Senin, 31 Agustus 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.18

-- Volume 1 chapter 18 --

Setiap detik sangat berharga untuk mengetahui rencana rahasia Chu Beijie. Pingting tidak tertarik dengan hadiah; ia sederhana saja menginginkan hak untuk mengendalikan pasukan Bei Mo dari Raja agar ia lebih mudah untuk menggerakan pasukan disaat genting. Setelah dengan singkat bertemu dengan para Jendral tinggi di saat kedatangannya, ia tidak terlihat di depan umum lagi.

Pertemuan di adakan di ruangan Pingting yang telah di berikan oleh Ze Yin. Ze Yin satu-satunya yang berdikusi taktik perang dengan Pingting. Selain menjadi teman baik istrinya, latar belakangnya yang tidak diketahui dikesampingkan. Ze Yin telah mendapatkan persejutuan Pingting, dan ia sangat menolong.

Situasi pasukan Bei Mo sekarang bukan karena ketidakmampuan Ze Yin tapi karena kepintaran Chu Beijie.

“Apa yang anda pikirkan, Nona?” Ze Yin akhirnya memecahkan keheningan. Ia melanjutkan laporan terakhirnya. “Kali ini, kita kehilangan beberapa lusin pasukan mata-mata awal. Mereka hanya mendapatkan berita yang tidak pasti. Sungguh sia-sia.”

Pingting menerima berita dengan tenang tapi tidak menjawab. Ia menggelar peta dan menggerakkan telunjuknya melintang sebelum akhirnya berhenti di pojok bawah sebelah kanan. Ia mengerutkan dahu dan berguman, “Selatan penuh dengan hutan tebal, hanya itu. Menurutmu mengapa Chu Beijie mengirimkan prajurit kesana setiap hari?”

Ze Yin ikut bergabung di dekat peta dan juga mengerutkan dahi seperti memikirkan sesuatu tapi ia segera menggelengkan kepalanya. “Mustahil untuk mengepung dan menyerang Kanbu dari belakang melalui hutan itu. Bukan hanya buang-buang waktu tapi juga habis tenaga. Hutan itu sendiri agak berbahaya, penuh dengan ular berbisa. Pasukan akan berkurang lebih dari setengah sebelum mereka mencapai di Kanbu.”

Pingting mengibaskan sebuah catatan harian, sejarah pertempuran Kanbu ketika ia memikirkan sesuatu. “Apakah ada catatan serupa yang menjelaskan tentang hutan lebat ini ?”

“Hutan itu gelap, berbahaya dan menakutkan – tak banyak orang yang bersedia masuk kesana.” Ze Yin melanjutkan, “Tapi seorang Kepala Penjaga Kanbu sebelumnya telah mendedikasikan dan menggumpulkan data tentang tata letak dan keadaan daerah sekitar Kanbu. Mereka masih menyimpannya. Mungkin ada sesuatu tentang hutan ini di dalam buku itu, tapi aku tak yakin seberapa rinci keterangannya. Aku akan segera mencarinya jika Nona menginginkannnya.”

Ia sendiri yang pergi ke sebuah perpustakaan lain, untuk mendapatkan satu set buku tua dan berdebu dan meletakannya di atas meja.

Pingting berharap berita tentang Raja Dong Lin yang tak sadarkan diri segera sampai ke telinga Chu Beijie sebelum rencananya sempat ia jalankan. Jika tidak, dan Pingting dan mampu menghentikan rencananya, artinya kekalahan Kanbu dan akhirnya, penaklukan negara Bei Mo.

Dan sekarang, Ze Yin sudah memantapkan diri untuk bertarung sampai akhir, dan secercah sinar harapan Bei Mo adalah musuh Chu Beijie yang tidak dikenal, Pingting.

Sebuah keberuntungan yang jelek – ia akan baik-baik saja kalau musuhnya bukanlah si luar biasa Chu Beijie, ya kan?

Pingting menyadari perubahan udara. Ia menatap Ze Yin dan menyadari kedipan ke arahnya. “Sudah berapa lama sejak terakhir kali kau memejamkan mata? Kesehatan tubuh sangat di perlukan untuk bisa bertempur dengan baik. Pergilah beristirahat.”

“Aku tak pa-pa.”

Pingting terkekeh dan berbicara lebih pelan, “Baiklah, Jendral, Aku takkan memaksamu, tapi kau telah terkena perangkap Chu Beijie. Kau tahu, taktik kesukaannya adalah menakuti lawannya sehingga mereka tidak berani untuk terlelap, kemudian menyerang mereka ketika semua orang sudah terlalu letih. Biasanya, pasukan pertahanan sudah jatuh karena kehabisan tenaga ketika akhirnya Chu Beijie memutuskan untuk menyerang.”

Ze Yin mengangguk mengerti, “Nona benar. Terlalu gelisah menguras tenaga kami.” Sudut bibirnya mengembang senyum kecil. “Jujur kukakatakan, sejak aku bertempur melawan Chu Beijie. Aku tidak pernah cukup tidur. Malam ini, aku akan tidur dan menjadi percaya diri lagi untuk melawan pasukan Dong Lin.”

Ia berdiri. “Aku akan memeriksa area tidur para prajurit sebelum beristirahat.” Lalu ia pergi meninggalkan ruangan.

Sementara itu di tenda tidur pasukan Dong Lin, semua prajurit sudah lama terlelap dan jatuh ke dalam mimpi mereka, kecuali beberapa penjaga malam.

Tak seorangpun yang takut akan diserang oleh pasukan Bei Mo di malam hari, sejak usaha mereka menyerang dadakan gagal total. Mereka takkan melakukan pengorbanan seperti itu lagi.

Tak seorangpun yang khawatir apakah menaklukan Kanbu akan berhasil atau tidak, dan tak ada yang peduli tentang siapa yang akan menjadi pemenang terakhir. Dibawah perintah Komandan terbaik di dunia dan dengan bendera Panglima Zhen Beiwang yang berkibar, mereka yakin kalau perintah yang diberikan adalah yang tindakan yang terbaik.

Bendera Panglima Zhen Beiwang, saat ini, tertancap dengan kuat di tenda tengah pimpinan, bekibar kuat dengan angin yang berhembus yang kencang dari hutan lebat yang sangat luas.

Cahaya terlihat dari dalam tenda komandan utama. Chu Beijie belum terlelap. Satu set senjata terbuat dari emas tergantung di atas dinding yang terkadang merefleksikan api dari lilin. Moran berdiri diam disamping, menunggu Chu Beijie berbicara.

Chu Beijie belum mengucapkan sepatah katapun sejak mendapatkan kabar dari mata-mata mereka. Sebelumnya, Chu Beijie telah meletakan laporan itu ke dalam arsip. Tanpa ekspresi, ia bertanya, “Siapakah yang mungkin, menjadi penasihat baru mereka, yang menurut gosip adalah seorang wanita?”

Sebuah nama pasti melintas di benak Moran. Ia mundur selangkah dan berkata dengan tenang, “Nama dan latar belakang dari penasihat itu dianggap sebagai informasi yang paling di rahasiakan oleh musuh kita. Mata-mata kita mungkin tak bisa mencari tahu rahasia semacam itu.”

Chu Beijie duduk, memperhatikan Moran dan berkata pelan, “Perkiraan kita mungkin benar.”

Moran menanggapi dengan mengangkat wajahnya dan menatap mata Chu Beijie yang memancarkan kegelisahan. Ia dengan segera menenangkan dirinya dan bertanya dengan ragu-ragu, “Kalau memang benar dia, apa rencana anda Tuan?”

“Apa maksud perkataanmu ?”

“Kita belum yakin apakah penasihat itu dia atau bukan, jadi bagaimana kalau rencana kita...”

Chu Beijie mengibaskan tangannya. “Moran tak perlu khawatir. Sampaikan pada mata-mata kita tak perlu mencari tahu lebih jauh tentang penasihat baru. Kalau memang benar ia Bai Pingting, ia seharusnya bisa menebak rencanaku sebelum terlambat.”

Tapi Moran membantah, “Kalau memang benar dia, dan ia tidak menyadari rencana anda, bukankah ia akan meninggal bersama seluruh pasukan Bei Mo di Kanbu?” Moran merasakan tatapan setajam pisau dari Chu Beijie padanya. Ia segara menutup mulutnya dan berhenti melanjutkan.

“Aku juga tidak tahu...” Chu Beijie sepertinya agak khawatir juga. Ia bangkit dan berjalan kearah pintu tenda. Ia mengangkatnya dan mengagumi bulan. Menarik napas dalam dari dinginnya udara, ia akhirnya bisa meredakan detak jantungnya. Sebuah keyakinan terlihat di matanya dan ia berbisik, “Kalau ia tak punya kemampuan dan kepintaran, apakah ia pantas untuk cintaku?” Ia berbalik, menenangkan bawahannya dan terkekeh. “Sepertinya kau masih punya kekhawatiran. Katakan.”

Moran tahu kalau wanita itu adalah titik lemah Tuannya, tapi pertempuran semakin dekat dan seorang Komanda Utama harus berpikiran jernih, tetap memegang teguh tujuannya. Ia bertanya, “Apakah Tuan ingin menangkap Pingting hidup-hidup?”

“Jadi Moran berpikir kalau aku ingin menangkap Pingting untuk balas dendam?” Chu Beijie tersenyum, “Ingatlah, Tak ada komandan yang akan berhenti setelah di kalahkan atas kesalahan yang mahal. Aku ingin menangkap Bai Pingting hidup hanya karena aku menghargainya.” Ia menyingkirkan arsip di mejanya dan mengelar sebuah peta, memikirkan satu-satunya wanita yang tak bisa dilupakannya. “Kalau bukan karena menghormatinya, untuk apa lagi aku ingin menangkapnya hidup-hidup?”

“Apakah Tuan pernah mempertimbangkan....” alis mata Moran menaik lagi, “.... kalau mungkin ia bisa menebak rencana Tuan, tapi dia tak bisa berbuat apapun untuk itu?”

“Kau salah. Kalau ia bisa menebaknya, ia pasti memikirkan sesuatu.” Ekspresi wajah Chu Beijie tidak berubah ketika ia berkata, “Saat matahari terbit dari timur, aku akan melihat apakah ia pantas untuk cintaku daripada wanita lain di dunia ini. Jadi, Pinting kalau kau memang berada di Kanbu, jangan kecewakan aku.”

Kembali ke Kanbu, Ze Yin sudah tertidur pulas.

Bagaimanapun, tidurnya hanya sebentar karena segera terganggu oleh suara ketukan keras di pintu. Yang mengetuk bisa dipastikan hanya orang itu, dia yang oleh seorang Ze Yin tak bisa diprotes meskipun sekarang baru jam setengah empat di pagi dini hari.

“Aku tahu rencananya.” Entah kegembiraan atau kekhawatiran yang membuat pipi putih Pingting menjadi pucat. Ia memasuki ruangan, menyalakan lilin di meja, dan membuka gulungan tua. “Syukurlah aku membaca beberapa tulisan tua, setelah membaca buku yang di tinggalkan oleh Ketua Pimpimpin sebelumnya, atau pasukan kita akan menderita korban besar-besaran dan kerusakan yang tak terhingga. Jendral, lihat ini.”

Ze Yin mengikuti telunjuknya yang seputih mutiara. Alis tipisnya terangkat sedikit. “Tawon beracun?”

“Tawon ini hanya bisa ditemukan di kedalaman gunung di sekitar Kanbu; sarang mereka pastinya ada di dalam hutan yang paling rapat. Racun mereka sangat mematikan – hanya satu sengatan dan seekor kerbau liarpun akan jatuh. Aku tahu tentang obat-obatan dan pernah mendengar tentang tawon ini. Berkat laporan dari Jendral, aku menyadari ada yang aneh, dan sekarang kita tahu alasannya setelah sepanjang malam aku membolak balik buku-buku dan gulungan itu.” Pingting menyadari kebingungan dan keraguan di wajah Ze Yin. “Ada masalah Jendral ?”

“Nona menebak kalau rencana Chu Beijie adalah menggunakan tawon beracun untuk menyerang pasukanku, benar?” Ze Yin melanjutkan, “Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Aku tahu tentang tawon ini. Walaupun tawon ini cukup kuat untuk meracuni seluruh pasukan pertahananan kita, tetap saja ini hal yang sulit untuk di lakukan. Pertama, darimana kau mendapatkan tawon sebanyak itu?”

Pingting telah memikirkan hal ini lama sebelumnya. Ia menjawab dengan tenang, “Itu sebabnya Chu Beijie menggirim pasukan masuk ke dalam hutan. Disana pasti terdapat sarang tawon, dan ia bisa mengumpulkan cukup banyak untuk rencananya.” 

“Chu Beijie mungkin hebat, tapi ia bukan tidak terkalahkan. Ia tidak berasal dari Bei Mo, jadi bagaimana ia bisa tahu dan mampu menggerakan tawon-tawon itu?”

Pingting mengeluh. “Jendral masih menyepelekan Chu Beijie bahkan pada saat ini. Pasukannya yang berjumlah sepuluh ribu, manusia dan kuda, sudah pasti akan menimbulkan kekacauan di sekitar sini, jadi sangat wajar kalau salah satu prajuritnya ada yang meninggal setelah di sengat oleh tawon-tawon pengganggu. Dan begitu Chu Beijie mengetahui kekuatan dari racun itu, yang merupakan senjata alami, ia pasti akan mengirim orang untuk menyelidiki kebiasan si tawon. Itu sebabnya mengapa pasukannya masih belum menyerang sampai saat ini.”

Ze Yin masih menggelengkan kepalanya tapi tidak berkata apapun.

Pingting melanjutkan. “Di dalam buku dikatakan kalau tawon beracun sangat sensitif dengan getah pohon Sanhua. Mereka bisa merasakan getah dari jarak yang sangat jauh. Getah ini juga membuat racun mereka lebih kuat. Terdapat pohon Sanhua besar di sisi timur dan barat tembok kota Kanbu. Katakan, bagaimana jika Chu Beijie benar-benar mau menggunakan tawon ini untuk menyerang kita? Ia pasti akan memerintahkan pasukannya untuk mencari pohon ini dan menumbangkannya. Lalu ia akan menggunakan cabang-cabangnya, yang penuh dengan getah sebagai panah, dan menembakkannya dari kejauhan ke arah Kanbu, sambil melepaskan tawon-tawon itu dalam jumlah besar. Pasukan pertahanan pasti akan jatuh tidak kurang dari setengahnya. Dan ketika tawon-tawon itu sudah pergi bersamaan dengan keringnya getah, menaklukkan Bei Mo di garis pertahanan terakhinya, bukan masalah.”

Ze Yin menangkap nada suara Pingting yang mendesak. Tapi ia tetap tidak yakin apakah bisa mempercainya. “Aku akan segera mencari seseorang untuk memeriksa apa pohon Sanhua di sisi timur dan barat telah di tebang.”

Ia berbicara dengan cepat pada asistennya, yang akan meneruskan perintahnya, sebelum berbicara kembali dengan Pingting. “Kalau memang benar seperti itu, rencana Chu Beijie sangat beresiko dan sangat sulit dipercaya, tapi Ze Yin masih tidak mengerti.” Ia merasa ragu, “Tolong jangan merasa tersinggung dengan keterusterangan Ze Yin. Rencana ini masih terdengar.... tidak biasa, jadi aku ingin tahu seberapa yakin, Nona, tentang ini.”

“Seberapa yakin?” Pingting terkejut dengan pertanyaan ini. Ia segera menyembunyikan kegembiraannya setelah menemukan rencana musuh. Ia menggenggam kuat pegangan kursi. Setelah beberapa saat ia akhirnya tersenyum. “Kalau aku katakan aku sangat yakin dengan hal mustahil itu, rencana yang aneh, Jendral mungkin akan tertawa dan tidak percaya padaku. Aku juga tidak tahu, sungguh. Tapi ketika aku memikirkan tawon beracun ini, aku merasa yakin, kalau ini adalah sesuatu yang Chu Beijie akan lakukan.” Ia memaksakan senyum tipis ke arah Ze Yin. “Kalau Bai Pingting tidak bisa menebak apa yang di pikirkan Chu Beijie, apa gunanya ia untuk Bei Mo?”

Cahaya lilin berkelip di dalam ruangan sementara bulan sedang menari.

Bulan terang bersinar di atas langit, menyorotkan cahaya abu-abu ke seluruh tembok kota. Di kedua sisi, baik yang di dalam ruangan maupun yang di luar, para prajurit bermimpi tentang rumah mereka.

Hidup mereka bergantung pada keputusan yang di buat oleh komandan mereka, apakah dugaan mereka atau salah. Seperti sebuah permainan yang kejam.

Dan lawan Pingting adalah pria itu.

Pingting merapikan rambutnya ke satu sisi, mengingat tangannya yang kuat, perlahan membelai dan mengenggam lembut rambutnya yang halus sambil berkata “Ini milikku.” Dengan sebuah senyum kecil.

Ia tak pernah tahu akan terasa sangat sakit saat ini.

“Apa Jendral tahu, apa yang paling ingin kulakukan saat ini?”

“Ze Yin tidak tahu.”

Pingting menekan bibirnya sambil tertawa. “Sama dengan anda. Aku butuh tidur yang cukup.” Ia menyentuh dadanya, yang terasa pedih dengan jarinya. “Tapi, siapa yang bisa beristirahat dengan tenang setelah berhadapan dengan Chu Beijie?”

Ia ingin mengeluh tapi segera menahannya. Penasihat utama tidak boleh mengeluh. Ia menilai dirinya sendiri menjadi jelek kalau melakukan itu.

Dibawah sinar bulan, segalanya menjadi jelas. Ze Yin menyadari ketidaksopanannya yang telah membuat Pingting sedih. Ia terbatuk dan mengganti arah pembicaraan. “Ada hal lain yang aku ingin tahu. Apakah ada obat untuk menangkal racunnya?”

Pingting mengangkat bahunya. “Itu juga yang membuatku yakin kalau Chu Beijie akan menggunakan tawon itu. Kalau racun tawon masuk ke dalam aliran darah, orang tersebut bisa meninggal, tapi kalau ia meminum ramuan yang bisa menetralkan getah pohon Sanhua, mereka akan kebal dari racun itu. Dimasa lalu, menurut buku itu, mereka yang masuk ke hutan selalu minum ramuan ini sebelumnya. Kalau semua prajurit Dong Lin meminum ini, mereka tak perlu khawatir pada sengatannya.”

“Benarkah?” Ze Yin mengerutkan alinya lebih dalam dan mengenggam jenggotnya berpikir.

“Kalau pasukan Dong Lin melepaskan tawon beracun selama pertempuran, pasukan kita akan berusaha melarikan diri dari tawon dan mereka tak bisa bertempur dengan baik. Mereka yang tetap bertempur akan tersengat.”

Pada saat inilah, asistent Jendral kembali. Ia tidak tenang ketika masuk ruangan dan berkata, “Jendral, pohon Sanhua di timur dan barat sudah di tebang!”

Ze Yin menoleh ke arahnya, dan berkata dengan suara keras, “Bagaimana bisa pohon-pohon itu di tebang, dan kita tidak menyadarinya?”

Asistennya menggelengkan kepala kebingungan, tapi ia tahu kalau situasinya tidak bagus. “Hutan di sisi timur dan barat agak jauh dari tembok kota. Ketika Jendral memerintahkan untuk mempertahankan tembok dengan kekuatan penuh, pasukan yang ditempatkan disana telah di tarik. Pasukan Dong Lin pasti sudah kesana sejak saat itu, diam-diam menebang pohon dan pergi dengan gembira setelahnya sehingga kita tidak menyadarinya.”

Pingting menyela, “Apa kau menghitung berapa banyak yang telah di tebang? Dan sudah berapa lama?”

“Tunggul pohonnya sudah mulai mengering, mungkin sudah dilakukan sejak kemarin.”

Ze Yin memandang mata Pingting dan berkata, “Seperti perkiraan.” Mengertakan giginya, dan ia memerintahkan, “Sampaikan perintahku; siapkan wajan besar untuk meramu obat dan bawa beberapa prajurit terbaik untuk menebang semua pohon Sanhua yang tersisa.”

“Tunggu!” Pingting berteriak dan segera menjelaskan, “Sepertinya Chu Beijie telah menempatkan beberapa prajurit di dekat sini, menunggu kita untuk masuk perangkap dekat pohon-pohon itu, lagipula  takkan cukup waktu untuk membuat ramuannya walaupun pohon yang bisa di tebang masih cukup. Jendral, sekarang sudah mendekati subuh.” Ia menunjuk pada jendela, terlihat langit sudah berwarna abu-abu.

“Chu Beijie mungkin tidak tahu, kalau kita sudah tahu rencanan tawon beracunnya. Ia mungkin belum cukup menggumpulkan tawon-tawon itu.” Ze Yin menatap langit dan merendahkan suaranya, “Selama ia tidak berencana untuk menyerang sekarang, kita tak perlu bersiap untuk memenangkan peperangan.”

Pingting mengeluh. “Chu Beijie tak pernah membuat kesalahan yang beresiko. Sehari ditambah setengah hari, sudah cukup untuk menebang jumlah pohon yang di perlukan, membuat panah dengan getah, dan membuat penangkal racun. Pohon Sanhua sudah ditebang sejak kemarin. Ia pasti akan menyerang hari ini.”

Ze Yin menggelengkan kepalanya dengan keras, matanya melebar. Lama sampai akhirnya mulutnya mengucapkan sesuatu, “Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Pingting tidak segera menjawab. Ia malah membuka jendela separuh. Ia menutup matanya dan perlahan menarik napas dari udara segar di pagi hari. Sepertinya ia butuh udara segar untuk melancarkan peredaran darahnya dari tubuhnya yang lelah dan akhirnya ia membuka matanya.

Dengan nada memerintah ia berkata, “Jangan khawatir Jendral. Sejak meninggalkan Bei Yali, aku sudah tahu akan datang saat seperti ini. Tak ada seorangpun yang pernah menghadapi Chu Beijie berhasil baik, kecuali ia berpura-pura lemah.”

Memikirkan kembali tentang kemenangan Gui Li tahun itu membuatnya rindu. Pingtin menatap kejauhan untuk beberapa saat. Dan akhirnya ia berbalik dan terkekeh, “Pingting akan sangat senang jika mengetahui masih ada sebuah kecapi, yang masih bisa dimainkan dan semua senarnya masih terpasang lengkap.”

“Sebuah kecapi?”

“Benar. Aku berencana untuk memainkannya di suatu tempat yang tinggi dimana Chu Beijie bisa mendengarnya.”

Wajah Ze Yin segera berubah. Ia menggelengkan kepala dengan semangat. “Aku tahu Nona memiliki hubungan yang tidak biasa dengan Chu Beijie, tapi ini mengenai dua kubu pasukan – ini sangat serius. Nona akan mudah terlihat dari semua arah jika berada di tempat yang tinggi. Kau akan menjadi sasaran empuk dari panahnya, bukan hanya tawon beracun. Tapi ketepatan memanahnya jelas bukan sekedar gosip.”

“Aku penasihat utama. Kalau Jendral tidak mematuhiku, aku akan memaksamu mematuhiku.” Pingting mengangkat simbol kekuasaannya. Ia menyeringai jenaka tapi kemudian berhenti ketika menyadari ekspresi serius Ze Yin. “Yangfeng meminta Jendral untuk menjagaku. Mengapa resah? Kalau Chu Beijie memang akan memanah Pingting, itu artinya Jendral terbebas dari janji itu.” Setelah selesai berkata seperti itu, ia melangkah keluar ruangan.

Di pasukan Dong Lin, para prajurit sudah lama terbangun. Setiap orang bergilir untuk meminum obat yang terasa tidak enak dari sebuah wajan besar. Para pasukan berbaris dengan pakaian rapi dan pedang di tangan mereka.

Beberapa orang tidak rapi, tas kulit di bagikan kepada beberapa orang oleh asisten pribadi Chu Beijie. Terdengar suara dengung yang tidak berhenti. Sebuah pasukan terpisah berpakaian lebih tertutup, yang bertugas membuat panah dari cabang yang dipenuhi getah pohon Sanhua. Dan tugas mereka berikutnya adalah menembakkan panah ini ke arah Kanbu untuk menarik perhatian tawon-tawon dan menguatkan racun mereka.

Dan di beberapa prajurit terlihat jejak getah pohon Sanhua di pakaian mereka, dan walaupun mereka sudah meminum obat anti racun tawon tapi ketika terkena sengatan tetap terasa sakit maka mereka memutuskan untuk mengenakan pakaian tertutup. Mereka menutupi tangan mereka, kaki dan wajah sebisanya.

Chu Beijie dan Moran berdiri di luar, menunggu para Jendral lain selesai melakukan pemeriksaan dan melaporkan bahwa semuanya sudah sesuai rencana lalu naik ke panggung.

“Ketika para prajuritku menyerang kota, dimana dia akan berada?” Chu Beijie bertanya, mengerutkan dahinya ketika ia menaiki panggung.

Hanya Moran yang mengerti apa yang sedang dipikirkan Chu Beijie. Ia tahu dilema Tuannya. Hal terbaik yang bisa dilakukan oleh Moran adalah berpura-pura tidak tahu dan bergabung berbaris dengan yang lainnya, menunggu perintah Chu Beijie.

Setelah jeda agak lama, pasukan masih belum menerima perintah dari Chu Beijie dan mulai saling bertukar tatapan bertanya-tanya. Tak seorangpun yang berani mengganggu Chu Beijie ketika sedang berpikir, maka mereka semua menatap ke arah Moran.

Sebagai orang kepercayaan, Moran menggumpulkan keberanian dan berkata, “Tuan, sudah waktunya.”

“Bagus,” Chu Beijie mengangkat kepalanya, mengusir pergi hal yang membuatnya pusing dan memandang ke depan dengan tatapan seorang Komandan. Ia tersenyum tenang dan berkata, “Ini adalah waktu yang di tunggu, tapi hari ini adalah pengecualian. Mungkin penyerangan ke Kanbu kali ini akan lebih menarik daripada yang perkiraanku. Mungkin ini merupakan penyerangan terakhir atau malah memulai yang baru. Segalanya....tergantung pada penasehat baru mereka apakah cukup berharga untuk kukalahkan dengan segala kemampuannku.” Matanya bersinar dan ia berteriak, “Berangkat!”

Seluruh pasukan menjawab “Baik!” perintahnya begitu membahana, membangkitkan semangat termpur setiap prajurit.

Pasukan hebat Dong Lin, setelah beberapa saat masa tenang, di bawah pengaruh Panglima Zhen Beiwang yang hebat, akhirnya memulai penyerangan terhadap Kanbu.

--0--

Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar