Minggu, 25 September 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.40

-- Volume 2 chapter 40 --


Pingting meminta Zuiju menggunakan tujuh jarum padanya kemarin. Ia merasa sangat tidak nyaman setelah merubah detak nadinya. Meskipun ia hanya memainkan beberapa lagu dengan kecapi untuk menguji Putri Yun Chang, ia telah menggunakan seluruh tenaganya. Ia sedang berbaring di tempat tidur, sebuah wangi yang akrab yang berasal dari Gui Li mampir di hidungnya. Ia tahu ia sedang bermimpi tentang Kediaman Jin Anwang.

 

Segalanya sangat tenang dan tentram.

 

Ia bermain dan tertawa bersama He Xia, benar-benar terasa bebas.

 

Waktu beralih menjadi musim dingin. Mereka berdua khawatir dengan cuaca dingin, tapi ingin menatap bintang. Mereka membungkus tubuh mereka berlapis-lapis dan duduk di atas tempat tidur, menyaksikan bintang sampai larut malam. Dan ketika mereka sudah merasa lelah, mereka saling berpelukan sampai tertidur tanpa kekhawatiran tentang apapun.

 

Mereka berdua tumbuh bersama dan melakukan segala hal bersama-sama. Meskipun pendapat mereka sering berbeda dan begitu juga dengan kepribadian mereka, tapi mereka tak pernah memikirkan hal tabu dan tidak pernah menyadari kalau pria dan wanita itu berbeda.

 

Para penghuni yang lebih tua di Kediaman Jin Anwang tahu, kalau status Pingting bahkan tidak cukup untuk menjadi seorang gundik, maka mereka menutup mata terhadap hubungan Pinting dan He Xia.

 

Wangi Gui Li yang diciumnya adalah keharuman khas Kediaman Jin Anwang.

 

Pingting sangat menyukai harum ini, ia pernah mengatakan kalau harumnya membuat nyaman. Wewangian ini juga yang selalu dipakai di ruangan Tuan Muda.

 

Ia memiliki ruangan sendiri, tapi ruangan Tuan Muda adalah ruangannya juga. Ia telah menyentuh benda-benda di dalamnya dan keluar masuk setiap saat.

 

“Akan lebih hangat kalau aku memelukmu.” Suara seorang bocah berumur tujuh tahun, penuh keinginan untuk melindungi seperti biasanya.

 

“Buka jendelanya.”

 

“Tapi Ibu akan memarahiku lagi.” Meskipun He Xia berkata seperti itu, ia tidak ragu untuk melompat keluar dari tempat tidur. Ia mendorong jendela membukanya lalu dengan lincah, kembali ke tempat tidur, memeluk Pingting yang berwajah pucat. “Sungguh dingin.”

 

“Musim dingin, tentu saja terasa dingin.”

 

“Katakan! Siapa yang berbaring sakit di tempat tidur dua hari lalu?”

 

Dua anak kecil berbincang, suara mereka bergema di telinga.

 

Pingting terbangun dan melihat wajah akrab He Xia di depan matanya. Pingting segera mundur dan membelakan kedua matanya.

 

Ini bukan mimpi.

 

“Kenapa?” He Xia membuka matanya dan tersenyum seperti biasa.

 

Pingting duduk dan berbalik, “Kenapa Tuan Muda tidur disini?”

 

“Kita biasa…..”

 

“Masa lalu adalah masa lalu, saat ini adalah saat ini.” Pingting menyela, “Kita sudah dewasa.”

 

He Xia jarang sekali melihat Pingting marah dan sedikit terkejut. Ia diam sejenak lalu berkata dengan mengejek, “Benar, kita sudah tumbuh dewasa, dan hati kita juga berubah.” He Xia turun dari tempat tidur, mengambil pakaiannya dan mengenakannya.

 

Zuiju telah bersandar di dinding dan tertidur sepanjang malam. Ia mendengar suara berguman dan menggosok matanya lalu berdiri di pojok. Batu yang ia simpan masih berada di tangannya.

 

He Xia melihat Zuiju dan berbalik menatap Pingting. Ia merendahkan suaranya, “Jangan khawatir, pelayanmu jauh lebih khawatir daripada kau. Benda di tangannya telah terlihat cahaya matahari. Tak peduli apa yang kulakukan, bagaimana mungkin ia mampu menghentikanku?” He Xia selalu tampil berkarisma, tapi setelah malam ini, meskipun He Xia sama sekali tidak bermaksud buruk, karismanya telah hilang di mata Pingting dan Zuiju, sama sekali tak bersisa.

 

Pingting telah mengenal He Xia seumur hidupnya. Mereka berdua memiliki ikatan yang begitu kuat, tapi diantara mereka tidak ada perasaan antara pria dan wanita. Meskipun ia mendengar berita kalau ia akan diambil sebagai selir He Xia, ia tak pernah memikirkan hal itu lebih jauh. Tapi mendengar kata-kata He Xia barusan membuatnya marah dan takut. Wajahnya menjadi pucat.

 

“Apa aku pernah memaksamu melakukan apapun sejak kita kecil?” Hati He Xia diliputi kemarahan dan kekesalan, ia mengertakan giginya. “Chu Beijie yang menginginkan tubuhmu bukan hatimu. Jangan samakan aku dengan dia.”

 

Pingting merasa hatinya di iris dengan pisau tajam, dan tak mampu menopang tubuhnya. Ia mulai terkulai.

 

Zuiju berteriak, “Nona!”

 

He Xia juga melihatnya dan segera menahan Pingting. Ia memijit punggung Pingting, dan berkata dengan lembut, “Aku mengatakan hal yang salah, tenanglah.” Kapanpun ia telah membuat Pingting kesal, ia selalu mengatakan hal yang sama. Kata-katanya selalu terdengar tulus, melebihi apapun. Juga membantunya lebih tenang.

 

Zuiju membawakan air hangat untuk diminumkan pada Pingting. Mata Pingting berkedip pada He Xia, ia melihat rasa khawatirnya yang tulus. Lalu Pingting teringat ia harus menggunakan setiap cara, tipuan dan rencana untuk lepas dari sosok akrab ini. Hatinya sangat pedih. Tak tahu harus bersuara dengan gembira atau marah, akhirnya ia hanya berbisik, “Apa Tuan Muda akan pergi hari ini?”

 

“Kenapa ?”

 

Pingting melihat He Xia menarik pergelangan tangannya dan memeriksa nadinya, efek akupuntur Zuiju sepertinya berhasil, He Xia masuk perangkapnya. Pingting tidak mengubah ekspresinya, “Tidak pa-pa, kalau Tuan Muda tidak pergi, lukislah Pingting, agar kalau suatu hari Pingting menghilang, paling tidak Tuan Muda masih punya sesuatu untuk mengingat Pingting.”

 

He Xia mendengus, “Konyol, Apa maksudmu menghilang. Kalau kau pergi, aku akan pergi ke surga atau ujung dunia untuk mendapatkanmu kembali.”

 

“Apa maksud Tuan Muda ujung dunia? Tuan Muda bersungguh-sungguh dengan kata-kata itu?” ingatan Pingting kembali ke masa lalu, mengingat janji-janji yang ia buat bersama Chu Beijie.

 

Di atas bumi atau langit, sampai ujung dunia, di tempat tertinggi dan terendah.

 

Di kehidupan ini dan seterusnya, janji ini berlaku, hidup maupun mati.

 

“Naiklah ke atas kuda. Mulai sekarang kau tidak lagi dipanggil Bai Pingting tapi bermarga Chu.”

 

Kata-kata tidak bisa dianggap serius, tapi Pingting tetap mempercayainya.

 

Bagaimana bisa ia percaya? Ia telah bermimpi dan sekarang sudah terbangun.

 

Kesedihan meleleh dari hidungnya. Ketika ia terbatuk, airmatanya mulai berjatuhan.

 

He Xia tidak mengetahui kalau pikiran Pingting telah melayang jauh. Ia membujuknya, “Setiap kata yang kukatakan adalah benar. Jangan menangis, aku tidak akan pergi kemana-mana hari ini, aku akan melukismu, sebuah lukisan yang sangat cantik, nanti bisa kau pajang di kamarmu, bagaimana?”

 

Ekspresi Pingting penuh kesedihan dan ia jadi bertambah sedih ketika mendengar suara He Xia yang ingin menenangkannya. Pingting menumpahkan semua kebenciannya pada Chu Beijie.

 

Lalu ia teringat pada janin yang dikandungnya dan ia tidak membiarkan tangisnya pecah keluar.

 

Meskipun He Xia tahu kalau Putri sedang menunggunya di istana, tapi Putri masih lebih mudah di hadapi baginya. Sedangkan Pingting yang lebih cerdas dan lihai, lebih sulit untuk membujuknya. Karena ia juga yang telah menyusun perangkap untuk menghancurkan hati Pingting sampai berkeping-keping.

 

Melihat Pingting yang saat ini begitu lemah, He Xia tak mau melewatkan kesempatan untuk mendapatkan kesetiaannya kembali. He Xia memerintahkan penjaga untuk mengirim pesan ke istana, dengan alasan yang ia pilih dengan acak. Lalu ia mengambil kertas dan kuas, dan mulai melukis Pingting.

 

Yaoutian bahkan tidur lebih parah dari Zuiju malam itu.

 

Ketika kembali ke istana, ia melihat sekeliling ruangan luas yang dihias emas dan tirai manik-manik yang berkilau. Semakin ia perhatikan semakin ia merasa tidak nyaman. Ia menyesali amarah yang ia rasakan ketika meninggalkan Kediaman suaminya.

 

Tarian pedang He Xia di salju dan permainan kecapi Bai Pingting yang luar biasa adalah kepuasan yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh Yaotian kepada He Xia seumur hidupnya. Ia hanya bisa memberikan hal-hal normal sehari-hari atau menyetujui sebuah permintaan.

 

Meskipun ia tak mau mengakui, tapi ia tahu apa yang mereka inginkan.

 

Yaotian bisa menekan rasa tidak nyamannya yang muncul di hati dan pikirannya. Ia berbaring di tempat tidur, gelisah, tidak bisa tertidur sampai waktunya ia harus bangun.

 

Hati seorang pria tidak pernah mudah untuk di tangkap, dan dari semua pria yang ada, ia telah memilih pria yang luar biasa, seorang Tuan Besar Jin Anwang.

 

Memikirkan kata-kata He Xia semalam ketika mengantarkan Yaotian yang sedang kesal, akhirnya ia memutuskan untuk menata penampilannya dengan sungguh-sunguh dan memberitahu Luyi untuk menolak semua pejabat yang berniat menemuinya. Ia sungguh bersiap menunggu kedatangan He Xia.

 

Tidak diduga, setelah beberapa waktu ia menunggu. He Xia tidak juga tiba. Malah datang seorang penjaga yang memberitahukan pesan dari He Xia, kalau ia sedang memikirkan dengan baik tentang masalah di perbatasan dan untuk sementara tidak bisa datang ke istana hari ini. Meskipun si penjaga menjalankan perintah He Xia dengan menyampaikan beberapa kata-kata manis dari He Xia, Yaotian menyuruhnya kembali dengan ekspresi dingin. Ia tinggal sendirian di ruangannya. Menunggu agak lama sebelum akhirnya ia memanggil Luyi, “Panggilkan Pejabat Senior.”

 

Gui Changqing segera membereskan dokumen yang sedang dikerjakannya dan bergegas pergi ketika ia mendengar pesan dari Yaotian.

 

“Duduklah, Pejabat Senior.” Ekspresi Yaotian sangat kacau ketika ia berbicara. Wajahnya penuh kegelisahan, ia tidak tahu bagaimana harus mulai bercerita ketika melihat wajah Gui Changqing. Ia berdiri tegak dan menatap matanya, bertanya, “Sepertinya pasukan Dong Lin sudah hampir siap terkumpul, itu artinya Suamiku akan segera menuju perbatasan dalam beberapa hari ini. Apa semua kebutuhan sudah dipersiapkan lengkap? Apa Pejabat Senior sudah mengirim orang untuk memeriksa kebutuhan yang paling penting, bahan makanan?”

 

“Semua persiapan sudah selesai dan lengkap.” Gui Changqing terbiasa melakukan hal itu dan telah mempersiapkan segalanya. Meskipun ia mendengarkan pertanyaan Yaotian tapi matanya tidak melewatkan apapun. Ia menjawab dengan baik dan melihat Yaotian mengangguk dengan seadanya. Setelah mendengarkan jawabannya Yaotian tidak bertanya lebih lanjut lagi.

 

Tidak ada yang lebih mengerti Putri Yaotian selain Gui Changqing, dan seluruh penghuni istana telah melaporkan padanya tentang Putri yang kembali dari Kediaman suaminya semalam. Ia telah menduga dan segera mengganti topic pembicaraan, “Aku akan memastikan dengan segala kemampuanku, persediaan akan mencukupi di perbatasaan, jadi Suami Ratu tidak perlu khawatir tentang hal itu. Hanya saja… kapan Suami Ratu pastinya akan pergi ke perbatasan?”

 

Yaotian menghela napas dan menjawab, “Aku sudah memikirkan kata-kata Pejabat Senior sejak semalam. Benar, Aku harus memikirkan saat ini dan masa depan, tapi sepertinya saat ini lebih mengkhawatirkan dari pada masa yang akan datang.”

 

Gui Changqing bertanya, “Apa Putri sudah bertemu Bai Pingting?”

 

“Benar.”

 

“Orang seperti apa dia?” meskipun Gui Changqing cukup bijak di usianya yang sudah tua, tapi ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.

 

Kekacauan dunia atas moral yang rendah adalah berkat perkataan para pria.

 

Para prajurit dan kuda, adalah para pelaksana, seluruh darah yang ditumpahkan, dan popularitas adalah pencapaian yang dapat mereka raih.

 

Sedangkan untuk para wanita, kalau mereka terlahir di keluarga terhormat yang memiliki kekuasaan, mereka akan mengejar pernikahan yang bisa mengangkat derajat mereka. Dan kalau mereka memiliki kecantikan yang luar biasa, mereka akan menjadi legenda yang mengacaukan para pahlawan di masa-masa sulit.

 

Bai Pingting adalah salah satunya.

 

Ia terlahir sebagai seorang pelayan,  tapi telah berkali-kali merubah kekuatan empat negara. Ia telah mendapatkan gencatan senjata selama lima tahun bagi Gui Li, memenangkan pertempuran di Kanbu untuk Bei Mo, dan sebentar lagi peperangan antara Dong Lin dan Yun Chang yang alasan sepenuhnya adalah karena dia.

 

“Orang macam apa dia?” sepertinya Yaotian tidak begitu yakin dengan jawaban yang akan dia berikan. Alis matanya yang indah berkerut sedikit, mencoba mengingat penampilan Bai Pingting semalam dan berpikir keras, sebelum akhirnya ia berkata, “Perasaan ketika kau bersama Bai Pingting sulit untuk digambarkan. Ketika pertama kali melihatnya, Aku merasa semua berita tentang kehebatannya memang benar. Sungguh, ia terlihat seperti seorang wanita yang telah menggerakan pasukan untuk menantang Chu Beijie di pertempuran Kanbu. Aku merasa kalau ia mendapat dukungan penuh dari para prajurit, bukan hanya karena ia memiliki bendera komando. Membayangkan ada seseorang yang berani berdiri berhadapan dengan seorang Chu Beijie dan sebanding kemampuannya di medan pertempuran sungguh sulit di percaya. Tapi ketika kau melihat sosoknya, sepertinya semua hal itu terlihat wajar-wajar saja, seperti air yang mengisi gelas yang kosong. Sepertinya itu memang hal yang biasa ia lakukan.”

 

Gui Changqing tidak melepaskan sedikitpun pengamatannya terhadap wajah Yaotian. Ia bersuara dengan pelan, “Menurut Putri, bagi seorang wanita seperti Bai Pingting, yang telah beberapa kali di sakiti oleh pria yang sama, apakah ia akan memaafkan pria itu?”

 

“Disakiti?” sebuah kecurigaan tersirat mata Yaotian, “Bagaimana bisa?”

 

“Karena suatu hal, Pria itu telah melanggar janji mereka, ia tidak kembali tepat waktu, akhirnya ia terpaksa ikut ke Yun Chang.”

 

“Chu Beijie?”

 

“Benar.”

 

Yaotian bertanya dengan penasaran, “Mengapa Pejabat Senior tiba-tiba membicarakan hal ini?”

 

“Aku sudah mengirim orang untuk menyelidiki di Kediaman Suami Ratu tentang kedatangan Bai Pingting. Dari yang kudengar, Bai Pingting telah kehilangan kepercayaannya terhadap Chu Beijie, dan selama Bai Pingting tidak memaafkan Chu Beijie, maka selamanya Chu Bejie akan membenci Kerajaan Dong Lin.”

 

Pikiran Yaotian tidak tertuju pada Chu Beijie. Ia bertanya, “Bukankah itu tujuannya untuk persekutuan dengan Bei Mo?”

 

Sepertinya ketika masalah hampir terselesaikan, masalah penik lain muncul. Yang jauh lebih berbahaya adalah memiliki Bai Pingting, yang entah berada di sisi Chu Beijie atau He Xia ?”

 

Gui Changqing tersenyum lembut, berguman, “Putri, Bai Pingting saat ini sudah tidak berguna.”

 

Yaotian melihat ekspresi Gui Changqing dan terkejut, ia bersuara dengan bergetar, “Maksud Pejabat Senior…” ia mencengkram kuat kedua tangannya.

 

“Tentu saja tidak.” Gui Changqing menggelengkan kepalanya. “Kalau Bai Pingting mati, Chu Beijie akan membabi buta mengerahkan pasukannya menyerang Yun Chang. Akan terjadi peperangan tanpa bisa beristirahat. Tapi… apakah Putri tahu dimana Suami Ratu tidur semalam? Dan apa yang ia kerjakan saat ini?”

 

Yaotian merasa diperingatkan dengan kata-kata barusan. Wajahnya tetap tenang, “Apa ia tidak tidur di Kediamannya?”

 

“Dari laporan yang kuterima dari Kediaman Suami Ratu, He Xia tidur di ruangan Bai Pingting, berita ini kudapat dari pelayan yang dibawa Bai Pingting dari Dong Lin.”

 

Ekspresi Yaotian segera menjadi kacau. Ia segera berdiri dan menarik napas dalam menatap jendela. Ia membutuhkan beberapa saat sebelum akhirnya mulai berguman, “Lanjutkan.”

 

“He Xia tidak berkutat dengan masalah militer hari ini. Ia berada di Kediamannya sedang melukis Bai Pingting.”

 

Yaotian seperti mendapat serangan jantung paling kuat. Tangannya mencengkram kuat pinggir jendela. Begitu kuatnya sampai tulang sendinya terlihat putih, dan kukunya yang tajam membuat jejak dalam di kusen kayu jendela yang terpahat.

 

Ia menarik napas panjang, menaikkan kepalanya dan melihat hasil perbuatannya, kukunya yang terawat rapi sekarang rusak berantakan. Ia menghela napas, “Kalau Bai Pingting meninggal, bukan hanya Chu Beijie yang akan menggila, tapi begitu juga dengan suamiku.” Suaranya terdengar dingin, “Bisakah Pejabat Senior memikirkan sebuah cara untukku? Chu Beijie sedang menekan untuk melakukan peperangan, sementara Bai Pingting berada di Kediaman suamiku. Apa yang bisa kulakukan tanpa membuat hubungan dengan suamiku menjadi tegang?”

 

“Aku punya rencana sederhana yang bisa menyelesaikan semuanya.”

 

“Begitu.” Yaotian menoleh padanya, melihat kepercayaan diri Gui Changqing yang luar biasa.

 

Gui Changqing tersenyum pada Yaotian dan berdehem, “Biarkan aku menjelaskan rencananya pada Putri. Chu Beijie dipenuhi amarah karena He Xia menculik paksa seorang pelayan bernama Bai Pingting. He Xia yang selama ini selalu ditemani oleh Bai Pingting tidak bisa membiarkannya disakiti oleh pria lain, maka ia merencanakan untuk membawanya ke Yun Chang. Maka sebenarnya, Yun Chang tidak melakukan kesalahan apapun, benar?”

 

Yaotian berpikir sejenak dan mengerti maksudnya. Ia mengangguk, “Bai Pingting adalah seorang pelayan di Kediaman Jin Anwang dan Tuan Besar Jin Anwang, He Xia menyelamatkannya dari cengkraman Tuan Besar Zhen Beiwang, ini adalah hal yang wajar. Negara kita Yun Chang sama sekali tidak membuat masalah, Dong Lin sama sekali tidak memiliki alasan untuk menyerang.”

 

Sebuah kesadaran muncul di mata Yaotian, “Maksudmu… kita tidak seharusnya memiliki Bai Pingting di tangan kita.”

 

“Benar. He Xia menyelamatkan Bai Pingting dan tidak menyakitinya, alasan apa yang tersedia bagi Chu Beijie untuk mendeklarasikan perang kalau Bai Pingting tidak berada di Yun Chang?”

 

“Kita bisa membebaskan Bai Pingting ketika suamiku pergi.” Yaotian berpikir sejenak tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya. “Mustahil, kita telah kehilangan banyak kekuatan militer untuk mendapatkan Bai Pingting dari Dong Lin. Bagaimana bisa kita melepaskannya begitu saja? Dan bagaimana kalau suamiku tahu, ia pasti sangat marah.”

 

“Selama Bai Pingting tidak kembali ke sisi Chu Beijie, maka kekuatan militer Yun Chang yang berkurang sama sekali tidak sia-sia.” Gui Changqing memang bijaksana dan sudah memikirkan segalanya, “Bai Pingting memohon pada Putri untuk melepaskannya. Bukankah He Xia selalu menghiburnya dan memperlakukannya seperti seorang adik perempuannya sendiri? Tidak ada yang akan menyalahkan Putri karena merasa kasihan padanya. Ingatlah, tujuan He Xia menggerakan pasukan adalah untuk memecah ikatan antara Chu Beijie dan keluarga kerajaan Dong Lin. Sekarang tujuan itu telah tercapa, He Xia punya alasan apa lagi untuk menahan Bai Pingting? Atau He Xia punya alasan lain ketika meminta ijin Putri untuk menggerakan pasukan? Apakah mungkin He Xia menggunakan begitu besar kekuatan militer Yun Chang hanya untuk mencuri seorang wanita dari Chu Beijie?”

 

Setiap kata yang diucapkan terdengar semakin kasar di pikiran Yaotian. Yaotian mendengarkan dengan tenang dan tersenyum. “Pendapat Pejabat Senior benar, militer Yun Chang digerakan untuk kebaikan negara dan jelas-jelas tidak bisa digunakan oleh Suamiku hanya untuk mencuri seorang wanita dari tangan Chu Beijie. Kalau Suamiku menyalahkan diriku atas kepergian Bai Pingting, bagaimana ia menjelaskannya pada para Jendral? Aku mengerti.” Sebuah rencana sudah tersusun di kepalanya. Yaotian tidak khawatir lagi dengan kegagalan. Matanya menyiratkan kebulatan tekad yang hanya bisa dimiliki oleh keluarga kerajaan.

 

“Tuan Putri akhirnya mengerti.” Gui Changqing tersenyum puas. “Masih ada beberapa hal kecil yang harus dipikirkan dengan matang. Meskipun kita membiarkan Bai Pingting pergi, kita masih harus menyakinkan Chu Beijie tetang hal ini. Kalau Chu Beijie tidak percaya kita melepaskannya dan malah berpikir membunuhnya secara diam-diam, itu akan jadi bencana.”

 

“Ketika kita membebaskan Bai Pingting, kita harus membuat ia menulis surat bahwa ia pergi atas kemauannya sendiri. Seharusnya itu tidak sulit.” Yaotian berkata. “Hanya saja… ketika kita melepaskannya, kita tidak bisa mengendalikannya lagi. Kalau ia kembali pada Chu Beijie,  atau malah memihak Suamiku, bukankah usaha kita menjadi sia-sia?”

 

“Jangan terlalu yakin, Putri. Bai Pingting sudah sangat membenci Chu Beijie dan sepertinya tidak berniat kembali ke Dong Lin.” Gui Changqing sudah mempertimbangkan hal ini dengan matang. “Bai Pingting adalah orang yang sangat berharga bagi Chu Beijie dan juga He Xia. Kalau kita menggunakan harga diri dan kesombongannya, maka ada satu cara untuk membuatnya tidak kembali pada salah satu pria itu.”

 

“Cara apa?”

 

Perkataan Gui Changqing sepertinya tertahan, ia menghela dengan ragu. Tapi akhirnya ia berkata dengan pelan, “Dunia sedang kacau, dan banyak orang-orang yang tidak mengikuti aturan. Kalau Bai Pingting keluar sendirian ke jalanan dan bertemu beberapa orang jahat, maka….” Ia membiarkan kata-kata terakhirnya tidak terucapkan, malah berkata, “Bagaimana ia bisa bertemu orang lain? Kalau beberapa penjahat di jalan memperkosanya, atau malah ia menjadi pengemis yang paling memalukan, ia tidak akan dikaitkan dengan Yun Chang sama sekali. Bahkan meski Chu Beijie menemukannya, tidak ada kemungkinan ia akan bersama Chu Beijie lagi. Chu Beijie akan tetap menyalahkan kerajaan Dong Lin atas hal ini. Lagipula, keluarga Chu Beijie sendiri yang telah setuju mengorbankan kekasihnya, wanita yang paling dicintainya.”

 

Yaotian bagaimanapun masih seorang wanita dan setelah berpikir sejenak, ekspresinya berubah. Ketika Gui Changqing selesai berbicara, ia mengelengkan kepalanya, “Itu tidak baik, apa Pejabat Senior memiliki rencana lain?”

 

“Tidak mati, tapi hidup lebih tersiksa daripada mati. tidak ada cara lain.”

 

“Tapi…”

 

“Putri! Putri tidak boleh ragu. Pasukan Dong Lin sudah di perbatasan, dan niat He Xia sangat mendesak. Kalau kita tidak menyingkirkan Bai Pingting, maka nasib negara dipertaruhkan. Suara Gui Changqing sangat bersungguh-sungguh. Ia berguman, “Putri hanya perlu satu kali menemui Bai Pinting ketika He Xia sudah pergi, ucapkan kata-kata hangat padanya dan bujuk ia menulis sebuah surat. Lalu Putri bisa membiarkannya pergi dan aku akan mengurus sisanya tanpa jejak.”

 

Sebuah dilemma terlihat di mata Yaotian. Ia berpikir sejenak dan mengelengkan kepalanya.

 

“Putri! Putri! Dengarkan perkataanku…”

 

Gu Changqing ingin berkata lagi tapi segera dihentikan oleh Yaotian yang berbalik menghadap ke arahnya. “Pergilah, Pejabat Senior, biarkan aku berpikir sebentar.”

 

Gui Changqing menatap matanya dan melihat sifat keras kepalanya. Ia tahu saat ini tak ada kata-kata yang bisa merubahnya, maka ia menurutinya dan membungkuk. “Aku pergi.” Ia menghela napas berat dan berlalu melewati tirai manik-manik.

 

Punggung Yaotian tidak bergerak beberapa lama seperti patung yang semakin membantu.

 

Luyi berjalan masuk, melapor dari balik tirai, “Putri, diluar…”

 

“Pergilah!” Yaotian berkata dengan keras. Ia lalu berbalik dan mengambil sesuatu dari meja dan melemparkannya keluar. Pemerah pipi Fangniang yang digunakannya di malam sebelumnya, berceceran keluar dari wadahnya.

 

Suara benda terjatuh di depan Luyi, menebarkan warna merah di tanah.

 

Bai Pingting, Bai Pingting dari Kediaman Jin Anwang.

 

Kau menggenggam nasib rakyat Gui Li, menggenggam nasib Bei Mo, menggenggam nasib Dong Lin. Dan sekarang, kau bermain kecapi, tersenyum ramah dan memutuskan nasib Yun Chang?

 

Bagaimana bisa aku bisa membiarkan senar dibawah jari-jarimu menentukan nasib negara Yun Chang yang hebat, termasuk juga nasibku sebagai Putri dari negara Yun Chang.

 

Bagaimana bisa aku membiarkanmu mengacaukan negaraku, mengacaukan rumahku?

 

Yaotian mengigit bibirnya dan merobek tirai jendela, sejengkal demi sejengkal.

 

--

Dong Lin dan Yun Chang bertemu di depan masing-masing perbatasan. Suara genderang perang sedang dipersiapkan.

 

Suaranya terdengar kecil dan lemah dari kejauhan. Seperti irama kuno tentang langit dan daratan, menyembunyikan suara yang sesungguhnya ketika mereka memukulnya.

 

Seiring waktu bendera-bendera yang berkibar mulai menutupi matahari dan bulan, pasukan Dong Lin sudah terkumpul seluruhnya. Terlihat dari kejauhan, perkemahan seperti penuh dengan mata yang tenang dan cahaya dingin senjata-senjata menutupi sebagian besar daratan.

 

Angin berdesir di atas tanah.

 

Cahaya embun pagi di atas rerumputan menguapkan niat membunuh para prajurit sampai tak bersisa.

 

“Tuan, Pasukan Naga Serigala sudah tiba.”

 

Ketika Chu Beijie mendengarnya, ia menaikan tangannya untuk menyingkap tirai, dan berjalan keluar dari tenda penasihat. Chu Beijie berdiri tegak sekokoh gunung, tatapannya menyapu kebawah untuk melihat barisan rapi para prajurit.

 

Pasukan prajurit sudah terkumpul.

 

Bendera-bendera menutupi langit dan wajah-wajah muda, meskipun begitu ekspresi berani matilah yang di pancarkan oleh mereka. Mereka semua adalah kekuatan penting yang melindungi Dong Lin.

 

Chu Beijie menatap mereka semua dengan seksama.

 

“Bagaimana situasi di ibukota?” setelah beberapa saat, ia bertanya pada Chen Mu, yang berdiri di belakangnya.

 

Chen Mu menghela napas. “Yang Mulia Raja telah mengirim enam surat yang ditulis sendiri olehnya, meminta Tuan untuk segera menarik mundur pasukan, dengan nada keras yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Apakah Tuan benar-benar tidak ingin membaca sendiri surat-surat dari Yang Mulia Raja?”

 

Sebuah cahaya pedih berkilat di matanya. Suaranya dingin, “Kalau aku membaca salah satu surat itu, maka aku sudah kehilangan Pingting.”

 

Pengirim pesan yang dikirim Ze Yin telah memberitahukannya kebenaran.

 

Perihal pembunuh sebenarnya dua pangerang Dong Lin bukanlah Bai Pingting.

 

Tapi apa gunannya sekarang?

 

Bahkan meskipun memang Bai Pingting yang telah membunuh dua pangeran, ia telah memutuskan untuk mencintainya. Dan meskipun Bai Pingting tidak membunuh dua pangeran, Raja dan Ratu pasti akan tetap menggunakan dirinya untuk sebuah kesepakatan.

 

Dalam dunia yang begitu kacau, apa gunanya kebenaran?

 

Chu Beijie tidak menyukainya dan membenci dirinya sendiri.

 

Sebuah surat yang ditulis sendiri oleh kakaknya, telah menyeretnya keluar dari kediaman terpencilnya yang nyaman, menariknya keluar dari seluruh dunianya.

 

Tapi ia tidak punya alasan untuk menyesal, karena ia sendiri yang telah memilih untuk pergi.

 

Sejak mengetahui Selir Li yang hampir melahirkan, ia sadar bahwa kelangsungan keturunan keluarga kerajaan sedang dipertaruhkan. Maka ia membuat keputusan juga.

 

Dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, karena ia sangat menyesalinya kemudian.

 

Ia tahu kalau kakaknya dan He Xia telah menggunakan cara ini untuk melihat bagaimana posisi Pingting bagi dirinya. Karena itulah mereka tahu bahwa bagaimanapun perasaan cintanya pada Bai Pingting, ia telah menyingkirkannya.

 

Untuk Pingting yang menganggap cinta sangat penting seperti air dalam suatu kehidupan, ini adalah sebuah kesalahan fatal.

 

Kesedihan di hatinya tidak mengalir ketika Chu Beijie menyadari hal ini.

 

“Selama Tuan masih memikirkan Pinting, apa lagi yang lebih penting? Bahkan jika kedua tangan ini hancur dan tak bisa memetik kecapi lagi.” Pingting melihat padanya dengan bangga, Pingting telah memberikan segalanya untuknya tanpa khawatir.

 

Pingting telah menyanyi di dalam dekapannya, mendengarkan keluh kesahnya.

 

Hatinya yang begitu angkuh dan sombong.

 

Telah menggunakan segala kemampuannya untuk memberitahukan dirinya Chu Beijie betapa Pingting begitu peduli padanya dan selalu menyusahkannya.

 

Setiap perkataan yang pernah di ucapkan Pingting bergema di ingatan Chu Beijie, dan setiap ekspresi wajahnya, membuat hati Chu Beijie merasa hancur.

 

Ia tak pernah tahu kalau kenangan bisa membuat seseorang menjadi gila.

 

Para prajuri sudah selesai berkumpul.

 

Pingting, segera, aku akan menuju Yun Chang.

 

Aku akan mengorbankan segalanya untuk membawa istriku kembali.

 

Aku harus memberitahukan sendiri padamu bahwa, tidak ada satupun di dunia ini yang sebanding dengan senyum di wajahmu. Dalam hati Chu Beijie tidak ada yang lebih penting selain dirimu.

 

Kita akan bicara tentang langit yang runtuh dan bumi yang berguncang karena cinta kali ini, sebuah cinta yang sebenarnya. Tak peduli berapa banyak halangan dan rintangan, tak akan berubah.

 

Suara langkah kaki kuda berderu mengembalikan kesadaran Chu Beijie. Luoshang dalam balutan debu turun dari kudanya, ia berjalan dan berlutut di depan Chu Beijie, “Tuan.”

 

“Bagaimana keadaan kediaman? dan Moran?”

 

Setelah pertarungan di kediaman terpencil, Moran dan banyak para penjaga lainnya termasuk juga para prajurit musuh terluka sangat parah. Luoshang yang terluka paling ringan dibanding mereka semua. Ia diperintahkan untuk tetap disana dan merapikan kediaman sambil merawat kakaknya.

 

Luoshang melaporkan, “Separuh dari kediaman terbakar sampai menjadi debu tapi sudah selesai dirapikan. Mereka yang meninggal sudah selesai dikuburkan. Seorang tabib menyembuhkan kakakku yang berhasil bertahan, dan kesehatannya membaik dengan cepat. Tapi, Juntian, ia … ia tidak bisa bertahan.”

 

Ekspresi Chu Beijie terlihat sedih.

 

Ia telah melatih mereka sendiri dan juga mempromosikannya. Mereka masih sangat muda, kuat, dan bergairah. Bagaimana mungkin ia tidak merasa kehilangan?

 

“Tuan…” Luoshang masih memiliki informasi yang belum diucapkan. Ia terlihat sedikit menyesal ketika hendak mengatakannya, waktu ia menoleh pada wajah Chu Beijie. “Ketika kami membersihkan ruangan Nona Zuiju, kami menemukan kalau ia menyimpan beberapa botol obat dan beberapa resep…”

 

“Botol obat?” suara Chu Beijie terdengar kaku, “Apa Pingting sakit parah ketika aku pergi?”

 

“Aku meminta tabib memeriksa botol obat tersebut dan mereka bilang….. menurut mereka…” Luoshang terlihat gelisah ketika menatap wajah Chu Beijie, ia segera menundukan kepalanya lagi dan berkata, “itu adalah obat untuk menguatkan janin, para tabib juga memeriksa resepnya dan mereka sangat yakin kalau obat itu memang untuk kandungan.”

 

Kesunyian yang tiba-tiba menyelimuti mereka mengapung di udara.

 

Wajah terkejut Chu Beijie yang tajam jatuh kesuatu tempat di belakang Luoshang seperti mencoba untuk mengali lubang di dalam dataran.

 

Pingting hamil…

 

Dalam perutnya yang lembut, ia memiliki darah dagingku!

 

Pingting yang patah hati membawa pergi anakku!

 

Meskipun semua luka peperangan yang pernah dialaminya disatukan, tak bisa disamakan dengan rasa rakitnya saat ini.

 

Batu yang memukul hatinya tak pernah terasa ribuan kali lebih berat dan menekan sampai ke bagian paling dalam.

 

Hatinya terasa kaku karena sakit, dan tubuhnya diam tak bergerak.

 

“Kirim pasukan.” Chu Beijie terlihat tersiksa ketika berkata.

 

“Tuan?”

 

Mata Chu Beijie terlihat terbakar api yang sangat besar. Ia menekankan setiap kata-katanya, “Lanjutkan perintahku. Semua pasukan berkemah di tempat ini sebelum menuju Yun Chang!”

 

Pingting. Anakku. Tolong tunggu sebentar lagi.

 

Aku akan secepatnya berkuda ke arahmu.

 

Dan Chu Beijie bersumpah pada langit.

 

Aku akan melindungimu selamanya, mencintaimu selamanya dan tak akan membiarkan siapapun atau apapun memisahkan kita lagi, selamanya.

 

Seperti yang kau harapkan, tak peduli apapun yang terjadi, tak peduli ribuan rintangan yang mendera cinta kita, pikiran kita tak akan pernah berubah.

 
--0--


Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

3 komentar:

  1. Thanks ya author ,udah mau translate novel ini

    BalasHapus
  2. Terimakasih! Terjemahannya bagus sekali .... enak dibaca n gampang dimengerti.... terimkasih! Good job!

    BalasHapus
  3. Haru dan sedih sampai menangis membaca bagian ini.

    BalasHapus