, jadi agak sulit bagi mereka untuk sepenuhnya menghilang di dalam hutan, dengan waktu yang begitu singkat. Mata-mata kita pasti segera menemukan lokasi mereka. Bagaimanapun, kalau mereka memang menetap di gunung untuk bertahan, perang ini tak akan berakhir cepat.”

Chu Beijie tersenyum dan bertanya dengan ramah, “Apa Moran tahu mengapa aku hanya membawa sepuluh ribu prajurit.”

Dengan pertanyaan ini, Moran mulai mengerti. “Tuan ingin menyerang lebih dahulu?”

“Pasukan Bei Mo dan pasukanku telah bertempur beberapa saat tanpa hasil. Mereka butuh kemenangan besar untuk menaikkan semangat mereka.” Senyum kegembiraan Chu Beijie sulit ditebak. Ia kembali melihat peta dan menujuk sebuah gunung tinggi di arah selatan.

“Kalau perkiraanku benar, Pingting seharusnya meletakan pasukannya disini.”

“Tuan baru saja berkata ada tiga gunung yang memungkinkan, jadi mengapa Tuan begitu yakin kalau mereka berada di gunung yang ini?”

“Walaupun ada tiga kemungkinan, yang satu ini sangat cocok dengan Pingting.”

Moran hendak bertanya lagi ketika sebuah suara terdengar dari luar tenda, “Tuan aku sudah menemukan lokasi pasukan Bei Mo.”

“Masuklah dan katakan.”

Prajurit mata-mata masuk dan melaporkan, “Pasukan Bei Mo saat ini menempatkan diri di daerah Gunung Dianqing. Tempat yang sangat berbahaya, dan menurut peta, terdapat sebuah sungai kecil yang berarus kuat yang sepertinya sumber dari beberapa air terjun yang terdapat di sekitar sini.”

Terkejut, Chu Beijie lalu bertanya, “Kalau Moran adalah penasihat pasukan Bei Mo, bagaimana kau akan menyerang sepuluh ribu prajuritku?”

Moran sudah terbiasa dengan perang, maka ia tahu jawabannya.

“Prinsip utama perang adalah meletakan pasukan di dekat sumber air, agar para prajurit dan kuda mereka mudah mendapatkan air. Kalau aku penasihat pasukan Bei Mo, aku akan mencari sumber utama air terjun lalu menuangkan racun untuk mengguragi semangat tempur pasukan musuh.”

“Rencana ini hanya akan berhasil dengan pemikiran bahwa aku tidak mengerti tata letak daerah ini. Pingting pasti berpikir kalau aku begitu sibuk dengan prajurit dan tidak mengerti hutan ini dengan baik. Aku selalu mempelajari tata letak tempat yang kutuju. Aku memeriksa peta sebanyak mungkin, yang bisa di dapatkan.” Chu Beijie tersenyum meringis. “Aku menduga ia akan meracuni air malam ini. Lalu, pasukannya akan bergerak turun dan mengepung sepuluh ribu prajuritku.”

Moran mempelajari ekpresi wajah Chu Beijie dan ia menyadari apa yang akan terjadi. “Tolong keluarkan perintah anda Tuan.”

Chu Beijie menyingkap tirai tenda dan memandang awan yang bergerak di balik gunung yang jauh. Pikirannya seperti terbang jauh ketika suara dalamnya berkata dengan hati-hati, “Pingting mungkin punya rencana sendiri, tapi ia akan berpikir kalau pertempuran akan terjadi di bawah gunung. Maka tak banyak prajurit yang tersisa di atas, kita ambil kesempatan ini untuk mengejutkannya.”

Ia berbalik dan berkata. “Lanjutkan perintahku, setiap orang harus menebang cabang pohon dan membuat boneka pengganti dirinya, lalu pakaikan senjata di boneka itu. Malam ini, atur boneka-boneka itu di luar tenda dan buat seperti sedang tertidur, tidak siap untuk pertempuran.

Moran segera bergegas keluar untuk menyampaikan perintah.

Para prajurit di luar dengan segera menjadi sibuk. Tak berapa lama kemudian, Moran segera kembali dan melaporkan, “Tuan, tugas sudah selesai dikerjakan.”

Chu Beijie mengangguk dan mengambil senjatanya. Dengan pedang di tangan, ia keluar dari tenda.

“Naik ke kuda kalian, ambil jalur Lembah Awan dan tangkap Jendral Bei Mo!”

Seluruh pasukan menjawab “Baik!” dan bergegas pergi, meninggalkan tenda yang kosong dan sekitar sembilan ribu boneka prajurit di belakang.

Sepuluh ribu prajurit dengan diam-diam mendekati Gunung Dianqing, tersembunyi di balik pepohonan. Gerakan mereka begitu tenang, mereka bahkan bernapas tanpa mengeluarkan suara. Mereka segera berhenti ketika mencapai kaki gunung Dianqing, siap untuk melewati jalur Lembah Awan yang tidak menyenangkan, dimana Pingting berada.

Kembali ke pasukan Bei Mo, segalanya sesuai dengan perkiraan Chu Beijie.

Pingting meletakan sebagian besar pasukan dekat dengan sumber air. Tenda-tenda di dirikan dekat dengan puncak, sehingga memiliki pandangan yang jelas kesekitar mereka.

Semua Jendral lain sedang beristirahat bersama pasukan mereka. Saat ini, hanya Pingting, Ze Yin dan Rouhan yang berada di tenda utama. Mereka bertiga duduk melingkar, mempelajari peta paling rinci yang bisa mereka dapatkan.

“Rencana bagus!” Ze Yin menepuk lututnya sebagai pujian. “Nona sungguh lawan yang kuat yang bisa dihadapi Chu Beijie. Ini pertama kalinya Dong Lin memasuki hutan ini, seharusnya mereka tidak terlalu kenal daerah ini. Menuangkan racun ke air sungai sebelum mereka menyadarinya, lalu Ze Yin pergi menyerang markas utama mereka sementara mereka masih keracunan. Humph, Aku harap Chu Beijie berada di dalam kelompok sepuluh ribu prajurit itu jadi ia bisa tahu kalau pria Bei Mo sangat kuat.”

Ekspresi kagum terlihat di wajah Rouhan ketika ia berkata, “Nona mengerti Chu Beijie dengan begitu baik. Nona pasti akan menjadi penasihat militer wanita yang terkenal di empat negara.”

Ekspresi Pingting tidak berubah dan tidak bergeming, hanya terlihat seperti marah tapi juga pedih.

Ia menghela napas. “Jendral jangan senang dulu. Rencana yang Pingting buat mungkin berhasil jika melawan orang lain, tapi takkan berguna jika lawanmu Chu Beijie.”

Ze Yin sedang tertawa ketika Pingting berkata seperti itu. Dan tawanya terhenti. “Mengapa begitu?”

“Chu Beijie adalah Jendral terkuat di dunia saat ini, dan caranya berpikir mencakup segalanya. Jangan lupa kalau ia pernah mengirim prajuritnya untuk menangkap tawon beracun jadi bukankah tidak mungkin kalau ia juga tidak mengirimkan beberapa orang untuk menyelidiki tata letak daerah ini? Menganggap enteng musuh adalah serangan mematikan bagi para pemimpin. Pingtign akan menyebabkan kekalahan besar-besaran kalau ia berpikir bahwa, Chu Beijie akan begitu mudah diserang dengan meracuni sumber air.”

Rouhan menjadi pucat. “Chu Beijie sehebat itu? Lalu apa yang akan kita lakukan?”

Mata Pingting kembali ke arah peta. Ia tersenyum manis. “Begitu Chu Beijie mengetahui dari mata-matanya bahwa kita berada di Gunung Dianqing, maka ia akan segera tahu bahwa kita meracuni airnya. Jujur, mengapa Pingting memilih gunung ini, agar ia mendapatkan kesan seperti itu.”

Setelah Pingting menyelesaikan perkataannya yang bersemangat, ia menarik napas panjang. Pipinya bersemu merah, dan ia memutar bola matanya yang sebening kristal hitam sebelum akhirnya berkata. “Begitu Chu Beijie berpikir bahwa ia telah mengetahui rencanaku, ia akan membuat boneka prajurit dan akan mencari jalur yang tidak terpikirkan oleh kita untuk melakukan penyerangan pada tenda komando yang hampir kosong.”

Ze Yin dan Rouhan tahu, apa yang diperkirakan Pingting tepat sekali.

Janggut Ze Yin bergerak ke atas lalu ke bawah lagi, kemudian ia berkata, “Kita bisa menempatkan banyak pasukan dekat tenda komando, lalu menghacurkan pasukan Chu Beijie.”

Pingting bagaimanapun, harus menggelengkan kepala atas ide ini, “Itu bukan saran yang baik. Gunung Dianqing adalah tempat yang paling tepat untuk penyergapan.”

“Ada sesuatu yang ingin kupastikan.” Rouhan bersuara mengemukakan pertanyaan dalam benaknya. “Anda berkata, Chu Beijie akan memilih jalur yang tidak terduga, menurut anda jalur mana?”

“Terima kasih untuk sarannya Komandan Rouhan.” Pingting berkata dan kemudian menunjuk sebuah jalur pada peta.

Ze Yin dan Rouhan menunduk melihat ke arah peta dan mereka terkejut.

Setelah beberapa saat, Rouhan akhirnya bisa bernapas kembali, “Chu Beijie sungguh berani, membawa sepuluh ribu pasukannya melewati jalur Lembah Awan yang terkenal berbahaya. Dia sungguh pemberani, huh. Tapi, kalau kita tidak bisa menebak langkahnya itu, jelas rencananya akan berhasil.”

“Ia senang melakukan rencana diluar dugaan. Kali ini, ia akan merasakan racunnya sendiri.” Ze Yin berkata menyeringai. “Aku akan segera membawa pasukan untuk menyergapnya dari belakang. Aku yakin itu akan membuatnya sangat terkejut.”

Ia memberi hormat pada Pingting seraya berkata, “Tolong berikan perintahmu, Penasihat Utama.”

Pingting tersenyum dan memnyerahkan bendera komando. Lalu dengan suara jernih ia berkata, “Dengar, Jendra Utama Ze Yin, aku, sebagai Penasihat Utama memerintahkanmu untuk turun gunung dan menutup jalur pelarian musuh. Kepung mereka dari belakang, seharusnya saat ini mereka masih berada di sisi sebelah gunung ini, Gunung Bilei.” Setelah selesai mengatakan itu, ia merasa sedikit tidak nyaman lalu menambahkan dengan suara pelan. “Walaupun pasukan kita lebih banyak dibanding pasukan Chu Beijie, mengepung mereka lebih penting saat ini. Jangan menyerang tanpa perintahku.”

“Tapi itu....”

Pingting menambahkan, “Chu Beijie adalah komandan dan penasihat utama pasukan Dong Lin, dan ia juga adik dari Raja Dong Lin. Walau kita menangkapnya hidup-hidup, pasukan Dong Lin akan kalah.”

Ia mengambil bendera komando lain dan berkata, “Komandan Rouhan.”

“Aku disini!”

“Tolong pimpin beberapa ratus pasukan menuju pintu keluar jalur Lembah Awan, lalu putuskan tali jembatan, agar pasukan Dong Lin tidak bisa mendekat ke Gunung Dianqing.”

Rouhan mengambil benderanya dan berkata “Baik!” dengan kencang.

Pingting melanjutkan perintahnya, “Dan sebagai prajurit yang berpengalaman, Komandan Rouhan, kau tak perlu kembali kesini untuk melapor segera setelah kau menyelesaikan tugasmu. Kau segera turun gunung untuk membantu Jendral Utama.”

Pingting menarik napas setelah menyelesaikan persiapan yang dibutuhkan. Pandangannya menjadi tidak jelas lagi. Ia tahu, hal ini terjadi karena ia terlalu memeras otaknya, maka ia duduk dan mengistirahatkan matanya.

Sebagian besar pasukan sudah pergi bersama Ze Yin. Mereka terlihat bersemangat. Mereka siap untuk menghancurkan musuh mereka, yang sudah menekan dan memojokkan mereka begitu lama.

Begitu suara langkah kaki kuda menjauh, ia sekelilingnya terasa sunyi.

Pingting duduk di dalam tenda komando, lalu ia berdiri dan mendengarkan kesunyian, kesunyian tanpa suara bermain di udara.

Sebuah rencana lain.

Rencana dalam rencana. Ia memucat dan memukul keningnya, kebiasaan buruknya.

Ia mengerjap.

Bendera komando yang berkilau, terlalu silau untuk di pandang setelah begitu banyak perencanaan. Ia menyadari kalau ini bukanlah sebuah permainan. Setiap kata yang ia ucapkan bisa mengiring beberapa ratus prajurit, yang memiliki keluarga yang menunggu kepulangan mereka, menuju kematiannya.

Dan untuk Chu Beijie, yang telah mundur sepuluh kilometer untuknya, telah melakukan kesalahan sekali lagi.

Ia takkan pernah menyangka kalau Pingting ternyata begitu kejam, tidak berbelas kasihan.

Airmatanya sudah begitu kering, sampai tak mampu menghasilkan separuh tetespun. Disuatu tempat, di hutan yang lebat ini, terbentang medan pertempuran. Pingting perlahan berjalan keluar tenda.

Ia menuju hutan Gunung Dianqing.
Beijie ini aku, aku lagi. Demi Yangfeng dan sekian ribu rakyat Bei Mo yang telah kehilangan rumah mereka.

Sakit dan penyesalan berdesir di tubuhnya, menyerang dari dalam. Ia berharap semua ini hanya mimpi.

“Apakah ini hukuman atas kehidupanku yang lalu?” Pingting menggigit bibirnya, menahan ucapannya.

Kemungkinan terjadinya pertumpahan darah atas rencananya, apakah adil untuk seseorang yang dengan lembutnya menautkan bunga-bunga daisy di rambutnya.

Pingting merindukannya, sangat merindukannya! Pingting memeluk dadanya yang terasa pedih, tapi ia juga mengingat posisinya sebagai penasihat militer dan janjinya kepada Yangfeng beserta anaknya yang belum lahir.

Jiwa yang terpisah – Tuannya sangat benar – ia telah kehilangan separuh jiwanya. Jiwanya yang terombang-ambing berharap dibawa angin menuju Kediaman Zhen Beiwang, tempat ia biasa memainkan lagu “Pahlawan dan wanita cantik” sekali lagi.

Sungguh menyedihkan, angin maupun gunung ini bukanlah tempat dimana ia ingin berada saat ini, karena hanya mengacaukan rambutnya dan sama sekali tidak menghibur hatinya yang kesepian.

“Mereka bilang seribu tahun berlalu seperti sebuah mimpi, tapi mimpi ini sungguh terasa panjang.” Disekitarnya angin bertiup kencang, dan Pingting berbisik, “Ini sangat menyakitkan.”

Ze Yin mungkin memimpin pasukannya menuju langit yang perlahan berubah merah.

Rouhan mungkin masih sedang merusak tali jembatan.

Walaupun ia berpura-pura acuh, ia tahu ini sudah terlambat.

Mungkin mereka berdua tidak memiliki kesempatan untuk pulang.

Pemikirannya hampir membuatnya tertawa. Begitu strategi selesai disusun, seorang penasihat militer sudah tidak berguna lagi. Ia bebas memikirkan apa saja yang ia suka. Kira-kira sekitar dua jam lagi, Ze Yin seharusnya sudah berhasil menangkap Chu Beijie.

Dan kalau Chu Beijie tertangkap, ia pasti membencinya, sebuah kebencian yang merasuk sampai ke tulang-tulangnya.

Dan sekali lagi, ia pasti tetap bersikap tenang dan mungkin mampu meloloskan diri. Jantung Pingting berdetak kencang, memikirkan Chu Beijie berhasil lolos sungguh membuatnya lega, tapi ia tahu Chu Beijie pasti tetap akan membencinya.

Dan hatinya menjadi lebih pedih.

Kalau Chu Beijie meninggal.... Pingting segera menghentikan pemikiran itu, tapi ia tetap mengkhawatirkan hal itu.

“Kau hidup, aku juga. Kalau kau mati, aku akan mati bersamamu.” Ketika mengatakan itu, ia sedang berada di pelukan Chu Beijie, yang terasa seperti akan meleleh jadi air.

Pingting mengigit bibirnya dan tersenyum sedih. Lebih baik kalau Chu Beijie meninggal. Maka ia akan dengan senang hati memberikan nyawanya agar bisa menemaninya.

“Berikan nyawamu.” Selesai berkata, akhirnya ia mampu kembali pada kenyataan, dan ia menyadari bahwa ia sedang duduk di atas rumput di dekat tendanya. Dan beberapa prajurit yang di sisakan untuk melindunginya, sedang menatap khawatir padanya.

Langit mulai gelap ketika terdengar sebuah ledakan tak jauh dari tempatnya duduk. Seketika udara dipenuhi debu. Pingting segera berdiri dan menyalahkan dirinya karena memikirkan yang tidak-tidak.

“Bunuh!”

“Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!”

Ia tidak berada di depan tenda komando tapi ia bisa mendengar suara pertarungan yang semakin mendekat.

Pingting terkejut, ia memutar tubuhnya dan matanya terbelak.

Pasukan Dong Lin!

Mustahil, bagaimana mungkin?

“Bunuh! Tangkap penasihat musuh hidup-hidup!”

“Jendral memerintahkan untuk menangkap penasihat musuh hidup-hidup!”

Lambang bendera Chu Beijie bermunculan, mengepung tenda, dan pasukan Dong Lin menyerbu keluar dari pohon-pohon dengan jumlah yang tidak terhitung.

Langit menjadi merah darah.

“Lindungi penasihat utama! Lindungi penasihat utama!”

Beberapa prajurit yang tersisa, bergerak untuk bertahan, tapi karena sebagian besar pasukan dibawa Ze Yin, usaha mereka sia-sia melawan pasukan Dong Lin yang besar.

Para prajuritnya, banjir darah, menghampirinya dengan pedang di tanganya.

“Kita harus menyerahkan perkemahan! Nona, naiklah ke atas kuda!”

Menyerah?

Kalah, ia dikalahkan oleh Chu Beijie. Ini sudah sangat jelas.

Ia tetap kalah pada akhirnya.

Pingting membelakan matanya dan dengan linglung dipaksa naik ke atas kuda oleh prajuritnya. Sebuah wajah bernoda darah muncul di penglihatannya.

“Nona! Kita harus menyerahkan perkemahan! Lari! Lari!”

Suara jeritan para prajurit yang sekarat terdengar di telinganya. Pingting akhirnya bisa mengendalikan dirinya.

“Lari! Lari! Lari!”

Kupingnya berdenging, genangan merah darah terlihat di bola mata hitamnya.

Setelah prajuritnya berhasil menaikan ia ke atas kuda, mereka berbalik dan kembali melawan musuhnya.

“Ahh!” seseorang berteriak lagi.

Pingting berbalik, matanya bertemu lagi dengan sepasang mata yang hampir menghentikan jantungnya.

Beijie, apa kau ingin membunuhku?

Ketika mata mereka bertemu, hati Pingting terasa hancur. Ia tak pernah tahu kalau hati seseorang bisa hancur menjadi ribuan keping dengan begitu mudah, dan begitu cepat.

Melalui airmatanya, Pingting menjadi kaku ketika melihat Chu Beijie melompati pagar perkemahan.

Pingting melawan keinginannya, memacu kudanya berlari pergi.

Lari, lari ke dalam hutan lebat. Jauh dari orang ini, agar aku tak akan pernah melihatnya lagi.

Perasaan ini pernah ia alami, seperti mengulang kejadian kemarin.

Mengambil langkah yang sama, mengalami perasaan yang sama.

“Pingting!’ suara dalam Chu Beijie terdengar dari belakang.

Pingting menutup matanya dan memacu kudanya lebih kencang. Angin kencang memukul pipinya yang putih pucat.

Jangan mendekatiku, ini sudah terlambat. Lagipula sudah tidak ada apapun di antara kita. Bai Pingting sudah lama kehilangan jiwanya sejak ia tak bisa pulang lagi, ke Kediaman Jin Anwang ataupun Zhen Beiwang.

Ayo berjanji pada bulan, takkan pernah saling bermusuhan satu sama lain.

Airmatanya mengaburkan penglihatannya, tapi ia masih mengingat jelas seringai di wajah Chu Beijie malam itu.

Tidak akan pernah terpenuhi.

Airmata menutupi matanya dan ia mengingat senyum lembut Chu Beijie malam itu.

Pecut, pecut lagi!

Ia tak peduli dengan angin dingin yang menghantam wajahnya. Menghilang dari pandangan Chu Beijie, dan dari udara yang di hirupnya adalah satu-satunya yang ia inginkan saat ini.

Tapi ia masih bisa mendengar suara langkah kaki kuda lain yang semakin mendekat.

Dua orang diatas masing-masing kuda, matahari mulai tenggelam ketika langit menampakan cahaya kekuningan, melewati hutan, menuju puncak gunung Dianqing.

Seekor kuda sudah mulai lelah. Ketika Pingting sekali lagi memecutnya, kudanya meringkik kencang dan melemparkannya ke bawah. Pingting terjatuh.

“Awas!” Chu Beijie berteriak.

Pingting terbanting keras ke tanah, merasakan pusink di kepalanya. Ia mengertakan giginya ketika berdiri dan akhirnya menyadari mengapa kudanya berhenti. Tak jauh dari situ adalah jurang yang curam.

Ia tidak sadar kalau Ze Yin telah memberikannya seekor kuda yang begitu pintar, tapi ia tahu bahwa ia harus segera melakukan sesuatu. Ia takkan pernah bisa kembali ke sisi Chu Beijie dengan statusnya sebagai penasihat militer musuh yang ditawan.

Menatap curamnya jurang, Pingting berusaha tenang. Berdiri dekat di ujung, ia diam-diam melihat ke arah Chu Beijie dan tersenyum.

“Tempat ini sungguh indah, dan Pingting sangat ingin bernyanyi. Boleh Pingting menyanyikan sebuah lagu untuk Chu Beijie?” Ia terlihat cukup ramah, matanya sangat jernih mengikuti gerakan Chu Beijie.

Chu Beijie menyadari kalau Pingting bersikap terlalu tenang, dan ia tahu kalau Pingting sedang merencanakan sesuatu. Chu Beijie tahu kalau, hal yang ingin ia katakan tidaklah cocok untuk situasi kritis ini. Dan kalau tetap ia lakukan, wanita hebat ini yang lebih sulit ditangkap - dibanding berusaha menangkap asap, takkan ragu untuk melompat. Kepalanya berpikir cepat. Dan ia tersenyum dan berkata dengan suara yang lembut juga. 

“Kesepakatan damai dengan Gui Li selama lima tahun, adalah antara aku dan Pingting. Kalau Pingting melompat, perjanjian tidak lagi berlaku, dan aku akan memimping pasukan Dong Lin untuk menyerang Gui Li, secepatnya. Tolong dipertimbangkan.”

Ketika Chu Beijie mengatakan ini, seringai palsu Pingting menghilang dan ia membeku.

Chu Beijie menggunakan kesempatan ini untuk mendekatinya dan berdiri di depannya.

Airmata Pingting mengenang tapi tidak terjatuh.

Dengan suara pelan, ia berbisik, “Untuk apa Tuan datang?”

“Untukmu.” Chu Beijie membalas. Chu Beijie menahan kudanya lalu mengulurkan tangan dan menatap Pingting. 

“Ikutlah bersamaku. Dengan begitu, kau tak lagi bermarga Bai, tapi seorang Chu.”

Pingting terkejut seperti baru saja tersambar petir.

Ia menegadah dan mulai menangis, “Beijie!” Selain merasakan marah, muncul juga perasaan manis, asin, pedas dan pahit yang ia jaga dengan begitu hati-hati, dan airmatanya yang lepas kendali adalah salah satu kebahagiaannya.

Cintanya yang begitu kuat, pada akhirnya hanya milik seorang Bai Pingting.

Chu Beijie diam sesaat sebelum akhirnya ia mengeluh, “Dengan kau memanggilku Beijie, apa gunanya terus menyerang Bei Mo?” Ia tertawa, gembira.

Ia menatap Pingting lagi dan kehangatan memenuhi matanya. Ia mengulurkan tangannya kembali. “Pingting, kemarilah.”

Pingting memikirkan kata-kata Chu Beijie ketika menatap tangannya. Apa ia ingat kehangatannya? Tangannya yang pernah membelai rambutnya, pipinya, airmatanya dan senyumnya... semuanya dari tangan ini.

Tangan Chu Beijie seperti mengembalikan dunianya, sepertinya jiwanya telah kembali dan ia bebas untuk melupakan sang Raja, Kediaman Jin Anwang, Gui Li, Bei Mo, dan Yangfeng.

Bisakah aku memilih untuk tidak lagi menjadi seorang Bai?

Ia tahu jawabannya ketika ia melihat tangan Chu Beijie.

Selangkah demi selangkah ia mendekati Chu Beijie, melewati gunung yang tidak terhitung, melewati pertempuran yang sengit, dan melupakan masa lalunya.

Mulai sekarang, Bai Pingting tidak lagi seorang Bai.

Bahaya di Bei Mo telah di selesaikan dan suatu saat, Yangfeng mungkin akan melupakan tentang Pingting, dan anak Yangfeng mungkin takkan pernah tahu kalau ibunya dan ia pernah menjadi teman baik.

Sedikit demi sedikit ia semakin dekat, sampai akhirnya ia dapat menyentuh tangan yang dirindukannya.

“Ah!” Pingting merasakan pinggangnya ditarik ke atas dan ia berpegangan erat pada Chu Beijie. Seketika kakinya berada di udara, dan ia segera berada di atas kuda di dalam pelukannya.

Senyum Chu Beijie yang akrab segera terlihat di matanya.

“Hey Pingting, bulan sudah keluar.”

Pingting menegadahkan kepalanya. Memang benar, bulan sudah muncul. Sangat jernih dan melengkung.

“Ayo bersumpah pada bulan untuk tidak akan pernah saling menghianati satu sama lain.” Ia mengucapkan kata-katanya dengan sungguh-sungguh.

Dibawah sinar bulan yang dingin, pemimpin pasukan Dong Lin, melewati rute Lembah Awan, membawa satu-satunya wanita pilihannya, kembali ke perkemahan.

“Mengapa kau mengerutkan dahi?” Chu Beijie menengok ke arah hartanya yang berharga, di dalam pelukannya, yang telah begitu lama ia coba dapatkan.

Kerutannya mengendur ketika Pingting berkata, “Sebuah perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan, rasanya seperti sedikit frustasi.”

“karena?” Chu Beijie mencium lembut kepalanya. “Kalah dan menang adalah wajar dalam pertempuran, bukan hal yang memalukan kalau kalah dari suamimu sendiri.”

Pintu keluar Lembah Awan terbentang di depan.

“Boleh... aku bertanya sesuatu tentang masalah pertempuran?” Ia masih seorang penasihat utama musuh sampai beberapa saat lalu. Bahkan sekarang, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Ekspresi Chu Beijie tidak berubah ketika menjawab, “Tentu.”

“Bagaimana kau akan menghukum Ze Yin? Ia suami Yangfeng dan aku...”

“Aku tidak berencana menghukumnya. Itu sebabnya aku memilih jalur Lembah Awan.” Chu Beijie terkekeh, “Aku tahu, kau berencana merancuni sumber air dan menyerang perkemahan kami, jadi aku memutuskan untuk bertindak cepat dan menyerang perkemahanmu. Dan untuk Ze Yin, biarkan ia mengepung perkemahanku yang sudah kosong dan hanya berisi boneka tentara.”

Pingting menahan napas dan menyadari mengapa ia bisa kalah.

Tebakannya tepat, tapi ia melupakan satu hal, pasukan Chu Beijie bergerak dengan kecepatan luar biasa.

Kecepatannya sungguh menggagumkan, menyerang beberapa jam lebih cepat dari dugaan. Ia melupakan hal ini ketika ia pertama kali menatap Chu Beijie lagi, karena saat itu ia terjebak dalam kepedihan dan kebahagiaan.

Karena hal sepele mengakibatkan kekalahannya.

Kalau begitu, Chu Beijie tidak tahu kalau Ze Yin berada di sisi lain jalur Lembah Awan mengejar pasukannya yang menghilang.

Kudanya telah mencapai jembatan tali Lembah Awan dan otak Pingting masih belum bekerja dengan baik, karena masih terpengaruh pertemuannya dengan Chu Beijie. Dengan kecepatan pergerakan pasukan Dong Lin, mereka masih perlu menyebrangi jembatan tali dan menyembunyikan diri di dalam hutan sebelum Rouhan merusaknya.

Bukan, Rouhan tidak tahu kalau Chu Beijie sudah menyebrangi jembatan, artinya ia merusak jembatan sesuai rencana

Tapi... kenapa jembatannya terlihat baik-baik saja

Ketika ia sedang bingung, terdengar suara retak yang tidak menyenangkan dan jembatan mulai bergoyang.

Kebenaran menghantam Pingting seperti pukulan halilintar. Rouhan jelas mengikuti rencana tanpa ia tahu kalau Chu Beijie dan pasukannya sudah menyebrang. Jembatan sudah di rusak dan ia masih menunggu musuh melewatinya.

Chu Beijie tidak tejebak ketika ia pergi, tapi terjebak ketika ia pulang. Ini seperti lelucon dari para Dewa.

Krraak....krraaaak..... bunyi retakan tali jembatan memekakkan telinga.

Pingting tersadar sepenuhnya dan berteriak pada Chu Beijie, “Kembali! Jembatan sudah....” ia tak sempat menyelesaikannya ketika tiba-tiba tali jembatan terbelah dua dengan suara keras, dan Pingting merasakan tubuhnya jatuh terjerembab bersama kata-katanya.

“Ahh!”

Ia masih terjatuh ketika ia merasakan tubuhnya didekap oleh Chu Beijie.

Angin menampar wajah mereka ketika Chu Beijie memeluknya erat.

Mereka berdua memejamkan mata dan terjun menuju kegelapan, ke dalam lembah berbahaya yang belum tercatat dalam peta.

--0--




novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar