Minggu, 17 Mei 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.11

-- Volume 1 chapter 11 --

Musim dingin berlalu, dan musin semi datang.

Bunga-bunga bermekaran dan kupu-kupu berterbangan, terkadang mereka bertengger di jari.

Disebuah rumah besar dekat perbatasan Gui Li dan Bei Mo, Pingting menatap bosan ke arah langit.

“Kau semakin kurus akhir-akhir ini.” He Xia berdiri dibelakangnya, mengeluh. “Pingting, kau berubah.”

“Berubah?” Pingting tertawa kecil, mengerakkan jarinya sehingga kupu-kupu yang bertengger di jarinya terbang. Ia melihat keatas, “Siapa yang berubah? Pingting masih bernama Bai, masih pelayan Tuan, masih bermain kecapi untuk Tuan setiap hari.”

He Xia memperhatikan Pingting, sampai Pingting tak berani bertemu mata dengannya. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari belakangnya. “Untukmu.”

“Apa itu?” Pingting melihatnya dengan hati-hati, ternyata itu adalah pedang yang diberikan oleh Chu Beijie sebagai bukti janji gencatap senjata. “Ini adalah lambang perdamaian antara dua negara. Kau tak bisa begitu saja memberikannya padaku.”

“Chu Beijie memiliki kebiasaan, disetiap peperangan ia selalu mengenakan pedang di kiri dan kanan. Lambang perdamaian ini adalah pedang kirinya.”  He Xia berhenti sebentar, merendahkan suaranya dan berkata, “Pedang ini dikenal dengan nama Hati yang Pergi.”

Mata Pingting menatap pedang abad dua puluh itu, tangannya terbuka dan perlahan menyentuhnya, menggulang kata-kata Tuannya, “Hati yang Pergi.”

“Dan aku tidak mengerti mengapa waktu itu ia meninggalkan pedang yang paling penting, pedang kirinya, bukan pedang kanannya. Tapi sekarang aku mengerti. Ia meninggalkan pedang ini untukmu, karena jiwamu telah pergi dari dunia ini.”  He Xia menyerahkan pedang itu ke tangan Pingting, mengeluh lagi, lalu berjalan pergi keluar ruangan.

Hati yang pergi.

Pingting memeluk pedang itu, sarung pedang yang dingin menekan kulitnya.

Ia menatap jauh.

Benar, jiwanya telah hilang bersama tubuh yang menghilang diatas kuda.

Bagaimana aku bisa melupakan Chu Beijie?  Saat ini sedang musim semi, waktu yang cocok untuk mengagumi bunga-bunga.

Setelah segalanya dipersiapkan, ia menghabiskan siang dan malam, dengan hati-hati dan mantap, memikirkan tentang Chu Beijie.

Mengapa hatinya menjadi seperti lumpur yang berangsur-angsur meleleh di air, ia tidak tahu. Ia tidak mengingat tipu dayanya, perencanaannya, atau tindakannya yang telah memojokkan Chu Beijie pada kekalahannya. Ia hanya bisa memikirkan tiga malam itu, ketika di Kediaman Hua, waktu itu wajahnya sangat tulus dan bersungguh-sungguh saat berdiri berjaga.

“Orang seperti apa dirimu?” Pingting menaikkan kepalanya menatap awan. “Kau membenciku atau kau mencintaiku? Sebelum kepergianmu, apa kau berpura-pura cemas, atau kau berbohong padaku?”

Ia sangat lembut, siang dan malam. Itu benar.

Tipu muslihat dan kebohongannya, tidak salah juga.

Pingting sangat pintar, tapi ia sangat binggung saat ini seperti terjebak di pasir hisap, tak bisa menarik keluar dirinya sendiri.

Tiba-tiba merasakan tepukan di pundaknya, Pingting segera berbalik, terkejut.

“Hahaha, mimpi siang hari lagi?” Dongzhuo pura-pura menyeringai, tapi melihat wajah pucatnya, ia segera berhenti tertawa. “Eh, eh? Kenapa kau menangis?”

Pingting segera menghapus air matanya, melirik sekilas dan berkata, “Kau tak pernah serius. Kau akhirnya memutuskan untuk merubah kebiasaanmu itu setelah kecelakaan kemarin, tapi baru beberapa hari kebiasaan burukmu kembali lagi.”

Dongzhuo mengaruk kepalanya, memandang ke arahnya, duduk dan mengambil secangkir teh. “Aku datang untuk menjenggukmu dan menghiburmu. Tapi kau malah memarahiku, ingin menyuruhku pergi atau tak ingin diganggu olehku?”

Pingting merasa tidak enak hati ketika mendengarnya. Ia menundukkan kepala dan berguman, “kau tak perlu khawatir tentang aku, aku benar-benar sehat, dan aku akan baik-baik saja beberapa hari lagi.”

“Beberapa hari lagi? Kita akan pergi hari ini, jadi semangatlah.”

“Hari ini?” Pingting merasa ragu, “Kemana kita akan pergi?”

Dongzhuo terlihat kebingungan, sepertinya ia berpikir Pingting tahu segalanya. Sesuatu yang tidak benar, berkelebat di wajahnya, tapi segera menghilang secepat datangnya. Ia berkedip, “Aku hanya samar-samat mendengar Tuan mengatakannya dua kali, sesuatu seperti....’walaupun tempat ini telah menjadi tempat pelarian kita selama beberapa tahun, tapi masih termasuk daerah kekuasaan Gui Li, maka lebih baik kita segera pergi secepat mungkin.....’ Aku tidak tahu kemana kita akan pergi.” Ia mengaruk kepalanya berpikir keras, “Aku baru ingat, Tuan memintaku melakukan sesuatu. Dan aku belum melakukannya.”

Pingting melihat Dongzhuo pergi terburu-buru, lalu ia menatap lama pada kejauhan.

Tuannya dan Dongzhuo tidak bersalah untuk tipu muslihat di Gui Li.

Sejak kembalinya ia pada sisi Tuannya, ia serperti orang yang kehilangan jiwa. Orang-orang akan mengatakan sepuluh kalimat sementara ia hanya mengatakan satu kalimat yang terasa janggal.

Ia biasanya terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, tapi sejak ia jatuh ke tangan Dong Lin, pekerjaannya diserahkan pada para pelayan lain. Kepulangannya tidak memberi dampak pada kegiatan sehari-hari.

Seperti itulah, hidup terus berlangsung.

Tuannya benar, walaupun tempat persembunyian ini terasa aman, tetap masih dalam area dimana Raja bisa bertindak bebas, maka persiapan harus dibuat sesegera mungkin. Kalau dulu, ia pasti sudah menyadarinya lebih cepat dan memberitahu Tuan, tapi sekarang..... apa ia sudah kehilangan kecerdasannya ?

Dan seperti yang diharapkan, seorang pelayan datang untuk membereskan pakaiannya hari itu.

Pingting bertanya, “Kemana kita akan pergi ?”

“Aku tidak tahu.”

“Dimana Tuan?”

“Tuan sedang sibuk.”

Ia mengikuti mereka naik ke kereta dan ketika ia menyadari bahwa Dongzhuopun tidak kelihatan. “Dimana Dongzhuo ?”

“Bagaimana aku bisa tahu? Kak Pingting, jangan khawatir tentang hal itu dan duduklah dengan tenang selama perjalanan.”

“Tuan berada di kereta yang mana? Aku selalu duduk di kereta yang sama dengan Tuan.”

“Kak Pingting, Tuan ingin kau duduk di kereta bersama kami dan aku tidak tahu dimana Tuan.”

Hanya satu jawaban yang diberikan, dari setiap sepuluh pertanyaan, perjalanan cukup aman tanpa insiden sampai mereka akhirnya tiba di sebuah tempat. Sepertinya sudah dipersiapkan secara rahasia oleh orang-orang Jin Anwang beberapa tahun lalu.

Mencurigakan, Pingting akhirnya melupakan Chu Beijie dan memperhatikan keadaan sekitarnya.

Kegelisahaannya meningkat.

Ia belum melihat Tuannya dan ia tidak menyadari apa yang terjadi sebelumnya, tapi sekarang ia sadar.

“Dimana Tuan besar?”

“Tuan Besar tidak tahu kita sudah tiba disini.”

“Ini dimana?”

“Aku tidak tahu.”

Menyadari kalau si pelayan sama sekali tidak tahu apa-apa, ia mencoba pergi keluar mencari Tuannya, tapi ia dipegat di depan. “Aku ingin bertemu Tuan, tolong biarkan aku lewat.”

Tapi ia hanya mendapat tatapan kosong, “Tuan sedang pergi, ia akan menemuimu kalau ia sudah kembali.”

Ia tidak melihat He Xia untuk beberapa hari berikutnya dan ia hanya mendapat sedikit kabar. Pingting tidak bisa melihat sekitarnya, disamping dan di depan. Segalanya menjadi kabur.

Ia merasa kedinginan. Bagaimana keadaan bisa berubah begitu banyak dalam waktu yang begitu singkat.

Apakah orang-orang berubah atau dia yang berubah?

Kemudian sakitnya mulai kambuh.

Pingting terbangun di tengah malam, batuk. Ia dikirimkan seorang tabib, dan tabib itu sibuk sepanjang malam.

He Xia akhirnya muncul hari itu.

“Kenapa kau sakit lagi?” Dahinya berkerut dan berkata, “Kau tak pernah memperhatikan dirimu dengan baik. Lihar, kau menghancurkan tubuhmu lagi. Apa masalahnya ?” Ia sendiri yang membawa dan menyuapi obat untuk Pingting.

Pingting menatap He Xia dan ia tersenyum, “Tuan sungguh sangat sibuk akhir-akhir ini, aku bahkan tak bisa menemuimu lagi.”

“Aku takut akan mengecewakanmu. Aku takut kalau kau akan bekerja terlalu keras, jadi aku menyembunyikan segalanya yang akan membuatmu kecewa dan bekerja terlalu keras.”

“Tentang kelangsungan Keluarga Jin Anwang dan kita semua, apa Tuan sudah membicarakannya dengan Tuan Besar?”

“ya kan, ya kan. Sudah kubilang aku tak mau membuatmu khawatir. Aku sudah mengatur segalanya.”

Pingting bersandar untuk meminum obatnya, dan ia menutup matanya. He Xia tidak segera pergi.  Ia duduk disampingnya, dengan lembut memeluk pundaknya. “Tidurlah, kau begitu kurus sampai hanya tinggal tulang. Lebih banyak makanan dan tidur akan membuatmu lebih baik. Kau begitu pendiam akhir-akhir ini, tapi itu mengingatkanku ketika kau anak-anak dan biasa melempar piring ke mata air.”

“Menjadi anak kecil dan tidak bersalah sangat menyenangkan.”

“Kita masih bisa.”

Sebuah senyuman menghias wajah tirus Pingting, ketika ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Tuan, Chu Beijie pernah memberitahuku sesuatu.”

“Apa yang ia katakan?”

“Ia bilang; aku pelayan He Xia tapi tidak tahu kalau ia adalah seorang Jendral hebat. Mengapa hebat? Karena ia bisa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak. Nyawa seorang Bai Pingting... tidak sebanding dengan kedamaian selama lima tahun.”

He Xia menggelengkan kepalanya, “Gadis bodoh. Kau percaya semua kata-katanya selama ini?”

“Ia mungkin Panglima musuh, tapi aku percaya perkataannya.” Pingting melihat dengan lembut ke arah wajah He Xia dan berbisik “Tuan adalah seorang Jendral hebat.”

He Xia tidak menjawab.

“Pingting sejak kau datang, kau tak pernah memberitahuku apapun tentang Tuan Besar Zhen Beiwang.”

Chu Beijie sudah mencurigaiku sejak awal; walaupun aku sering berada di ruangan ketika ia membaca dokumen laporan resminya, aku tak bisa membaca sedikitpun isinya.”

Tak ada gunanya hidup di masa lalu.

Seperti tembok lusuh di Gui Li yang dulu pernah menjadi tembok megah dari Kediaman Jin Anwang.

Dengan mengalami kekalahan, bagaimana sifat seseorang tidak berubah?

“Gui Li sekarang memiliki waktu lima tahun, selama lima tahun, Raja bisa membentuk pasukan lebih kuat untuk melawan Dong Lin. Setiap langkah yang kita lakukan, berharga untuk negara kita. Tak peduli apa yang He Su katakan, bagaimanapun ia seorang Raja Gui Li, kalau ia tak suka dengan kita, kita tak bisa berbuat apapun untuk itu. Mulai sekarang, Kediaman Jin Anwang tidak lagi ada, kita akan bersembunyi di gunung dan tidak akan pernah muncul lagi di masyarakat.” He Xia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Tapi masalahnya adalah Jin Anwang memiliki banyak musuh hebat. Banyak yang berniat membunuh kita, termasuk Raja kita sendiri. Karena itu, keamanan kita bergantung pada satu hal, yaitu tempat persembunyian kita.”

Gemerak tulang membekukan hatinya seperti tali yang tiba-tiba menjerat nyawanya.

“Tuan...” Pingting mengertakan giginya, dan akhirnya mampu berkata, “Kau mencurigaiku?”

“Kau bertindak melawan Chu Beijie dan memenangkan perdamaian untuk Gui Li. Kau orang yang baik. Aku percaya padamu.” He Xia menaikan kepalanya, menutup matanya. Lalu ia membuka matanya dan bertanya dengan pelan, “Tapi Pingting apa kau percaya dirimu sendiri?”

Tujuh kata ini menghujamnya.

Pingting benar-benar terkejut. Kesedihan dan tidak percaya tersirat diseluruh wajahnya.

“Apa yang kau katakan?” Pingting berguman, setelah suaranya kembali.

He Xia tidak menjawab pertanyaannya, “Apa yang kau cengkram begitu kuat?”

“Hati yang Pergi.” Pingting menjawab, “Kau memberikannya kepadaku.”

“Bukan, Chu Beijie yang memberikan itu padamu.” He Xia mengeluh, “Kalau kau menolaknya waktu itu, aku akan melihat sedikit harapan. Aku berharap kau tidak kehilangan hatimu dan alasan untuk Chu Beijie. Tapi kau menerimanya. Kau hanya memikirkan tentang Chu Beijie, melupakan Gui Li. Ketika kau menerima pedang itu pernahkah kau berpikir kalau itu hanya sebuah lambang perdamaian antara dua negara untuk seluruh rakyat biasa.”

“Kalau aku melupakan Gui Li, apakah aku akan menyeret Chu Beijie dalam jebakan.”

He Xia menatapnya, “Cinta yang goyah lahir di tengah bahaya. Hanya ketika mereka berpisah, baru mereka menyadari betapa dalamnya cinta mereka.”

“Tidak...”

“Pingting sejak kau kembali, kau selalu menolak untuk duduk di kereta yang sama denganku. Kita selalu dekat seperti saudara sebelum ini. Hari itu, ketika ia membantumu turun dari kuda, yach, tidak setiap pria mampu melakukan hal seperti itu...”

“Sudah cukup, sudah cukup!” Pingting menggelengkan kepalanya, tenggorokannya terasa ada yang mengganjal. Ia menutup matanya, airmata bergumpal di bulumatanya. “Aku mengerti.”

Rencana serangan balik.



Memang benar ia menjebak Chu Beijie, tapi Chu Beijie juga menggunakan perasaannya yang sesungguhnya untuk menjebaknya.

Cinta ada, tipu muslihat juga ada.

Kebersamaan dengan Tuannya selama delapan belas tahun tidak ada apa-apanya di banding cara licik Chu Beijie yang sederhana.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Pingting menyadari betapa mudahnya ia terjatuh dalam jebakannya. Ia takkan pernah lagi mendapat kepercayaan He Xia sepenuhnya, karena kebenarannya adalah ia telah jatuh cinta pada Chu Beijie.

Di dunia ini, mereka yang jatuh cinta tak pernah bisa membuat keputusan yang jernih.

Kalau ia berniat bertemu Chu Beijie dikemudian hari, tindakannya akan sangat tidak bisa diperkirakan.

He Xia yang curiga padanya benar-benar tindakan yang wajar.

Sangat bisa diterima.

Itu rencana akhir Chu Beijie, untuk membuat hatinya rindu.

Matanya terbuka sampa fajar, ia mendengar ayam jantan berkokok, Pingting terburu-buru bangun dari tempat tidurnya. Ia meraba-raba sekitarnya, seperti kehilangan sesuatu, sampai akhirnya tanganya menyentuh ukiran yang dikenalnya di sebuah sarung pedang.

‘kepergian’ dan ‘Hati’, dua bentuk kuno yang terukir di sana.

Ia mengingat kembali saat Chu Beijie melemparkan pedangnya ke tanah, matanya penuh kemarahan kemudian mengingat apa yang baru saja dikatakan He Xia kepadanya.

Kalau saja ia tidak menerimanya, masih ada harapan.

Tapi kalau ia menerimannya....

Delapan belas tahun melayani dengan sepenuh hati tersapu bersih hanya dengan sebuah pedang.

Ia tidak suka menangis, tapi hari ini ia memiliki air mata lebih banyak daripada sebelumnya. Hatinya seperti air yang membeku. Ia ingin menagis tapi ia tak bisa.

Ia duduk dengan kaku di tempat tidurnya, merasa pikirannya berantakan. Ia menyentuh kepalanya.

Ia menyadari demam tingginya kembali ketika ia menyentuhkan jarinya yang dingin ke dahinya yang panas.

Seorang pelayan bernama Lingdang, dikirim oleh He Xia, datang dan bertanya dengan hati-hati bertanya, “Kak, sudah waktunya bangun?”

Ia menggulang pertanyaannya tiga kali sampai Pingting akhirnya mampu menjawab, “Eh?”

Lingdang membawa air panas, dan memegang pakaian bersih yang kemudian diberikan pada Pingting. Mereka selalu berpindah tempat dan segalanya berserakan di ruangan. Lingdang mencari-cari sisir yang biasa Pingting gunakan.

Pingting yang berdiri dibelakangnya berkata, “Tak usah dicari. Temukan Dongzhuo untukku.”

“Dongzhuo ?”

“Dia tidak disini ?”

Lingdang mengelengkan kepalanya, tersenyum, “Akan kucari.”

Matahari sudah terik, aroma musim semi semakin terasa kuat. Tirai manik-manik di pintu bergemerincing ketika Lingdang datang, berkelip terkena cahaya matahari. Saat itu, Pingting mengingat tirai di Kediaman Hua.

Ia dan Nona Hua bersembunyi di balik tirai, sembunyi-sembunyi melirik kearah tamu mereka.

Itulah, pertama kalinya ia melihat Chu Beijie.

Seorang diri di ruangan terasa sangat dingin, begitu dinginnya sehingga Pingting tidak begitu peduli dengan masa lalu. Setelah turun dari tempat tidurnya dan menemukan sisirnya, ia perlahan merapikan rambut hitam panjangnya disamping jendela, membiarkan matanya menatap warna-warna yang bersemangat di luar.

Bunga merah dan unggu setengah mekar. Rumput hijau tumbuh subur di samping kolam. Walaupun disini sangat indah tetapi segalanya terasa asing.

Ini bukan Kediaman Jin Anwang juga bukan Kediaman Zhen Beiwang.

“Naiklah ke kuda bersamaku dan ucapkan selamat tinggal pada He Xia. Mulai saat ini kau bukan lagi Bai Pingting melainkan Chu.”

“Kau hanya memikirkan tentang Chu Beijie, kau melupakan Gui Li. Ketika kau menerima Hati yang Pergi, pernahkah kau berpikir bahwa itu hanya lambang perdamaian antara dua negara untuk seluruh rakyat?”

Pingting mengerutkan dahi, seperti ingin mengakhiri hidupnya secepat dia bisa, tangannya mencengkram kuat dadanya sementara ia melihat kebelakang pada sebuah pedang di samping tempat tidurnya.

Hati yang Pergi.

Ia meninggalkan Chu Beijie, tapi ia juga tak bisa lagi kembali pada Jin Anwang. Bagaimana ia bisa, Bai Pingting, pelayan utama kepercayaan Tuan Muda Jin Anwang, penasihat perang wanita yang berpengalaman, gadis yang memenangkan lima tahun kedamaian untuk Gui Li, berakhir sebagi jiwa yang kesepian?

“Pingting,” terdengar suara Dongzhuo dibelakangnya, “Kau mencariku?”

Pingting meletakan sisirnya, berbalik dan bibirnya sedang tersenyum. “Aku ingin memberitahumu sesuatu.”

Dongzhuo terlihat sedikit terkejut, ia belum melihat Pingting beberapa hari ini. Ia sangat sibuk, tapi ia tahu sesuatu telah membuat Pingting sangat khawatir. Melihat temannya begitu putus asa, senyum isengnya segera menghilang, digantikan wajah serius, wajah dewasa. Ia merendahkan kepalanya, “Katakan.”

“Aku akan pergi.”

Hati Dongzhuo tenggelam karena tiga kata ini.

“Pergi ?” ia menyentakkan kepalanya, mencari-cari ke dalam mata hitam Pingting. Ia lupa akan semua masalahnya. Ia seperti terguncang, mencari-cari kata yang ingin ia ucapkan. Dan akhirnya ia berkata dengan janggal, “Apa Tuan sudah tahu?”

Pingting tertawa kecil, berbaring pada pinggir jendela, mengerakkan tanggannya. “Dongzhuo, kemarilah.” Mengenggam tangan Dongzhuo , ia berhati-hati mengatakan apa yang dipikirkannya. “Geez, kau selalu memanggilku Pingting ini, Pingting itu, tapi sesungguhnya aku lebih tua darimu beberapa bulan. Kau seharusnya memanggilku ‘Kak’.”

Dongzuo kecewa dan ia terpaksa berguman “Kak” sambil mengertakkan giginya.

“Anak baik,” Pingting sedang bertingkah seperti kakak perempuan, mengajarinya. “Hal yang paling sulit untuk seseorang adalah mengetahui kapan harus menyerang dan kapan harus mundur. Hari itu, aku menyerang Chu Beijie. Tapi hari ini, ini waktunya aku untuk mundur.”

“Tapi kau bagian dari Jin Anwang, lagipula, kemana kau akan pergi? Raja menangkap semua orang yang melayani Jin Anwang, termasuk kau, dan Chu Beijie sudah pasti akan memburumu.”

“Aku punya rencana sendiri.”

Rasa frustasi Dongzhuo yang terpendam akhirnya meledak, “Aku tahu Tuan mencurigaimu. Aku akan bilang pada Tuan kalau orang baik.”

“Kau tak boleh.”

“Aku tidak tahan lagi, kali ini kesalahan Tuan. Kalau ia tetap seperti ini, ia sama buruknya seperti Raja kita, ya kan?”

“Hentikan !” Pingting menariknya, menekankan setiap kata-katanya. “Tuan telah bertindak benar dengan curiga.”

Dongzhuo segera diam, mengerutkan dahi. “Aku tak pernah berpikir kalau kau akan memihak selain Jin Anwang kita.”

Pingting terlihat terkejut, tapi kemudian ia mengeluh. “Kau takkan mengerti walau kujelaskan. Dan, ketika aku pergi, katakan kalau kepergianku adalah yang terbaik. Untuk semuanya, untuk Tuan dan juga untukku. Tuan sedang sangat kesulitan saat ini, dan aku tak bisa membantunya hanya membuatnya kecewa.”

“Bagaimana kau bisa mengecewakan Tuan?”

“Dongzhuo...” Pingting melihatnya dengan lembut, tapi senyumnya pahit. “Berpikirlah seperti ini. Tuan tak bisa mengabaikan aku karena jasaku tapi ia juga tak bisa tenang karena mencurigai tindakanku. Ia tak berani untuk bertindak jauh, menyakiti atau membuatku sedih, aku sangat menyesal pada Tuan.”

“Tapi kalau kau pergi...”

“Ketika aku pergi, aku tak lagi berhubungan dengan Jin Anwang. Aku takkan bisa memberitahumu apapun, bahkan kalau aku ingin.”

Dongzhuo tetap mengellengkan kepalanya, “Tidak, kalau kau seperti itu, bukankah kau sangat tidak berterimakasih pada Tuan dan membuang kedudukanmu?”

Mata Pingting bersinar terang, “Karena itu aku butuh bantuanmu. Aku ingin pergi tanpa diketahui Tuan.”

“Tidak, tidak, tidak, aku tak bisa menyembunyikan apapun dari Tuan.”

“Tentu saja tidak, tapi Tuan akan berbohong padamu. Mau bertaruh, kalau ia tahu apa yang kita rencanakan, ia bukan hanya diam tapi juga sembunyi-sembunyi membantu rencana pelarianku.”

“Aku tidak bisa mengerti kau!” Dongzhuo mengaruk kepalanya, dengan cepat berjalan bolak balik ruangan. Lalu ia menyentakkan Pingting, “baiklah aku akan membantumu. Apakah salah Tuan atau bukan, yang aku tahu adalah kau orang yang tidak beruntung dan aku tahu kau takkan pernah menghianati Jin Anwang kita. Tapi... kemana kau akan pergi? Jangan lupa kau sedang sakit dan ini baru dua hari sejak...”

Pingting menyela, “Tidak, aku pergi malam ini.”

Suaranya pelan, tapi Dongzhuo bisa merasakan keteguhan tekadnya. Ia menaikkan alisnya, “Kalau kau tidak memberitahuku kemana kau akan pergi, aku tak mau membantumu. Kau akan sendirian diluar sana dan jika sesuatu terjadi padamu, aku takkan pernah bisa tidur nyenyak.” Tangannya menyengkram dadanya dan menatap Pingting.

“Setelah pergi darisini, aku akan bebas, jadi aku bisa pergi kemana saja aku mau dengan mudah. Kau tahu kalau banyak orang yang mencariku dan apa kau benar-benar berpikir kalau aku akan memberitahu seseorang yang agak ceroboh sepertimu? Tapi aku berencana menuju...” Pingting berbisik di telinganya, “utara.”

Bukankah musim semi datang terlambat di utara?

Dulu ketika ia masih tinggal di lingkungan istana, teman baiknya Yangfeng pernah menggatakan tanah impiannya adalah padang rumput yang tak berujung di utara, dimana ribuan ternak, domba dan kuda digembalakan diatasnya. Terkadang seekor kuda akan berlari memimpin dan kuda lain akan mengikuti, dan terdengar suara yang semakin kencang hingga memekakan telinga, seperti bumi akan terbelah.

Ia tak bisa tetap tinggal di Gui Li, sementara Dong Lin lebih berbahaya dari gua naga dan sarang singa.

Kenapa tidak Bei Mo

Dikejauhan, matahari merah siap untuk terbit. Pingting menarik napas dalam menikmati segarnya udara pagi. Ia telah terlalu lama beristirahat sehingga tulang-tulangnya terasa berkarat. Tempat ia tinggal tersembunyi di sebuah lembah dan hanya terkena sedikit matahari. Kapanpun ia pergi keluar, ia merasakan perasaan rindu ketika ia menatap langit yang luas. Ia melupakan segalanya ketika ia berpikir untuk secepatnya menemukan temannya di Bei Mo.

Senyum yangfeng lebih bersinar dari yang pernah ia lihat.

--0--





novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar