Minggu, 10 Mei 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.10

-- Volume 1 chapter 10 --


Para serangga telah lama menghilang untuk tidur panjang karena sekarang sudah masuk malam musim dingin. Bulan sabit di atas awan, memancarkan aura dingin, malam yang pucat.

Ia merasa gusar selama berjalan menuju penjara bawah tanah.

Berdasarkan pengamatannya selama beberapa hari terakhir ini, ia menyadari bahwa melewati para penjaga seperti menjadi agak mudah. Sementara Pingting berjalan, ia melihat beberapa pelayan, mereka melambai padanya lalu dengan cepat menghilang.

Sekitar pergi ke sekitar gunung buatan dan pohon bambu, dan akhirnya ia tiba dipintu masuk penjara bawah tanah.

Penjaga penjara melihat seseorang menghampirinya dari kejauhan dan ia terkejut melihat bahwa itu Pingting. Ia menyapanya dengan senyuman.

“Mengapa Nona Yangfeng memutuskan untuk mengunjungi kami? Saat ini udara sangat dingin.”

“Aku kehilangan tusuk konde, aku sedang mencarinya.”

“Sebuah tusuk konde?” Penjaga merasa ragu, “Apakah tidak tertinggal di kamar Nona?”

“Aku sudah mencarinya, tapi tidak ada. Sepertinya hilang saat aku berada di sini.” Pingting memelankan suaranya, “Aku mendapatkannya dari Tuan Besar pagi ini dan aku baru memakainya sekali. Bagaimana aku akan menjelaskan pada Tuan besok pagi? Tolong, Tolong bantu aku mencarinya.”

“Itu...” Penjaga merasa ragu-ragu. “Penjara ini tempat yang penting, dan biasanya terlarang untuk dimasuki.”

“Bukankah aku sudah masuk pagi ini?”

Si penjaga mengatupkan mulutnya tapi ia berpura-pura riang. “Nona, apakah kau sedang menilai pekerjaanku? Kalau Tuan Besar bertanya....”

Pingting segera menyelanya, dan berpura-pura anggun. “Kalau begitu bisakah kau masuk kedalam dan mencarinya untukku? Cari pelan-pelan ditanah dan di ruangan. Aku akan menunggu disini.” Lalu ia mulai batuk, berpura-pura sakit karena udara dingin.

Angin utara sangat menusuk. Bahkan si penjaga merasa kedinginan, dan sekarang ketika mendengar Pingting terbatuk batuk, membuatnya gelisah. “Nona, tolong kembalilah ke kamar. Nanti ketika aku sudah menemukannya, aku sendiri yang akan mengantarkannya kepada Nona.”

“Tidak, tidak, menunggu lebih baik. Uhuk, uhuk, uhuk....uhuk.... Aku...uhuk.... dadaku terasa sesak, kepalaku serasa seperti terbakar, tapi aku tidak kedinginan.”

Kata-katanya membuat si penjaga terkejut.

Si Penjaga tahu kalau Tuan Besar sangat menyayangi gadis ini. Untuk merawat sakitnya, Tuannya memilih tabib terkenal Chen Guanzhi. Dan sangat bisa dipastikan kalau nantinya akan menjadi istri resmi disini, Nyonya Besar mereka. Kalau ia sakit karena berdiri diluar penjaranya, maka....

Setelah beberapa kali mempertimbangkan, kepala penjara sambil mengertakan gigi berkata, “Setelah kupikirkan matang-matang, kau boleh masuk. Didalam lebih hangat. Dan kau akan lebih yakin kalau mencarinya sendiri.”
Lalu ia membuka pintu penjara yang besar, membiarkan Pingting masuk dan dengan hati-hati menutup pintu dibelakangnya.

Di ujung lain ruangan hitam dan gelap, disana berbaring Dongzhuo.

Ia tidak merasa dingin. Darah kering menutupi tubuhnya rasanya seperti neraka seribu tahun. Begitu lekatnya, sehingga sedikit gerakan saja bisa membuka lukanya.

Ia bersandar di dinding, berusaha menyimpan tenaga sebanyak mungkin.

Creak....

Suara pintu penjara dibuka memecah kesunyian. Sebuah cahaya api mendekat.

Mata Dongzhuo berkedip.

“Dongzhuo?” Pingting muncul di pintu, memegang sebuah obor menyala.

Mulut Dongzhuo terbentuk senyuman, memukul ringan seperti tingkah nakalnya yang biasa. “Aku sudah menunggumu.”

Ia bangun berdiri, luka dikakinya mengancamnya untuk menyerah.

Wajah Pingting bersinar kearahnya, tersenyum dan rantai bergemerincing.

Setelah Dongzhuo dibebaskan, ia bertanya, “Apa yang terjadi dengan para penjaga diluar.”

“Pingsan.” Pingting memutar bola mata hitamnya. “Aku bahkan tidak menggunakan bom gas obat tidur.”

“Maksudmu resep yang hampir membuat seluruh penghuni Jin Anwang tertidur?”

Pingting menaikan ujung bibirnya dengan bangga. “Ikuti aku.”

Mereka meninggalkan penjara, kepala penjara dan tiga penjaga lainnya tergeletak di tanah di depan pintu penjara. Mereka berdua telah melewati banyak peperangan sehingga mereka segera bertukar pakaian penjaga tanpa perlu mengucapkannya. Pingting sangat tahu seluk beluk kediaman, ia memimpin jalan dengan pasti.

Langit masih gelap dan anak penjaga kandang masih tertidur lelap.

Dongzhuo memilih dua kuda terbaik. Satu untuk Pingting dan satu lagi untuknya.

“Sepertinya Chu Beijie masih belum kembali, syukurlah.” Pingting melihat ke langit. “Saat ini, Tuan Zhang pasti sedang menjaga pintu belakang. Ia tidak terlalu kuat, jadi jangan terlalu melukainya.”

Setelah mereka menjatuhkan Tuan Zhang, mereka keluar lewat pintu belakang kecil. Seperti itulah, mereka telah melarikan diri dari Kediaman Zhen Beiwang, tanpa banyak masalah.

Mereka tersenyum satu sama lain, tidak perlu perayaan.

Lagipula, semakin jauh mereka pergi, semakin aman.

Segera, mereka telah meninggalkan dinding kota, berderu melewati ladang rumput kuning dan pepohonan.

Berpikir kalau mereka sudah melawati bahaya, mereka memelankan kudanya sedikit.

Keduanya sudah sangat lelah, maka mereka memilih sebuah tempat dan beristirahat.

Dongzhuo menundukkan kepalanya, berpikir keras. Ia tak bisa menahan tanyanya, “Aku sebaiknya bertanya tentang hal ini dikemudian hari tapi.... Pingting, bagaimana kau bisa berada di Kediaman Chu Beijie?”

Senyum di bibir Pingting bimbang sejenak tapi ekpresi wajahnya segera kembali normal. “Mendekatlah. Biar kuberitahu kau.”

Dongzhuo berbaring mendekat dan Pingting berbisik di telinganya. Apa yang didengarnya membuat wajahnya berubah dan setelah Pingting selesai, ia menyentakkan kepalanya menatap Pingting.

Pingting tetap berwajah biasa, “Kenapa?”

“Jadi begitu ceritanya.....”

“Baiklah, kembali ke permasalahan utama.” Pingting berkata, “Kediaman Zhen Beiwang telah kehilangan seorang tahanan. Chu Beijie pasti akan mengirim pasukan untuk mengejar kita. Salah satu dari kita harus mengalihkan perhatian para prajurit, yang lainnya kembali ke Tuan.”

“Pingting, kurasa sebaiknya kita menyerah.”

Wajahnya menjadi dingin, “Bagaimana mungkin kita menyerah sekarang? Aku akan ke arah timur dan kau ke barat. Pergilah.”

Dongzhuo tidak menjawab, jadi Pingting mendorongnya naik ke kuda dan menepuk punggung kuda. Ia menyaksikan Dongzhuo dan kudanya perlahan mulai menghilang di kejauhan.

“Pingting akhirnya bisa bertemu lagi dengan Tuan.” Ia memastikan Dongzhuo telah benar-benar menghilang, sebelum ia berjalan ke arah sebaliknya.

Pingting ternyata benar, salju segera turun. Di pagi hari, matahari muncul sebentar menampakkan cahayanya sebelum tiba-tiba muncul awan tebal dan segera menjadi gelap menutupi langit.

Pingting, yang masih berada di atas kuda, tahu kalau didepan sana awan akan semakin tebal.

“Ah, ini kepingan salju yang besar.” Ia meraihnya, mengapai sebuah kepingan salju di udara. Ia melihatnya mencair di tanganya yang beku, dan ia tersenyum seperti anak kecil .

Ia belum melihat lagi, salju yang menyenangkan untuk waktu yang lama.

Untuk beberapa tahun terakhir, Tuannya selalu memanggilnya keluar pada waktu waktu seperti ini. “Cepat! Waktunya menikmati salju, jangan lupa kecapi, ingat bawa kecapinya.”

Walaupun Tuan sedang sembunyi, ia seharusnya bahagia dengan salju ini, ya kan?

Ia tidak berkuda dengan cepat, dan biasanya akan terlihat pemandangan sekitar yang semakin memutih. Ia sudah melepaskan mantel bulu srigala putih diatas kudanya untuk ia kenakan di badannya.

Chu Beijie memberinya mantel itu beberapa hari lalu. Sepertinya buatan khusus daerah Dong Lin. Sangat nyaman di gunakan, dan sepertinya tidak ada angin sedikitpun yang bisa menembusnya. Dan karena ia sudah memperkirakan akan turun salju maka ia sudah mempersiapkannya.

“Dimana ada masalah, disana ada pahlawan; Dimana ada pahlawan, disana ada wanita cantik; Bertahan dari bencana, bertahan dari bencana....”

Walaupun udaranya dingin, suasana hati Pingting sedang baik dan ia menikmati pemandangannya, maka ia mulai bernyanyi.

Pikirannya sibuk walaupun wajahnya tersenyum, dan tidak diragukan ia sedang kebingungngan.

Tapi suaranya tetap lembut seperti biasa.

“Jika ada pasuka, akan ada kemasyhuran; Jika ada kemasyhuran, akan ada kecurangan; Prajurit tahu kecurangan, prajurit tahu kecurangan....”

Ia tiba-tiba teringat Chu Beijie.

Wajahnya merona merah dengan cepat, seperti baru saja dipakaikan perona pipi.

Orang itu, pria itu. Pinting berhenti bernyanyi, dan perlahan bersenandung. Tak ada kata-kata yang bisa mengambarkan dia.

Salju turun lebat tiga hari berikutnya, dan ia terus menunggang kuda menuju timur.

Tiga hari kemudian, salju berenti. Ia sudah tiba di perbatasan Dong Lin. Ia berhenti di tempat sehari perjalanan lagi menuju Gui Li.

Tanah berwana putih.

Pingting berhenti dan bertanya pada orang yang lewat untuk pertama kalinya.

“Permisi, Tuan, apa kau tahu dimana Bukit Tiga Bayangan ?”

“Lurus kedepan. Kalau menemukan sebidang tanah yang digunakan para pengembala domba? Lewati dan dipersimpangan belok ke kanan. Kau akan tiba disana sekitar setengah hari dengan kuda.” Orang tua itu memegang makanan yang di awetkan untuk musim dingin. Ia menatap Pingting, “Udara sangat dingin, apa kau tetap akan pergi?”

“Yep!” ia berterimakasih pada orang tua itu, lalu berguman, “Domba di sebidang tanah....”

Itu tepat di depan.

Ia memikirkan, Tuannya akan tersenyum dan bagaimana reaksi Tuannya ketika melihat dirinya.

Ia tak bisa menahan kegembiraan di hatinya; ia memacu kudanya berlari lebih cepat.

Ketika tiba di sebidang rumput tipis, ia melihat jalurnya adalah sebuah lembah yang cukup lebah, bisa dilewati oleh tiga kuda berjajar, langit di depan menampakkan sebuah celah tipis.

Abu-abu putih terang bersinar melewati celah.

Pingting berhenti di pintu masuk.

Angin yang datang dari arah lembah sangat dingin, sampai menusuk ke tulang. Udara dingin bertemu suara gemerincing baru kericil.

suasananya seperti pertanda tidak baik.

“Para pengejar...” Pingting berkeluh lembut, seperti sudah merasakan bahaya. Ia segera menyentakkan kudanya dan memacu kencang.

“Lari !”

Kuda hitam kecil itu sepertinya juga merasakan bahaya. Mereka berada dibelakang perbatasan lembah.

Lalu datang pemangsa yang menakutkan.

Mereka bisa mendengar deru langkah kuda dibelakang mereka. Dan tiba-tiba mereka terlihat, seperti iblis muncul dari dalam tanah.

Pasukan pengejar, pasukan pengejar!

Pasukan Panglima Zhen Beiwang sudah disini!

Seperti, mereka berusaha untuk mengalahkan putihnya bumi.

Mereka semakin dekat dan dekat, dan hampir melewatinya. Sulit untuk dibayangkan – hawa pembunuh di udara dan para prajurit dengan pedang bersinar di cahaya silver.

Pingting tidak melihat ke belakang, hanya memacu kudanya lurus ke depan.

Seseorang berteriak di belakang, yang segera digantikan rasa cemas.

“Yangfeng!” terdengar suara yang sangat dikenalnya, menyapu lembut telinganya.

Chu Beijie disini.

Tubuh rampingnya gemetar, tapi Pingting berpura-pura tidak mendengar, ia tetap memacu kudanya kencang.

Lebih cepat, lebih cepat! Angin menebas wajahnya, terasa sakit.

“Bai Pingting !” suara yang sama, kecuali kali ini penuh kemarahan.

Pingting berguncang.

Ia tahu betul suara orang itu.

Ia mengatakan; kalau mereka tidak akan berpisah.

Ia mengatakan; jika musim semi tiba, ia sendiri yang akan memilihkan bunga untuknya setiap hari.

Tapi sekarang ia sangat marah seperti singa yang mencium darah.

Ia mencoba usaha terbaiknya untuk memacu kudanya dengan memecutnya lagi.

Tapi sebelum pecutnya mengenai kuda, seseorang telah mengambil pecutnya dari tangannya dan melilitkan tangannya di pundaknya, seperti ingin menegaskan sesuatu. Chu Beijie telah berada dibelakangnya diatas kudanya.

“Ah !” Pingting berseru, sepertinya ia jatuh ke pelukan sesuatu yang siap meledak.

Pingting membuka matanya dan ia melihat sepasang mata berbahaya menatap ke arahnya.

“Kau melarikan diri sangat jauh.” Ia menggunakan satu tangan untuk mengendalikan kuda dan yang lainnya untuk menahan tawanannya. Chu Beijie memaksakan senyuman, “Lihat dirimu, sangat tidak patuh, dan pergi sejauh ini.”

Meskipun tahu berbahaya, Pingting harus menanyakannya, “Kapan kau menyadari kalau namaku Bai Pingting?”

“Hmm, Belum terlalu lama.” Chu Beijie mengamati sampai ke bawah, seperti memperhitungkan sesuatu.

Leher ramping, tangan putih, wajah yang lembut.

Matanya terlalu tenang. Gadis ini benar-benar tidak tahu seperti apa penyiksaan itu, juga tidak tahu bagaimana bahayanya kemarahan dari seorang Panglima Zhen Beiwang.

Bagaimana aku akan menghukumnya?

“Dimana Dongzhuo?” Pingting berhenti melawan karena tahu, mustahil untuk bisa melepaskan diri dari lengan Chu Beijie.

“Berhasil kabur, jangan khawatir, aku akan menangkapnya segera, dan kau akan bisa mengadakan pertemuan yang bahagia.” Chu Beijie membalas dengan dingin, “Bukit Tiga Bayangan ?”

Pingting mulai tertawa kecil.

Suara Chu Beijie menjadi lebih manis, “Aku lebih takut kalau kau menangis. Air matamu benar-benar melukai hatiku.”

Pingting berhenti tertawa, “Tuan pasti punya sumber yang sangat terpercaya.”

“Benar.”

“Kau pasti curiga pada identitasku sejak awal. Kau menangkap seseorang dari Jin Anwang untuk membuktikan kebenarannya.”

“Kau mungkin benar. Kalau saja kau membiarkan aku membunuhnya, aku takkan mencurigaimu lagi.”

“Tuan berpura-pura pergi dengan sengaja, tapi kemudian mengikuti kami setelah aku menyelamatkannya. Kau melakukan ini semua untuk menemukan tempat persembunyian Tuanku He Xia.”

Chu Beijie menatapnya dengan kagum. “Satu pasukan sudah berkumpul di Bukit Tiga Bayangan, jadi teknik berdalihmu tidak berguna.”


“Pelukan Tuan selalu membawa kehangatan.” Pingting sepertinya ingin menyerah, ia menutup matanya dan dengan patuh mendekat ke Chu Beijie dan berkata, “Kalau Tuan begitu kuat, mengapa tidak berhasil menangkap Dongzhuo?”

Suara Pingting telah membuat Chu Beijie berpikir tentang sesuatu, lalu ia berteriak, “Mundur! Keluar dari tempat ini!”

Pingting tersenyum lembut, “Terlambat.”

Wajah setiap orang seperti ditampar.

Mereka belum mengerti sampai terdengar suara panah di atas kepala mereka. Mereka melihat keatas, melihat begitu banyak panah mengarah pada mereka dari dua sisi.

Dengan panah yang sebanyak ini, bahkan pejuang hebatpun akan kesulitan melarikan diri.

“Ini sebuah penyergapan!”

“Ah! Orang-orang Jin Anwang!”

“Berengsek! Lari! Ah....”

Banyak prajurit berteriak berusaha melarikan diri dengan kuda mereka, tapi panah-panah tanpa ampun menembus tubuh mereka.

Mereka tetap berteriak, dan prajurit berjatuhan dari kuda mereka.

Kuda-kuda meringkik ketika darah bercipratan kemana-mana.

Panah-panah hanya mengarah pada mereka yang berusaha melarikan diri. Beberapa orang di atas bukit berteriak, “Mereka yang menyerah tidak akan dibunuh! Mereka yang menyerah tidak akan dibunuh!”

Sudah sangat jelas kalau pemenangnya sudah ditentukan.

Chu Beijie tahu ia sudah terlalu ceroboh, dan ini akan meninggalkan noda pada riwayatnya. Ia menaikkan tangan dan berteriak, “Berhenti bergerak. Kalian semua turun dan pegang kuda kalian.”

Ia menggulang perintahnya dua kali lagi dan para prajurit menjadi tenang. Seperti yang diperintahkan, mereka turun dari kuda dan mereka semua berkumpul disekitar Chu Beijie. Pasukannya mengeluarkan pedang dan semacamnya, mata pisau mereka bersinar terkena cahaya.

Ia melihat kebawah dan melihat sepasang mata cerdik.

“Jadi kau memilih acak sebuah tempat untuk meninggalkan si brengsek itu. Dan pertanyaanmu pada oran tua itu sebenarnya perangkap untuk menangkapku.”

“Tuan terlalu menyanjungku. Tempat ini sulit untuk di temukan, dan membuat Dongzhuo menghilang dari mata-matamu membutuhkan banyak pemikiran.”

Perjalanannya yang lambat melewati salju, termasuk cara untuk memberi Dongzhuo cukup waktu, agar sempat melapor pada Tuannya. Untungnya ia telah membaca banyak tentang lembah ini yang berada di pinggiran Dong Lin. Sangat membantu perencanaannya.

Chu Beijie memikirkan perkataannya. “Sayangnya, kau salah perhitungan tentang satu hal.”

“Oh ?”

“Kalau tidak, mengapa kau berakhir di tanganku?” Setelah jeda sejenak, ia menambahkan, “Kalau ribuan panah mengarah padaku, walaupun aku takkan hidup lama, aku ragu kau juga.”

Pingting menaikkan alisnya dan dengan suara pelan berkata, “Aku sudah menjualmu. Jadi tidak masalah kalau aku menemanimu sampai mati ya kan?”

Mata tajam Chu Beijie menatap rambutnya, mengancam menusuk tengkoraknya. “Itu pertanyaan yang tidak perlu dijawab, lagipula, aku tak yakin kau ingin mati.”

Pingting menjawab, “Tuan memang seorang pahlawan, jadi tentu saja anda tidak akan suka mati sia-sia ya kan? Sebernarnya, aku tidak benar-benar menginginkan kematian Tuan, tapi Tuan harus berjanji satu hal. Satu hal dan semua busur dan panah itu akan menghilang tanpa perlu melukai seorangpun.”

“Katakan.”

“Mudah, untuk lima tahun kedepan, tentara Dong Lin tidak boleh memasuki atau menyerang Gui Li.”

Chu Beijie memelankan suaranya, “Hanya Raja yang bisa membuat keputusan seperti itu.”

“Tuan adik dari Raja dan juga seorang Panglima terbaik, jadi pasti Tuan memiliki beberapa pengaruh benar kan? Gui Li mendapat lima tahun ketenangan sebagai ganti nyawa Tuan, aku rasa itu cukup sebanding.” Pingting mengigit bibirnya dan merendahkan suaranya juga, “Kalau kau hidup, aku hidup. Kalau kau mati, aku hanya bisa menemanimu di kematian.”

Chu Beijie menyadari kalau ia sedang memeluk seorang wanita yang sangat licik, tetapi hatinya menolak untuk menyerah.

Perlahan, ia bisa mengingat bekas sentuhannya.

Pingting bisa sangat lembut, tapi juga bisa penuh muslihat tak terbatas, banyak tipu daya.

Chu Beijie mengertakan giginya, urat di lehernya semakin menonjol.

Ia tak pernah dimanipulasi oleh siapapun.

Ini sungguh penghinaan yang tidak termaafkan.

Pingting tidak menyadari kemarahan Chu Beijie.

Hatinya menjadi kacau ketika melihat wajah Chu Beijie.

Ia tak mampu menahan pemandangan yang menyesakkan napas itu, maka ia mendesak dengan lembut, “Tuan, Tuan harus membuat keputusan sekarang juga.”

Pikirannya kosong.

“Ha, ha, hahahahha!” Chu Beijie menolehkan kepalanya kebelakang dan tertawa, mereka yang melihatnya bertanya-tanya apakah dia sudah gila. Ia menatap marah kepada Pingting, matanya penuh kebencian. “Sesuai keinginanmu.”

Mengeluarkan pedang kesayangannya yang tergantung dipinggangnya, ia melemparkannya ke tanah dengan sekuat tenaga, begitu kuatnya hingga cukup untuk menyalakan api.

“Aku, Panglima Zhen Beiwang dari Dong Lin, Chu Beijie, berjanji atas darah kerajaanku, untuk lima tahun kedepan, takkan ada prajurit Dong Lin yang akan menginjakkan kaki di daerah kekuasaan Gui Li. Aku meninggalkan pedang ini sebagai bukti janjiku.”

Suaranya yang penuh kebencian bergema di lembah, seperti ratapan kesedihan menjelang ajal. Suaranya terdengar jelas dan lantang. Segera setelah Chu Bejie mengucapkan ini, seseorang turun dari atas bukit melihat ke bawah dan tersenyum. “Tuan Besar Zhen Beiwang memang seorang pria sejati, Aku He Xia percaya kau akan memegang janjimu dan atas nama para petani yang tidak ingin bertarung, aku mengucapkan terima kasih.”

Disanalah, Tuan Muda Jin Anwang, terlihat anggun tapi tidak menyolok, mengenakan pakaian seputih salju. Ia adalah orang yang paling ingin di bunuh oleh Raja Gui Li saat ini.

Pingting melihat Tuannya dan berseru dengan gembira “Tuan !”

He Xia menoleh ke arahnya dan mengangguk. “Pingting, kau sudah berusaha keras, Aku...” kata-katanya berhenti di tenggorokkannya, seperti terlalu pribadi untuk diperdengarkan. Ia menatap Chu Beijie, “Tolong, lepaskan pelayanku. Kita telah membuat kesepakatan, Tuan Besar Zhen Beiwang anda boleh pergi. Kami takkan menyerangmu.”

Chu Beijie tidak mengatakan sepatah katapun, hanya menlihat sekilas ke arah Pingting.

Kembali?

Melepaskannya. Ia membantunya turun dari kuda. Tindakan yang sederhana, tapi Chu Beijie tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk Pingting lebih dan lebih erat.

Wanita langsing ini, yang sangat beracun seperti ular dan scorpio yang akan memanfaatkan dirinya tanpa berpikir dua kali. Ia seharusnya menganggapnya sebagai musuh, yang harus segera dibunuh begitu ada kesempatan.

Tapi ia tetap memeluknya.

Tak mau melepasnya... pergi.

Tubuh hangatnya, ujungjarinya yang langsing dan wajah lembutnya yang mendingin karena salju.

Tanganya menyabu bibir Pingting.

Seperti yang biasa ia lakukan.

Ia telah terbiasa mendengarkan permainan kecapinya, terbiasa mendengarkan candaannya tentang cuaca, terbiasa dengannya yang berbaring malas di tempat tidur sepanjang malam ketika ia membaca dokumen kerjanya.

Kalau saja ia tahu siapa gadis ini sebenarnya, ia bisa mencegah hal ini terjadi, dan tetap bersamanya dalam damai.

Kebahagiaannya hanya menjeratnya dalam perangkap.

Ketika ia berpikir ia sudah menangkapnya, tiba-tiba ia mengembangkan sayapnya dan terbang kembali ke Tuannya.

Tetap ia tak mampu untuk melepaskannya.

Ia terbiasa menyentuhnya, memeluknya, menciumnya. Menciumnya....

Kebenciannya semakin dalam, dan rasa cintanya semakin memudar.

Ia terbiasa....

Diantara bumi dan surga, wanita ini sangat kejam seperti iblis dan orang yang paling dibencinya, tapi diantara bumi dan surga juga ia wanita yang paling lembut, sangat lemah lembut.

Dan ia dengan susah payah mendapatkan wanita yang luarbiasa ini.

Chu Beijie menutup matanya, berpikir bagaimana mempertahankannya.

“Tuan, tolong lepaskan pelayanku,” terdengar suara pelan dari He Xia.

Chu Beijie sepertinya terbangun dari masa lalu kembali pada kenyataan. Ia menatap ke bawah, wanita ini masih disini, menatapnya dengan matanya yang bersinar.

“Tuan, tolong biarkan aku pergi,” ia berbisik.

Chu Beijie tak yakin ia mendengar dengan benar.

Pergi? Kemana kau akan pergi?

Kau berbohong padaku, kenapa aku harus membiarkanmu pergi hanya karena kau berkata serperti itu?

Diseluruh dunia ini, aku hanya menginginkanmu, hanya kau.

Kebencianku sangat kuat, tapi cintaku juga sangat dalam. Aku menginginkan tubuh dan hatimu, kau tak bisa melarikan diri.

Chu Beijie membalas dengan angkuh, “Aku hanya menjanjikan kedamaian Gui Li selama lima tahun, aku tidak berjanji untuk melepaskanmu.”

Pingting mengelengkan kepalanya dan berkata, “Prajurit Tuanku belum pergi. Situasi ini tidak menguntungkanmu.”

“Seperti yang diharapkan dari seorang penasihat militer wanita He Xia.” Mulut Chu Beijie menutup rapat, tapi kemudian ia tersenyum, “Kau pikir apa yang akan terjadi kalau aku membunuhmu disini saat ini?”

Pingting sama sekali tidak takut, ia malah tertawa manis, “Pingting akan mati bersama Tuan di hari dan waktu yang sama.”

“Salah.” Chu Beijie menjawab dengan santai, “He Xia takkan mengijinkan seorangpun memanahku. Ia akan membiarkan aku pergi dengan selamat, selama aku bisa menjaga janjiku atas kedamaian Gui Li.”

Sebuah keraguan melintas di mata Pingting, walaupun hanya sekejab dan segera kembali normal. Tapi tidak terlewatkan oleh mata tajam Chu Beijie.

Chu Beijie berseru, “Kau seorang pelayan He Xia, tapi kau tidak tahu kalau Tuanmu seorang Jendral hebat? Apa itu hebat, kau tahu, ia membedakan mana yang penting dan mana yang tidak. Nyawa seorang Bai Pingting tidak sepadan dibanding kedamaian Gui Li selama lima tahun.

Pingting ragu sesaat tapi kemudian ia berkata, “Tuan, apa kau begitu membenciku?”

Chu Beijie memandangnya sangat dalam, tapi tak berkata sepatah katapun.

Pingting tersenyum pedih. “Baiklah. Bunuh aku.”

Setelah ia berkata seperti itu, kakinya mendarat di tanah dengan lembut. Lalu ia melihat ketas, menatap pria yang sudah dikenalnya dan sangat mempesona.

“Ini kesempatan terakhir.” Chu Beijie mengeluh. “Naik keatas kuda bersamaku dan ucapkan selamat tinggal pada He Xia. Mulai sekarang dan selanjutnya namamu bukan lagi Bai Pingting tapi kau akan menjadi keluarga Chu.”

Kata-katanya menguncang Pingting, setelah penghianatan yang dilakukannya, ia masih memberinya kesempatan. Bagaimana aku tidak merasa berterimakasih?

Matanya Chu Beijie menatap lurus kearahnya, memancarkan cinta mereka yang meluap.

Pemain kecapi dari Kediaman Zhen Beiwang.

Bunga-bunga telah menghilang ke sebuah tempat yang tak seorangpun mengetahuinya.

Aku jiwa yang tersesat di dataran putih bersalju, dan kau mata pisau paling tajam di dunia. Diantara kita terbentang gunung kebencian dan penghianatan.

Gunung yang sangat tinggi tertutup salju. Kau tak bisa melihatku, aku tak bisa melihatmu.

Hati yang terluka, takkan pernah kembali utuh.

Pingting melihat dikejauhan He Xia sedang menunggu. Ia mengigit bibirnya dengan kuat, mundur selangkah sebelum berkata, “Tuan silakan pergi. Pingting tak bisa mengantarmu.”

Wajah Chu Beijie menjadi dingin tanpa ekspresi. Ia mengangguk.

“Baiklah, baiklah, baiklah....” ia menjawab dengan dingin, “Suatu hari, aku akan membiarkanmu tahu bagaimana rasanya kepiluan yang mengerikan.” Dengan itu, ia berbalik, mencabuk keras kudanya.

Kudanya meringkik keras sebelum berlari kencang, meninggalkan awan debu di belakangnya.

Tubuh yang kesepian menuju matahari.


--0--



novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar