Kamis, 28 September 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.67

-- Volume 3 chapter 67 --



Qierou, Yun Chang. 

Suasana di dalam kota masih tenang dan damai. Para penduduknya sama sekali tidak tahu kalau kota kecil mereka telah dijadikan sasaran utama oleh Panglima Zhen Beiwang, mereka terus melakukan kegiatan sehari-hari seperi biasanya.

Kemarahan sang Gubenur masih terus berlanjut.

Tak sulit bagi para bawahan Gubernur untuk mengetahui bahwa kedua Tamu itu sedang berusaha mencari-cari kesalahan sang Gubernur sambil mencampurnya dengan kesalahan yang mereka perbuat sendiri di dalam kota Qierou. Bahkan tanahpun memiliki batas kesabaran, kemampuan sang Gubernur untuk menoleransi mereka bisa dikatakan luar biasa hebat.

“Mereka kembali lag?”

“Benar.” Pegawainya merasa tidak nyaman. “Setelah mengantar mereka pergi, mereka kembali lagi di keesokan harinya.”

Bibir Fanlu dirapatkan dan pandangannya ke belakang.

Duijung segera melangkah maju, menunduk dan melapor dengan suara pelan, “Perak-perak telah dikirimkan sesuai perintah Tuan.”

Fanlu menghela napas, mereka berdua sungguh serakah.

Meskipun hal ini diluar dugaannya, siapa suruh ia mengikuti orang yang salah, menjadi salah satu orangnya Pejabar Senior Gui. Keluarga Gui telah jatuh, dan ia selalu di hajar oleh Pejabat lainnya. Kalau tidak, bagaimana ia bisa begitu kacau hanya karena dua orang Petugas ini.

Bahkan alis mata pegawainya sangat berkerut. Dan janggutnya pun banyak berkurang.

“Tuan.” Pegawainya melanjutkan perkataannya, “Mereka berdua tidak mau pergi karena mereka melihat kalau Qierou sangat kaya. Kudengar terakhir kali mereka berdua pergi ke kota Xian Na, Gubernur disana memberikan mereka dua batu rubi merah sebesar hati ayam, dan mereka pergi dengan gembira. Mungkin sebaiknya…”

Fanlu mengerutu, “Batu rubi sebesar hati ayam? Dimana kita bisa menemukan batu rubi sebesar hati ayam? Kita sudah memberikan mereka banyak sekali uang.”

Duijing berdiri di samping Fanlu sambil menghela napas.

Fanlu berbalik ke depan, dan pegawainya melangkah mundur.

“Tuan, sebenarnya caranya mudah saja.” Dujing melangka maju lagi, matanya menyipit ketika melanjutkan bicar, “Tuan mungkin tidak memiliki batu berharga, tapi Qierou memiliki penduduk. Meskipun Qierou hanya kota kecil, tetap ada beberapa keluarga kaya raya, jadi, mereka pasti memiliki beberapa harta berharga yang bisa memuaskan kedua Petugas itu.”

Ekspresi Fanlu berubah, “Kau ingin aku memeras harta pusaka turun temurun milik penduduk?” ia telah di latih secara militer sebagai mata-mata ahli agar ia selau siap membunuh ataupun membuat kebakaran, tapi sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya untuk memeras penduduk.

Dujing tersenyum malu, ia menggosokkan tangannya sambil berkata, “Karena Tuan tidak akan menyetujuinya maka aku tidak pernah mengatakannya. Tapi, Tuan, mebiarkan Tuan Pu Guang dan Pu Sheng tetap disini sama sekali bukan rencana baik. Bagaiamana kalau Tuan akhirnya membuat mereka kesal lalu mereka kembali ke ibukota dan melaporkan sesuatu yang tidak benar kepada Suami Ratu. Tuan akan berada dalam situasi bahaya. Dan lagi mereka juga disukai Jendral Fei Zhaoxing, salah satu Jendral kesayangan Suami Ratu.

Fanlu merasa mulutnya seperti baru saja menelan segumpalan minyak babi. Ia mengerutu, “Siapa yang akan menyerahkan harta pusaka warisan mereka dengan sukarela? Aku juga ragu kita akan mampu membelinya.”

Dujing mengerutkan dahi, ekspesinya menunjukan kekecewaannya, “Kita tidak bermaksud menjadi jahat, hal ini benar-benar hanya untuk melindungi kita. Tuan seorang Gubernur, memegang nasib seluruh penduduk di tangan Tuan. Bukankah itu hal mudah, hanya meminjam sebuah benda. Aku hanya berniat memikirkan sesuatu untuk jalan keluar.”

Fanlu sungguh merasa tidak nyaman.

Menjadi seorang Gubernur kotor sama sekali tidak keren. Sejak He Xia mendapatkan kekuasaan penuh, setiap harinya terasa lebih berat dari hari kemarin. Ia bahkan berpikir jauh lebih baik jika ia tetap berada di militer, berbahagia menjadi seorang mata-mata biasa.

Tapi sejak terjadi pertikaian di dalam Yun Chang sendiri, seluruh orang yang terkait Keluarga Gui satu persatu dihabisi, satu kesalahan kecil saja bisa menyebabkan petaka. Siapa yang senang mencari masalah?

Ia juga sebenarnya bukan orang yang baik hati. Setelah memikirkanya, ia menggertakan gigina dan mengangguk, “Kalau begitu lakukan saja. Aku tidak tahu harta pusakan keluarga mana yang bisa memuaskan mereka.”

Melihat Fanlu mengangguk, Dujing menghela napas lega. Ia segera berkata, “Tuan tidak perlu pusing. Aku sudah membuat daftarnya.” Ia mengeluarkan selembar kertas dari lengan bajunya, membukanya dan mulai membacanya.

Seorang pelayan muda berlari melewati pintu, melaporkan, “Tuan, kedua Tuan Petugas telah datang kembali.”

“Sambut mereka berdua di ruang utama dan layani mereka.” Alis mata Fanlu berkerut rapat dan ia menoleh pada Dujing, “Tak perlu repot, pilih saja yang kira-kira cocok dan pastikan kedua orang itu segera pergi secepat mungkin. Pasukan pembawa bekal makanan seharusnya tiba hari ini, aku akan keluar kota untuk menemui mereka. Hal ini ada baiknya juga, aku tidak perlu melihat atau membungkuk atau memanjakan wajah menjijikan dua orang itu.” Lalu Fanlu membawa panah kecilnya yang tak pernah ditinggalkannya dari meja dan berjalan keluar dari ruangan. Ia meninggalkan Dujing yang akhirnya bisa tersenyum setelah diserang sakit kepala berkepanjangan. Lalu Dujing bergegas ke ruang utama untuk menemui kedua Petugas itu.

Bibit baru disebar beberapa hari lalu, sehingga hanya dua dan tiga helai daun pendek yang muncul keluar.

Sebagai Tabib, Zuiju sangat menyukai menanam tumbuh-tumbuhan. Ia dengan hati-hati sekali memperhatikan satu per satu helai daun-daun tunas itu dan memperbaiki posisi mereka.

Seorang pelayan yang sering dilihatnya mendekatinya untuk melaporkan sesuatu. “Nona Zuiju, Tuan mengatakan ia akan pergi keluar kota dan khawatir tidak akan kembali tepat waktu, karena itu Nona dipersilakan makan malam tanpa menunggunya.”

Zuiju menjawab, “Baiklah,” dengan tidak bersemangat.

Si Fanlu itu, jika berada di dekatnya, ia selalu berharap pria itu menghilang secepat kilat, tapi ketika ia pergi, Zuiju malah merasa agak kesepian.

“Siapkan saja hidanganya di ruanganku.”

Ketika makan malam sudah rapi tertata di atas meja, Zuiju duduk sendiri menatap bayangan yang dihasilkan cahaya lilin. Ia mengambil beberapa potong makanan dengan sumpitnya, tanpa selera sama sekali.

Sepertinya pasukan pembawa bekal sudah tiba lagi. Sungguh mengganggu, karena mereka datang begitu sering.

Memikirkan pasukan pembawa bekal ini membuat Zuiju teringat pada gurunya yang entah berada di mana, juga Pingting yang jiwanya sangat kesepian. Zuiju menjadi semakin kesal, karena melihat bayangannya sendiri yang kesepan di tembok.

Ia meletakan sumpitnya. Sudut matanya mulai memerah.

Dengan Fanlu yang menyebalkan selalu di sekitarnya, meskipun ia selalu emosi sampai ke kaki, tapi ia tak pernah sesedih ini.

Zuiju mengangkat lengan bajunya untuk menghapus airmatanya ketika ia mendengar suara tawa dari luar jendela. Tak lama kemudian terlihat dua pria dan beberapa wanita, dan seorang wanita yang tertawa genit lalu mulai bernyanyi. Zuiju berdiri, keluar pintu dan bertanya pada seorang pelayan wanita yang melintas di depannya. Ia menunjuk ke arah orang-orang itu, “Siapa mereka? Mereka sangat berisik?”

Si pelayan menjawab “Tentu saja, dua orang petugas itu. Mereka datang lagi, Petugas Du sudah memanggil para wanita penghibur dari tempat yang bernama Chu apa itu yang segera menemani mereka minum-minum.”

Zuiju tahu dua petugas itu penjilat He Xia, untuk itu mereka sengaja membuat masalah untuk Fanlu. Zuiju sangat jijik pada mereka, ketika melihat cahaya dari arah ruang tamu. Ia berpikir, meskipun ia masuk kembali ke ruangannya, suara berisik mereka akan tetap terdengar, maka ia memutuskan untuk berada di luar dan memandang pavilium di belakang kediaman.

Zuiju tiba di pavilium belakang, angin dingin menyambutya, ternyata di luar dugaannya terasa sangat nyaman. Emosi Zuiju sedikit membaik. Ia duduk di pavilium, masih memikirkan kapan Fanlu akan kembali, ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di belakangnya. Hatinya berdetak kencang dan ia sedikit membentak ketika berkata, “Kau pria iblis, akhirnya pulang juga?” ketika ia berbalik, ekspresinaya  tiba-tiba berubah.

Si gendut Pu Guang telah minum arak sangat banyak di ruang tamu. Melihat adiknya Pu Sheng menjatuhkan salah satu wanita penghibur dari Yingchun itu dan siap memuaskan napsunya. Ia berpikir, sebaiknya ia juga menarik seorang wanita yang dipanggil dengan nama Guihua itu dan mencari kamar lain untuk menikmatinya sepanjang malam.

Tapi tanpa disangkanya ia rupanya terlalu mabuk. Setelah beberapa langkah menuruni undakan, ia terjatuh dan ketika ia berbalik, Nona Guihua telah menghilang. Langit sangat gelap ketika ia melangkah berkeliling di dalam halaman sampai akhirnya ia tersandung di pavilium kecil itu.

Dan ia mendengar suara wanita yang jernih dan tegas. “Kau pria iblis, akhirnya pulang juga?”

Pu Guang mendonggak. Wanita itu duduk di bawah sinar bulan dan terlihat lumayan bagus. Ia merasa sangat beruntung dan tersenyum genit, “Sayang, aku datang. Aku akan memuaskanmu luar biasa sehingga kau bisa meninggal dengan tersenyum….” karena sangat mabuk, ia menyergap dengan kasar,  menangkap tangan kecil lembut Zuiju lalu mendekat dengan wajahnya yang jelek.

Zuiju sama sekali tidak sigap, ia baru sadar ketika tangannya tertangkap dan ia berteriak, “KYAAAA!!” lalu Zuiju berusaha keluar dari meja kursi batu dan setelah berhasil, ia mendorong si gendut Pu Guang hingga terjatuh.

Tanganya yang disentuh si gendut, terasa menjijikan bagi Zuiju. Zuiju telah bersama gurunya sejak kecil dan selalu diperlakukan dengan hormat. Selain di berengsek Fanlu, tidak ada pria lain yang berani bertindak tidak sopan terhadapnya. Karena ia kesal sekali, ia mendekat dan menampar si gendut itu dua kali.

Zuiju seorang wanita dan ia tidak sering melakukanya, sehinga pukulannya sebenarnya tidak terlalu kuat.

Tapi Pu Guang yang cukup kesakitan dengan tamparan itu, tetap tidak pergi. Ia mendekat lagi dengan mabuk, ia tertawa riang,”Sungguh tangan yang wangi, si cantik yang mungil, berikan lagi padaku. Ini sungguh menguntungkan kita berdua, kau memberikan tanganmu yang wangi dan aku akan memberikanmu tongkat daging untuk kau makan.”

Zuiju yang tidak pernah mendengar kata-kata seperti itu, sangat terkejut, ia sama sekali tidak tahu apa yang pria itu bicarakan. Ia hendak mengatakan sesuatu ketika sebuah panah kecil membelah udara, dan langsung menancap di dada Pu Guang.

Panah itu datang tanpa peringatan, cepat dan sangat tepat sasaran. Bola mata Pu Guang membesar sesaat seperti seekor kodok, tanpa suara tubuhnya terjatuh ke tanah di bawah kaki Zuiju.

Zuiju yang sangat terkejut, ia melangkah mundur, punggungnya menabrak sesuatu seperti lengan seorang pria. Ia berbalik dengan sangat takut. Ketika Zuiju melihat wajah pria itu dengan jelas, ia menghela napas lega, “Ternyata kau…”

Sungguh aneh, tapi Zuiju merasa sangat lega.

Ekspresi Fanlu sangat aneh. Ia berdiri dan hanya menatap, lama. Satu tangan memegang panah kecilnya, dan tangan yang lainnya memegang lengan Zuiju sambil mendorongnya maju.

Zuiju terkejut ketika di dorong maju, “Apa yang kau lakukan?”

Fanlu mendorongnya ke arah tubuh Pu Guang. Meskipun Zuiju seorang tabib, tapi ia seorang gadis dan ia takut pada kematian. Ia ingin menjauh tapi Fanlu memaksanya maju dan tidak memberi celah sedikitpun agar ia bisa begerak ke arah lain.

Fanlu meletakan sebuah anak panah lagi di busurnya dengan satu tangan dan memberikannya pada Zuiju, “Pegang.”

Zuiju melihat ekspresinya sungguh mengerikan dan dengan patuh memegang busur itu.

Fanlu memberi isyarat ke arah Pu Guang dengan dagunya, “Tembak dia.”

“Dia sudah mati.”

“Kau mau tembak atau tidak?” Fanlu menatapnya dengan tajam, dengan matanya yang memerah.

Ketika Zuiju masih merasa ragu, Fanlu mendekat, mengenggam tangannya dan menekan pelatuknya.

Zuiju memejam matanya. anak panah telah terlepas dengan suara whuuss sampai menancap dalam di tenggorokan Pu Guang.

Ia baru saja meninggal jadi darahnya masih hangat. Dari tenggorokannya, darah bercipratan membasahi tanah di sekitarnya.

Fanlu mengambil panah dari tangan Zuiju. Ia menepuk pipi Zuiju, menunggunya membuka matanya. ia berkata dengan suara sangat pelan, “Kalau seseorang berani berkata seperti itu kepadamu, tembak ia dengan panah sebelum ia sempat melanjutkan, mengerti?”

Fanlu sangat kasar dan galak saat ini, tidak berekspresi santai sepeti biasanya. Zuiju sama sekali tidak berani membantahnya, ia hanya mengangguk. Ia sedikit bingung, “Apa maksud perkataannya?”

Fanlu menatapnya tajam. Zuiju tidak dapat menerka pikiran Fanlu sama sekali. Pria itu berekspresi aneh, lalu ia tertawa, “Sebenarnya bukan hal yang buruk, tapi hanya aku yang boleh berkata seperti itu kepadamu, bukan pria lain.”

Meskipun Zuiju tidak benar-benar mengerti, tapi ia menebak kalau hal itu bukan hal yang baik sama sekali. Lalu Zuiju memelototinya, “Seekor anjing hanya bisa menggonggong.” Pipi Zuiju sedikit pucat dan ia menundukkan kepalanya.

Fanlu terkekeh dan berbalik hendak pergi tapi Zuiju segera menghentikannya, “Kau mau pergi kemana?” denga sebuah mayat teronggok di depannya, tak mungkn ia sendirian di sana.

Fanlu mengangkat bahunya, “Ia punya seorang saudara. Satu mati, yang satunya jelas harus segera menyusulnya. Kecuali, aku membiarkannya pergi sehingga ia bisa membalas dendam. Kau jaga mayat ini, sebaiknya mayat itu tidak menghilang.”

Dan Fanlu berlalu, beberapa bayangan bergerak di dinding halaman dan Fanlu menghilang.

Zuiju tak bisa bergerak, ia berbalik melihat mayat Pu Guang dibawah sinar bulan. Genangan darah di sampingnya mengalir sambil mulai membeku. Zuiju merasa udara dingin merambat ke punggungnya, ia memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya.

Fanlu sudah pergi sekitar setengah jam.

Zuiju menatap tubuh Pu Guang lagi, ia merasa seperti terbakar di api. Setiap kali ia mendengar suara gerakan, ia dengan gugup menundukan kepalanya sampai suara itu menghilang. Ia takut sekali seseorang akan datang dan menemukan mayat Pu Guang.

Pu Guang seorang utusan dari pemerintah pusat, bukan hal sepele kalau mayatya di temukan di kota Qierou.

Zuiju memegang lehernya, ia sungguh berharap Fanlu segera kembali, tapi ia belum juga melihat tanda-tandanya. Kemarahannya pada Fanlu muncul, lagi dan lagi sehingga membuat perutnya terasa sakit. Ia berjanji pada dirinya sendir tidak akan memaafkan pria itu kalau nanti melihatnya.

Ketika sebuah bayangan melintas ia segera menajamkan matanya.

Fanlu datang membawa Pu Sheng yang terkulai di pundaknya.

“Akhirnya kau kembali, ini sungguh membuatku takut setengah mati.” hati Zuiju terasa terbang melayang, ia sama sekali tidak merasa takut lagi begitu ia melihat wajah Fanlu.

Fanlu menatapnya, “Mengapa kau masih disini?”

Zuiju dengan kesal menjawab, “Kau menyuruhku untuk menjaga mayat itu agar tidak hilang.”

“Apa serunya memandangi mayat, ia juga tidak akan lari.” Fanlu tertawa geli, “Aku hanya bercanda, tapi kau menganggapnya serius sekali.”

Zuiju hampir pingsan karena marah. Ia merapatkan gigi-giginya, “Aku ingin membantumu, tapi kau malah mempermainkanku.”

Fanlu memandanginya dari atas sampai ke bawah. “Lihatlah dirimu, bantuanmu yang paling berguna adalah yang kejadian yang barusan itu.”

Sikap Fanlu yang menyeramkan tadi telah menghilang digantikan oleh seringainya yang biasa. Fanlu menendang Pu Guang yang tergeletak di tanah sementara Pu Sheng masih di pundaknya. Ia mengerutu, “Berat sekali, perut penuh tumpukan daging, darah, sangat gemuk. Seharusnya aku tidak memberi makan mereka yang lezat-lezat, kalau saja aku tahu, cukup sebuah panah untuk menyingkirkan mereka.” Ia berbalik pada Zuiju, ”Aku akan menyembunyikan mereka satu per satu, jadi patuhi perintahku, tunggu aku disini.”

Zuiju mengangguk, dan menyaksikan Fanlu menghilang bersama Pu Sheng di kejauhan, dan menyadari kesendiriannya kembali. Ia sangat geram, “Berengsek, siapa yang akan patuh padamu?” ia menghentakkan kakinya beberapa kali dan melangkah kembali ke ruangannya, tidak peduli dengan mayat itu lagi.

Dalam hatinya ia sibuk mengomel tidak merasa takut lagi seperti sebelumnya.

Ia duduk di dalam ruangannya lama sekali, tidak merasa mengantuk sama sekali, sambil memandang ke luar jendela. Tengah malam, Fanlu datang, seperti yang diharapkannya. Ia berjalan masuk ke dalam, duduk di kursi, mengambil sebuah cangkir di atas meja, menuang teh dan meneguknya. Ia berguman sendiri, “Mayat-mayat itu sudah disembunyikan, darah yang berceceran sudah di bersihkan, membuatku bekerja keras sepanjang malam. Mereka berdua lebih berat daripada babi. Sungguh tidak mudah membawa mayat mereka ke tempat tersembunyi. Harus berjalan jauh, pundakku sunggh sakit, mereka hampir mematahkan tanganku.” Semakin ia berucap, semakin terlihat ia menyedihkan.

Meskipun Zuiju sangat marah, ia tahu semua yang Fanlu lakukan adalah untuk dirinya. Maka ia merasa sedikit bersalah, lalu ia berdiri dan berjalan ke sampingnya. Dengan enggan berkata, “Dimana sakitnya?”

“Pundak.”

Zuiju dengan lembut memijatnya. Teknik memijat juga salah satu hal yang dipelajari dari gurunya. Tekniknya sangat bagus, tapi tenaganya sangat lemah.

Fanlu tidak peduli tenaganya kuat atau lemah, dipijat oleh Zuiju sudah merupakan berkah baginya. Ia memicingkan matanya ketika mulai menggodanya lagi, “Rasanya enak sekali. Pundak ini pasti memiliki karma baik, sungguh kehidupan yang berharga bisa di pijat oleh tangan yang indah.”

Zuiju melotot padanya, “Aku tahu, kalimat selanjutnya pasti tidak bagus. Kalau kau berani berkata lagi, aku tidak mau memijat lagi.”

Fanlu menghela napas. Tapi ia patuh untuk diam.

Setelah beberapa saat, Zuiju bertanya, “Setelah mereka mati, bagaimana kau akan menjelaskan tentang mereka?”

Fanlu tidak menjawab.

Zuiju berkata lagi, “Kau bisa bicara, aku akan memijatmu selama kau tidak mengatakan hal-hal yang menyebalkan.”

Fanlu akhirnya menjawabnya, “Mereka tidak mati, mereka telah menerima banyak sekali barang berharga dan emas sehingga akhirnya mereka pergi dengan senang hati.”

“Begitukah”

“Membuat kesimpulan palsu, itulah kehebatanku. Siapa lagi yang bisa menghilangkan dua babi gendut di tengah malam secepat itu?”

Fanlu memang sangat ahli dalam membuat kesimpulan palsu, karena dia juga seluruh dunia tertipu pada berita kematian Bai Pingting.

Zuiju mengingat bagaimana Fanlu menghilang untuk membunuh Pu Sheng, benar-benar hanya butuh waktu setengah jam, mungkin juga karena ia sudah merencanakannya sebelumnya. Zuiju tidak bertanya lebih jauh.

Mereka berdua berbincang sampai akhirnya merasa mengantuk.

Zuiju memperhatikan Fanlu. “Apa kau tidak ada yang harus dikerjakan besok? Pergilah tidur.”

Fanlu menguap, “Mengapa harus tidur? Langit akan terang satu jam lagi. Kau baru saja melihat orang mati, melewati malam sendirian saja pasti sangat menakutkan. Aku akan menemanimu sampai langit terang, jadi kau bisa tidur begitu pagi. Kamar ini akan terang oleh sinar matahari, dengan begitu kau tidak akan ketakutan.”

Mendengarnya hati Zuiju jadi melunak, suaranya pun jadi lebih lembut, “Aku tidak takut, kau sudah lelah sepanjang malam, menghabiskan tenaga terus menerus, tidak baik. Pergilah tidur.”

Fanlu menghela napas lagi, “Jujur, ketika aku membunuh seseorang. Aku akan mimpi buruk beberapa hari berikutnya. Aku tidak akan bisa tidur bagaimanapun.”

Dahi Zuiju berkerut dan ia berkata lagi, “Aku akan menulis resep untukmu.”

“Aku sudah punya resep yang sangat manjur. Hanya saja bahannya sulit untuk didapatkan.”

Zuiju penasaran. “Tumbuhan apa? Biar kubantu mencarinya.”

“Kalau Tabib Jenius Zuiju bersedia memperbolehkan aku memeluknya sampai kau terlelap, maka….” Kata-katanya belum selesai ketika Zuiju memukul pundaknya dengan tinjunya. Dan Fanlu berkata dengan patah semangat, “Sudah kubilangkan, bahannya sulit didapat”

--0--



Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar