Qierou,
Yun Chang.
Suasana di dalam kota masih tenang dan damai. Para penduduknya sama
sekali tidak tahu kalau kota kecil mereka telah dijadikan sasaran utama oleh
Panglima Zhen Beiwang, mereka terus melakukan kegiatan sehari-hari seperi
biasanya.
Kemarahan
sang Gubenur masih terus berlanjut.
Tak
sulit bagi para bawahan Gubernur untuk mengetahui bahwa kedua Tamu itu sedang
berusaha mencari-cari kesalahan sang Gubernur sambil mencampurnya dengan
kesalahan yang mereka perbuat sendiri di dalam kota Qierou. Bahkan tanahpun
memiliki batas kesabaran, kemampuan sang Gubernur untuk menoleransi mereka bisa
dikatakan luar biasa hebat.
“Mereka
kembali lag?”
“Benar.”
Pegawainya merasa tidak nyaman. “Setelah mengantar mereka pergi, mereka kembali
lagi di keesokan harinya.”
Bibir
Fanlu dirapatkan dan pandangannya ke belakang.
Duijung
segera melangkah maju, menunduk dan melapor dengan suara pelan, “Perak-perak
telah dikirimkan sesuai perintah Tuan.”
Fanlu
menghela napas, mereka berdua sungguh serakah.
Meskipun
hal ini diluar dugaannya, siapa suruh ia mengikuti orang yang salah, menjadi
salah satu orangnya Pejabar Senior Gui. Keluarga Gui telah jatuh, dan ia selalu
di hajar oleh Pejabat lainnya. Kalau tidak, bagaimana ia bisa begitu kacau
hanya karena dua orang Petugas ini.
Bahkan
alis mata pegawainya sangat berkerut. Dan janggutnya pun banyak berkurang.
“Tuan.”
Pegawainya melanjutkan perkataannya, “Mereka berdua tidak mau pergi karena
mereka melihat kalau Qierou sangat kaya. Kudengar terakhir kali mereka berdua
pergi ke kota Xian Na, Gubernur disana memberikan mereka dua batu rubi merah
sebesar hati ayam, dan mereka pergi dengan gembira. Mungkin sebaiknya…”
Fanlu
mengerutu, “Batu rubi sebesar hati ayam? Dimana kita bisa menemukan batu rubi
sebesar hati ayam? Kita sudah memberikan mereka banyak sekali uang.”
Duijing
berdiri di samping Fanlu sambil menghela napas.
Fanlu
berbalik ke depan, dan pegawainya melangkah mundur.
“Tuan,
sebenarnya caranya mudah saja.” Dujing melangka maju lagi, matanya menyipit
ketika melanjutkan bicar, “Tuan mungkin tidak memiliki batu berharga, tapi
Qierou memiliki penduduk. Meskipun Qierou hanya kota kecil, tetap ada beberapa
keluarga kaya raya, jadi, mereka pasti memiliki beberapa harta berharga yang
bisa memuaskan kedua Petugas itu.”
Ekspresi
Fanlu berubah, “Kau ingin aku memeras harta pusaka turun temurun milik
penduduk?” ia telah di latih secara militer sebagai mata-mata ahli agar ia
selau siap membunuh ataupun membuat kebakaran, tapi sama sekali tak pernah
terlintas di pikirannya untuk memeras penduduk.
Dujing
tersenyum malu, ia menggosokkan tangannya sambil berkata, “Karena Tuan tidak
akan menyetujuinya maka aku tidak pernah mengatakannya. Tapi, Tuan, mebiarkan
Tuan Pu Guang dan Pu Sheng tetap disini sama sekali bukan rencana baik.
Bagaiamana kalau Tuan akhirnya membuat mereka kesal lalu mereka kembali ke
ibukota dan melaporkan sesuatu yang tidak benar kepada Suami Ratu. Tuan akan
berada dalam situasi bahaya. Dan lagi mereka juga disukai Jendral Fei Zhaoxing,
salah satu Jendral kesayangan Suami Ratu.
Fanlu
merasa mulutnya seperti baru saja menelan segumpalan minyak babi. Ia mengerutu,
“Siapa yang akan menyerahkan harta pusaka warisan mereka dengan sukarela? Aku
juga ragu kita akan mampu membelinya.”
Dujing
mengerutkan dahi, ekspesinya menunjukan kekecewaannya, “Kita tidak bermaksud
menjadi jahat, hal ini benar-benar hanya untuk melindungi kita. Tuan seorang
Gubernur, memegang nasib seluruh penduduk di tangan Tuan. Bukankah itu hal
mudah, hanya meminjam sebuah benda. Aku hanya berniat memikirkan sesuatu untuk
jalan keluar.”
Fanlu
sungguh merasa tidak nyaman.
Menjadi
seorang Gubernur kotor sama sekali tidak keren. Sejak He Xia mendapatkan
kekuasaan penuh, setiap harinya terasa lebih berat dari hari kemarin. Ia bahkan
berpikir jauh lebih baik jika ia tetap berada di militer, berbahagia menjadi
seorang mata-mata biasa.
Tapi
sejak terjadi pertikaian di dalam Yun Chang sendiri, seluruh orang yang terkait
Keluarga Gui satu persatu dihabisi, satu kesalahan kecil saja bisa menyebabkan petaka.
Siapa yang senang mencari masalah?
Ia
juga sebenarnya bukan orang yang baik hati. Setelah memikirkanya, ia
menggertakan gigina dan mengangguk, “Kalau begitu lakukan saja. Aku tidak tahu
harta pusakan keluarga mana yang bisa memuaskan mereka.”
Melihat
Fanlu mengangguk, Dujing menghela napas lega. Ia segera berkata, “Tuan tidak
perlu pusing. Aku sudah membuat daftarnya.” Ia mengeluarkan selembar kertas
dari lengan bajunya, membukanya dan mulai membacanya.
Seorang
pelayan muda berlari melewati pintu, melaporkan, “Tuan, kedua Tuan Petugas
telah datang kembali.”
“Sambut
mereka berdua di ruang utama dan layani mereka.” Alis mata Fanlu berkerut rapat
dan ia menoleh pada Dujing, “Tak perlu repot, pilih saja yang kira-kira cocok
dan pastikan kedua orang itu segera pergi secepat mungkin. Pasukan pembawa
bekal makanan seharusnya tiba hari ini, aku akan keluar kota untuk menemui
mereka. Hal ini ada baiknya juga, aku tidak perlu melihat atau membungkuk atau
memanjakan wajah menjijikan dua orang itu.” Lalu Fanlu membawa panah kecilnya
yang tak pernah ditinggalkannya dari meja dan berjalan keluar dari ruangan. Ia
meninggalkan Dujing yang akhirnya bisa tersenyum setelah diserang sakit kepala
berkepanjangan. Lalu Dujing bergegas ke ruang utama untuk menemui kedua Petugas
itu.
Bibit
baru disebar beberapa hari lalu, sehingga hanya dua dan tiga helai daun pendek
yang muncul keluar.
Sebagai
Tabib, Zuiju sangat menyukai menanam tumbuh-tumbuhan. Ia dengan hati-hati
sekali memperhatikan satu per satu helai daun-daun tunas itu dan memperbaiki
posisi mereka.
Seorang
pelayan yang sering dilihatnya mendekatinya untuk melaporkan sesuatu. “Nona
Zuiju, Tuan mengatakan ia akan pergi keluar kota dan khawatir tidak akan
kembali tepat waktu, karena itu Nona dipersilakan makan malam tanpa
menunggunya.”
Zuiju
menjawab, “Baiklah,” dengan tidak bersemangat.
Si
Fanlu itu, jika berada di dekatnya, ia selalu berharap pria itu menghilang
secepat kilat, tapi ketika ia pergi, Zuiju malah merasa agak kesepian.
“Siapkan
saja hidanganya di ruanganku.”
Ketika
makan malam sudah rapi tertata di atas meja, Zuiju duduk sendiri menatap
bayangan yang dihasilkan cahaya lilin. Ia mengambil beberapa potong makanan
dengan sumpitnya, tanpa selera sama sekali.
Sepertinya
pasukan pembawa bekal sudah tiba lagi. Sungguh mengganggu, karena mereka datang
begitu sering.
Memikirkan
pasukan pembawa bekal ini membuat Zuiju teringat pada gurunya yang entah berada
di mana, juga Pingting yang jiwanya sangat kesepian. Zuiju menjadi semakin
kesal, karena melihat bayangannya sendiri yang kesepan di tembok.
Ia
meletakan sumpitnya. Sudut matanya mulai memerah.
Dengan
Fanlu yang menyebalkan selalu di sekitarnya, meskipun ia selalu emosi sampai ke
kaki, tapi ia tak pernah sesedih ini.
Zuiju
mengangkat lengan bajunya untuk menghapus airmatanya ketika ia mendengar suara
tawa dari luar jendela. Tak lama kemudian terlihat dua pria dan beberapa
wanita, dan seorang wanita yang tertawa genit lalu mulai bernyanyi. Zuiju
berdiri, keluar pintu dan bertanya pada seorang pelayan wanita yang melintas di
depannya. Ia menunjuk ke arah orang-orang itu, “Siapa mereka? Mereka sangat
berisik?”
Si
pelayan menjawab “Tentu saja, dua orang petugas itu. Mereka datang lagi,
Petugas Du sudah memanggil para wanita penghibur dari tempat yang bernama Chu
apa itu yang segera menemani mereka minum-minum.”
Zuiju
tahu dua petugas itu penjilat He Xia, untuk itu mereka sengaja membuat masalah
untuk Fanlu. Zuiju sangat jijik pada mereka, ketika melihat cahaya dari arah
ruang tamu. Ia berpikir, meskipun ia masuk kembali ke ruangannya, suara berisik
mereka akan tetap terdengar, maka ia memutuskan untuk berada di luar dan memandang
pavilium di belakang kediaman.
Zuiju
tiba di pavilium belakang, angin dingin menyambutya, ternyata di luar dugaannya
terasa sangat nyaman. Emosi Zuiju sedikit membaik. Ia duduk di pavilium, masih
memikirkan kapan Fanlu akan kembali, ketika tiba-tiba terdengar suara langkah
kaki di belakangnya. Hatinya berdetak kencang dan ia sedikit membentak ketika
berkata, “Kau pria iblis, akhirnya pulang juga?” ketika ia berbalik,
ekspresinaya tiba-tiba berubah.
Si
gendut Pu Guang telah minum arak sangat banyak di ruang tamu. Melihat adiknya
Pu Sheng menjatuhkan salah satu wanita penghibur dari Yingchun itu dan siap
memuaskan napsunya. Ia berpikir, sebaiknya ia juga menarik seorang wanita yang
dipanggil dengan nama Guihua itu dan mencari kamar lain untuk menikmatinya
sepanjang malam.
Tapi
tanpa disangkanya ia rupanya terlalu mabuk. Setelah beberapa langkah menuruni
undakan, ia terjatuh dan ketika ia berbalik, Nona Guihua telah menghilang.
Langit sangat gelap ketika ia melangkah berkeliling di dalam halaman sampai
akhirnya ia tersandung di pavilium kecil itu.
Dan
ia mendengar suara wanita yang jernih dan tegas. “Kau pria iblis, akhirnya
pulang juga?”
Pu
Guang mendonggak. Wanita itu duduk di bawah sinar bulan dan terlihat lumayan
bagus. Ia merasa sangat beruntung dan tersenyum genit, “Sayang, aku datang. Aku
akan memuaskanmu luar biasa sehingga kau bisa meninggal dengan tersenyum….”
karena sangat mabuk, ia menyergap dengan kasar,
menangkap tangan kecil lembut Zuiju lalu mendekat dengan wajahnya yang
jelek.
Zuiju
sama sekali tidak sigap, ia baru sadar ketika tangannya tertangkap dan ia
berteriak, “KYAAAA!!” lalu Zuiju berusaha keluar dari meja kursi batu dan
setelah berhasil, ia mendorong si gendut Pu Guang hingga terjatuh.
Tanganya
yang disentuh si gendut, terasa menjijikan bagi Zuiju. Zuiju telah bersama
gurunya sejak kecil dan selalu diperlakukan dengan hormat. Selain di berengsek
Fanlu, tidak ada pria lain yang berani bertindak tidak sopan terhadapnya.
Karena ia kesal sekali, ia mendekat dan menampar si gendut itu dua kali.
Zuiju
seorang wanita dan ia tidak sering melakukanya, sehinga pukulannya sebenarnya
tidak terlalu kuat.
Tapi
Pu Guang yang cukup kesakitan dengan tamparan itu, tetap tidak pergi. Ia
mendekat lagi dengan mabuk, ia tertawa riang,”Sungguh tangan yang wangi, si
cantik yang mungil, berikan lagi padaku. Ini sungguh menguntungkan kita berdua,
kau memberikan tanganmu yang wangi dan aku akan memberikanmu tongkat daging
untuk kau makan.”
Zuiju
yang tidak pernah mendengar kata-kata seperti itu, sangat terkejut, ia sama
sekali tidak tahu apa yang pria itu bicarakan. Ia hendak mengatakan sesuatu
ketika sebuah panah kecil membelah udara, dan langsung menancap di dada Pu
Guang.
Panah
itu datang tanpa peringatan, cepat dan sangat tepat sasaran. Bola mata Pu Guang
membesar sesaat seperti seekor kodok, tanpa suara tubuhnya terjatuh ke tanah di
bawah kaki Zuiju.
Zuiju
yang sangat terkejut, ia melangkah mundur, punggungnya menabrak sesuatu seperti
lengan seorang pria. Ia berbalik dengan sangat takut. Ketika Zuiju melihat
wajah pria itu dengan jelas, ia menghela napas lega, “Ternyata kau…”
Sungguh
aneh, tapi Zuiju merasa sangat lega.
Ekspresi
Fanlu sangat aneh. Ia berdiri dan hanya menatap, lama. Satu tangan memegang
panah kecilnya, dan tangan yang lainnya memegang lengan Zuiju sambil
mendorongnya maju.
Zuiju
terkejut ketika di dorong maju, “Apa yang kau lakukan?”
Fanlu
mendorongnya ke arah tubuh Pu Guang. Meskipun Zuiju seorang tabib, tapi ia
seorang gadis dan ia takut pada kematian. Ia ingin menjauh tapi Fanlu
memaksanya maju dan tidak memberi celah sedikitpun agar ia bisa begerak ke arah
lain.
Fanlu
meletakan sebuah anak panah lagi di busurnya dengan satu tangan dan
memberikannya pada Zuiju, “Pegang.”
Zuiju
melihat ekspresinya sungguh mengerikan dan dengan patuh memegang busur itu.
Fanlu
memberi isyarat ke arah Pu Guang dengan dagunya, “Tembak dia.”
“Dia
sudah mati.”
“Kau
mau tembak atau tidak?” Fanlu menatapnya dengan tajam, dengan matanya yang
memerah.
Ketika
Zuiju masih merasa ragu, Fanlu mendekat, mengenggam tangannya dan menekan
pelatuknya.
Zuiju
memejam matanya. anak panah telah terlepas dengan suara whuuss sampai menancap
dalam di tenggorokan Pu Guang.
Ia
baru saja meninggal jadi darahnya masih hangat. Dari tenggorokannya, darah
bercipratan membasahi tanah di sekitarnya.
Fanlu
mengambil panah dari tangan Zuiju. Ia menepuk pipi Zuiju, menunggunya membuka
matanya. ia berkata dengan suara sangat pelan, “Kalau seseorang berani berkata
seperti itu kepadamu, tembak ia dengan panah sebelum ia sempat melanjutkan,
mengerti?”
Fanlu
sangat kasar dan galak saat ini, tidak berekspresi santai sepeti biasanya.
Zuiju sama sekali tidak berani membantahnya, ia hanya mengangguk. Ia sedikit
bingung, “Apa maksud perkataannya?”
Fanlu
menatapnya tajam. Zuiju tidak dapat menerka pikiran Fanlu sama sekali. Pria itu
berekspresi aneh, lalu ia tertawa, “Sebenarnya bukan hal yang buruk, tapi hanya
aku yang boleh berkata seperti itu kepadamu, bukan pria lain.”
Meskipun
Zuiju tidak benar-benar mengerti, tapi ia menebak kalau hal itu bukan hal yang
baik sama sekali. Lalu Zuiju memelototinya, “Seekor anjing hanya bisa
menggonggong.” Pipi Zuiju sedikit pucat dan ia menundukkan kepalanya.
Fanlu
terkekeh dan berbalik hendak pergi tapi Zuiju segera menghentikannya, “Kau mau
pergi kemana?” denga sebuah mayat teronggok di depannya, tak mungkn ia
sendirian di sana.
Fanlu
mengangkat bahunya, “Ia punya seorang saudara. Satu mati, yang satunya jelas
harus segera menyusulnya. Kecuali, aku membiarkannya pergi sehingga ia bisa
membalas dendam. Kau jaga mayat ini, sebaiknya mayat itu tidak menghilang.”
Dan
Fanlu berlalu, beberapa bayangan bergerak di dinding halaman dan Fanlu
menghilang.
Zuiju
tak bisa bergerak, ia berbalik melihat mayat Pu Guang dibawah sinar bulan.
Genangan darah di sampingnya mengalir sambil mulai membeku. Zuiju merasa udara
dingin merambat ke punggungnya, ia memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya.
Fanlu
sudah pergi sekitar setengah jam.
Zuiju
menatap tubuh Pu Guang lagi, ia merasa seperti terbakar di api. Setiap kali ia
mendengar suara gerakan, ia dengan gugup menundukan kepalanya sampai suara itu
menghilang. Ia takut sekali seseorang akan datang dan menemukan mayat Pu Guang.
Pu
Guang seorang utusan dari pemerintah pusat, bukan hal sepele kalau mayatya di
temukan di kota Qierou.
Zuiju
memegang lehernya, ia sungguh berharap Fanlu segera kembali, tapi ia belum juga
melihat tanda-tandanya. Kemarahannya pada Fanlu muncul, lagi dan lagi sehingga
membuat perutnya terasa sakit. Ia berjanji pada dirinya sendir tidak akan
memaafkan pria itu kalau nanti melihatnya.
Ketika
sebuah bayangan melintas ia segera menajamkan matanya.
Fanlu
datang membawa Pu Sheng yang terkulai di pundaknya.
“Akhirnya
kau kembali, ini sungguh membuatku takut setengah mati.” hati Zuiju terasa
terbang melayang, ia sama sekali tidak merasa takut lagi begitu ia melihat
wajah Fanlu.
Fanlu
menatapnya, “Mengapa kau masih disini?”
Zuiju
dengan kesal menjawab, “Kau menyuruhku untuk menjaga mayat itu agar tidak
hilang.”
“Apa
serunya memandangi mayat, ia juga tidak akan lari.” Fanlu tertawa geli, “Aku
hanya bercanda, tapi kau menganggapnya serius sekali.”
Zuiju
hampir pingsan karena marah. Ia merapatkan gigi-giginya, “Aku ingin membantumu,
tapi kau malah mempermainkanku.”
Fanlu
memandanginya dari atas sampai ke bawah. “Lihatlah dirimu, bantuanmu yang
paling berguna adalah yang kejadian yang barusan itu.”
Sikap
Fanlu yang menyeramkan tadi telah menghilang digantikan oleh seringainya yang
biasa. Fanlu menendang Pu Guang yang tergeletak di tanah sementara Pu Sheng
masih di pundaknya. Ia mengerutu, “Berat sekali, perut penuh tumpukan daging,
darah, sangat gemuk. Seharusnya aku tidak memberi makan mereka yang
lezat-lezat, kalau saja aku tahu, cukup sebuah panah untuk menyingkirkan
mereka.” Ia berbalik pada Zuiju, ”Aku akan menyembunyikan mereka satu per satu,
jadi patuhi perintahku, tunggu aku disini.”
Zuiju
mengangguk, dan menyaksikan Fanlu menghilang bersama Pu Sheng di kejauhan, dan
menyadari kesendiriannya kembali. Ia sangat geram, “Berengsek, siapa yang akan
patuh padamu?” ia menghentakkan kakinya beberapa kali dan melangkah kembali ke
ruangannya, tidak peduli dengan mayat itu lagi.
Dalam
hatinya ia sibuk mengomel tidak merasa takut lagi seperti sebelumnya.
Ia
duduk di dalam ruangannya lama sekali, tidak merasa mengantuk sama sekali,
sambil memandang ke luar jendela. Tengah malam, Fanlu datang, seperti yang
diharapkannya. Ia berjalan masuk ke dalam, duduk di kursi, mengambil sebuah
cangkir di atas meja, menuang teh dan meneguknya. Ia berguman sendiri,
“Mayat-mayat itu sudah disembunyikan, darah yang berceceran sudah di bersihkan,
membuatku bekerja keras sepanjang malam. Mereka berdua lebih berat daripada
babi. Sungguh tidak mudah membawa mayat mereka ke tempat tersembunyi. Harus
berjalan jauh, pundakku sunggh sakit, mereka hampir mematahkan tanganku.”
Semakin ia berucap, semakin terlihat ia menyedihkan.
Meskipun
Zuiju sangat marah, ia tahu semua yang Fanlu lakukan adalah untuk dirinya. Maka
ia merasa sedikit bersalah, lalu ia berdiri dan berjalan ke sampingnya. Dengan
enggan berkata, “Dimana sakitnya?”
“Pundak.”
Zuiju
dengan lembut memijatnya. Teknik memijat juga salah satu hal yang dipelajari
dari gurunya. Tekniknya sangat bagus, tapi tenaganya sangat lemah.
Fanlu
tidak peduli tenaganya kuat atau lemah, dipijat oleh Zuiju sudah merupakan
berkah baginya. Ia memicingkan matanya ketika mulai menggodanya lagi, “Rasanya
enak sekali. Pundak ini pasti memiliki karma baik, sungguh kehidupan yang
berharga bisa di pijat oleh tangan yang indah.”
Zuiju
melotot padanya, “Aku tahu, kalimat selanjutnya pasti tidak bagus. Kalau kau
berani berkata lagi, aku tidak mau memijat lagi.”
Fanlu
menghela napas. Tapi ia patuh untuk diam.
Setelah
beberapa saat, Zuiju bertanya, “Setelah mereka mati, bagaimana kau akan
menjelaskan tentang mereka?”
Fanlu
tidak menjawab.
Zuiju
berkata lagi, “Kau bisa bicara, aku akan memijatmu selama kau tidak mengatakan
hal-hal yang menyebalkan.”
Fanlu
akhirnya menjawabnya, “Mereka tidak mati, mereka telah menerima banyak sekali
barang berharga dan emas sehingga akhirnya mereka pergi dengan senang hati.”
“Begitukah”
“Membuat
kesimpulan palsu, itulah kehebatanku. Siapa lagi yang bisa menghilangkan dua
babi gendut di tengah malam secepat itu?”
Fanlu
memang sangat ahli dalam membuat kesimpulan palsu, karena dia juga seluruh
dunia tertipu pada berita kematian Bai Pingting.
Zuiju
mengingat bagaimana Fanlu menghilang untuk membunuh Pu Sheng, benar-benar hanya
butuh waktu setengah jam, mungkin juga karena ia sudah merencanakannya
sebelumnya. Zuiju tidak bertanya lebih jauh.
Mereka
berdua berbincang sampai akhirnya merasa mengantuk.
Zuiju
memperhatikan Fanlu. “Apa kau tidak ada yang harus dikerjakan besok? Pergilah
tidur.”
Fanlu
menguap, “Mengapa harus tidur? Langit akan terang satu jam lagi. Kau baru saja
melihat orang mati, melewati malam sendirian saja pasti sangat menakutkan. Aku
akan menemanimu sampai langit terang, jadi kau bisa tidur begitu pagi. Kamar
ini akan terang oleh sinar matahari, dengan begitu kau tidak akan ketakutan.”
Mendengarnya
hati Zuiju jadi melunak, suaranya pun jadi lebih lembut, “Aku tidak takut, kau
sudah lelah sepanjang malam, menghabiskan tenaga terus menerus, tidak baik.
Pergilah tidur.”
Fanlu
menghela napas lagi, “Jujur, ketika aku membunuh seseorang. Aku akan mimpi
buruk beberapa hari berikutnya. Aku tidak akan bisa tidur bagaimanapun.”
Dahi
Zuiju berkerut dan ia berkata lagi, “Aku akan menulis resep untukmu.”
“Aku
sudah punya resep yang sangat manjur. Hanya saja bahannya sulit untuk
didapatkan.”
Zuiju
penasaran. “Tumbuhan apa? Biar kubantu mencarinya.”
“Kalau
Tabib Jenius Zuiju bersedia memperbolehkan aku memeluknya sampai kau terlelap,
maka….” Kata-katanya belum selesai ketika Zuiju memukul pundaknya dengan
tinjunya. Dan Fanlu berkata dengan patah semangat, “Sudah kubilangkan, bahannya
sulit didapat”
--0--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar