Yun
Chang.
He
Xia berdiri di belakang meja, dengan tenang membuka laporan terbaru dari
pasukan. Ia berbalik, menoleh pada istrinya.
“Jangan
khawatir Tuan Putri. Pasukan Dong Lin telah melakukan peperangan cukup lama dan
telah kehilangan kekuatannya. Yun Chang sebaliknya masih segar dan sudah
bersiap sejak lama.” Suara He Xia sangat tenang. Ia tersenyum sedikit.
Putri
Yaotian duduk dengan sopan, memperhatikan suaminya yang telah lama pergi.
Wajahnya masih setampan ketika ia melihatnya pertama kali. Sikapnya yang tenang
juga masih sama kecuali rasa ketidakpuasan yang tidak ditunjukannya di
wajahnya.
“Apa
kita sungguh akan berperang? Selama bersekutu dengan Bei Mo, kau bilang itu
hanya untuk menekan musuh agar mereka mengetahui kekuatan Yun Chang sehingga bisa
menghindari pertempuran fisik dengan pasukan musuh.”
He
Xia dengan hati-hati mempelajari ekspresi wajah Yaotian. Suaranya melembut,
“Apa Tuan Putri takut?”
Yaotian
mengeluh kecil, “Chu Beijie adalah seorang Jendral terkenal dan pasukan Dong
Lin sungguh kuat. Bagaimana mungkin aku tidak takut, melihat pasukan Dong Lin
begitu banyak berkemah di depan perbatasan kita sejak beberapa hari lalu.
Meskipun Bei Mo bersekutu dengan Yun Chang, bagaimana kalau mereka tidak
menepati janji dan menyerang kita, sementara kita sedang bertempur di
perbatasan Dong Lin ?”
“He
Xia meminta maaf telah membuat Putri begitu khawatir.” He Xia maju dan dengan
lembut menyentuh wajah istrinya. Suaranya sangat memikat seperti magnet ketika
ia berbisik, “Tolong letakan semua kekhawatiran dan ketakutan Putri pada He
Xia. He Xia berjanji tidak akan membiarkan sedikitpun kerisauan melanda Putri.”
Anting-anting
dari tusuk konde yang dipakai di kepalanya menyembunyikan sebagian sinar mata
Yaotian. Ia meluruskan lehernya dan memperhatikan ke dalam mata He Xia. Sebuah
cahaya bersinar di matanya ketika ia tersenyum manis, “Dengan kau berada
disini, kekhawatiran berada jauh dariku.” Ia menundukan kepalanya tapi segera
dihentikan oleh tangan He Xia yang menahan dagunya.
Yaotian
dengan sedikit pasrah menaikan kepalanya sedikit demi sedikit mengikuti
keinginan tangan He Xia. Sebuah kehangatan mendarat di bibirnya dan rasa panas
segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengan satu hembusan napas hangat, He Xia
menciumnya dengan membara.
Yaotian
merasa pusing dengan ciuman itu, rona merah merambat melewati kedua telinganya.
Yaotian mengeliat melepaskan diri dari He Xia, jantungnya serasa ingin melompat
dari tempatnya. Ia mengangkat tangannya merapikan rambutnya yang menjuntai
keluar, lalu menoleh pada cermin di pojok dan menyadari kalau telinganya sudah
memerah. Ia memandang He Xia mengejek dengan bergaya marah dan mengerutu,
“Seriuslah suamiku, Kita di istana kerajaan, bukan di kediaman Suami Ratu.
Kalau pelayan melihat, bagaimana aku menatap mereka.”
He
Xia terkekeh, “Maklumi aku Putri. He Xia meninggalkan Yun Chang terlalu lama
dan sangat merindukan Putri sehingga, aku sulit mengendalikan diriku.” Lalu He
Xia berbisik, “Maukah kau datang malam ini, ke kediaman suamimu? Pasukan Dong
Lin saat ini sedang berkumpul, aku akan segera berangkat ke perbatasan beberapa
hari lagi untuk menghadapi Chu Beijie. Aku tidak tahu peperangan ini akan
memakan waktu berapa lama, dan aku juga tidak tahu kapan akan bisa kembali
untuk menemui Putri lagi.”
Kuping
Yaotian masih merona karena hembusan hangat napas He Xia, dan jantungnya
berdetak kencang tak beraturan. Ia berbisik, “Apakah suamiku tidak lelah? Kau baru
tiba di ibukota larut malam dan memasuki istana pagi ini. Kau belum tidur
dengan benar.”
Ruangan
pribadi mereka tiba-tiba terasa berat ketika mereka mendengar suara langkah
kaki dari balik tirai.
Sebuah
sosok berhenti di balik tirai. Luyi berkata, “Melapor pada Tuan Putri, Pejabat
Senior mohon bertemu.”
“Persilahkan
ia masuk.” Yaotian memerintahkan. Ia berbalik melihat He Xia, senyumnya seperti
madu. Sebuah kerutan muncul di alisnya yang tersisir rapi, “Ini salahmu
suamiku, kau membuatku wajahku sangat merah. Apa yang dipikirkan Pejabat Senior
jika ia melihat wajahku.”
“Biarkan
saja ia melihatmu. Bagaimana bisa seseorang yang begitu berumur seperti Pejabat
Senior tidak mengerti hubungan antara istri dan suaminya?” He Xia tertawa
ringan dan mendekatinya. Lalu berbisik,”Putri belum menjawab, apakah ia akan
datang ke kediaman suaminya nanti malam?”
“Seriuslah,
kau…”
“Kerinduan
menunggu.”
Tak
peduli seberapa tampan seorang pria, begitu mereka lepas kendali, mereka adalah
seekor monyet yang harus dihadapi seorang wanita.
Yaotian
merasa marah dan geli. Ia mengulum bibirnya, “Karena suamiku sudah kembali, maka
aku sebaiknya mengunjungi kediamannya dengan gembira. Tapi apa yang akan
dikatakan para pejabat, karena Yaotian hanyalah seorang perempuan? Akan
terlihat seperti…. Kurasa lebih baik jika aku mencarikan dua pelayan cantik
untuk kediaman suamiku.” Ia menatap malu pada He Xia.
Eskpresi
He Xia tidak berubah, ia tersenyum sambil bertanya, “Jadi apakah mala mini
sebaiknya aku menyiapkan arak dan cemilan di halaman belakang kediamanku?”
Yaotian
menyembunyikan senyumnya dan menatapnya balik. Ia menyentuh pundak He Xia
dengan lembut. “Para Jendral sedang menunggu untuk melapor padamu. Pergilah
temui mereka. Hati-hati jangan sampai menabrak Pejabat Senior atau ia akan
terus merengek padamu.”
He
Xia mengecup pipinya lalu melangkah mundur. Ia menampilkan ekspresi lucu dan
bersenandung sambil membungkuk sebelum pergi, “Berkah terbaik untukmu Putri.”
Tirai
tersibak dengan berisik, Gui Changqing berjalan masuk dan melihat He Xia hendak
pergi.
“Suami
ratu.”
“Pejabat
Senior.”
Mereka
saling mengangguk sambil berlalu. Gui Changqing berbalik dan menyaksikan
punggung He Xia, penuh kepercayaan diri dan kekuatan. Ia diam sesaat kemudian
melangkah masuk ke dalam dan memberi salam pada Yaotian.
“Jangan
hiraukan tatacara, duduklah Pejabat Senior.”
Luyi
menghidangkan teh yang sudah dipersiapkan untuk Gui Changqing. Gui Changqing
mengambilnya dan meminumnya sampai habis, kemudian menatap wajah Yaotian dan
melihat wajahnya yang gembira. Lalu ia membuka mulutnya dan tertawa, “Tak heran
para pejabat mengatakan hanya satu orang yang mampu dengan mudah, mengubah
ekspersi wajah Tuan Putri, sejak kedatangannya di ibukota.”
Gui
Changqing telah melayani selama bertahun-tahun dan telah menyaksikan Yaotian
tumbuh besar. Ia sudah seperti ayah bagi Yaotian. Tawanya membuatnya merasa
kesal, “Bahkan Pejabat Senior juga turut mengejek Yaotian?”
Gui
Changqing menatap Yaotian dengan bangga dan akhirnya berhenti tertawa. Wajahnya
berubah menjadi serius begitu juga dengan suaranya, “Apakah Suamimu sudah
mengatakannya pada Putri?”
Dengan
pertanyaan ini, senyum di wajah Yaotian menghilang.
“Sudah.”
Ia menghela napas dan dahinya mengerut, “Ia sama sekali tidak khawatir dengan
pergerakan pasukan Dong Lin dan sama sekali tidak berniat menyerahkan Bai
Pingting untuk menghindari peperangan.”
“Putri
kalau kita benar-benar sampai bertempur dengan pasukan Dong Lin, lawan kita
adalah Chu Beijie. Dan pasukan kita dipimpin oleh Suamimu, kedua belah pihak
akan mengalami kerugian besar. Sama sekali tidak ada keuntungan untuk Yun
Chang.”
“Apa
yang bisa kulakukan?” Yaotian mengerutkan dahi, “Ketika membicarakan pasukan
Dong Lin, Suamiku sama sekali tidak menyinggung nama Bai Pingting, aku menerka dengan
pasti kalau ia sama sekali tidak berencana menyelesaikan hal ini secara damai dengan
Chu Beijie.”
Gui
Changqing tidak berkata-kata lagi. Ia mengangkat cawannya dan memperhatikan
riaknya. Ia membiarkan Yaotian menatapnya beberapa saat dan kemudian meletakan
cawannya kembali dengan kedua tangannya. “Putri telah jatuh dalam perangkap Suamimu,
mengirim pasukan keluar dan dengan berani mendekati perbatasan Dong Lin, tujuannya
yang sebenarnya memutus hubungan Chu Beijie dengan keluarga kerajaan, menghancurkan
mereka dengan menggunakan Bai Pingting.”
“Itu…”
“Putri
harus sangat hati-hati, mulai sekarang.” Gui Changqing menatap mata Yaotian dan
berbisik, “Suamimu menempatkan Pingting di kediamannya. Dan kudengar ia
memerintahkan pelayan untuk tidak melepaskan pandangan mereka darinya, dan
mereka juga diperintahkan untuk memperlakukannya dengan sangat sopan, seperti
Nyonya Rumah.”
Anting-anting
di mahkotanya bergetar ringan. Ia menghindari tatapan Gui Changqing dan
berpikir dalam-dalam.
Beberapa
saat berlalu, akhirnya Yaotian berkata dengan lemah, “Mengerti.”
Setelah
kepergian Gui Changqing, Luyi datang melapor, “Makan siang sudah siap.”
“Aku
tidak lapar, katakan pada mereka untuk membereskannya.”
Yaotian
menyuruh Luyi dan pelayan lainnya untuk pergi. Ia duduk di dalam ruangan,
sendirian. Kepalanya tertunduk ketika berpikir dengan keras. Cahaya
berwarna-warni berkilau dari tirai permata. Mereka bergoyang di lewati angin,
dan terkadang saling menabrakan diri, sehingga terdengar bunyi gemerincing yang
jernih.
Yaotian
mengangkat tanganya dan melepaskan mahkotanya. Ia memperhatikannya sebentar
lalu meletakannya di meja. Ia melepaskan beberapa tusuk konde di rambutnya,
membiarkan rambutnya yan sehitam mutiara terurai, menutupi bahunya. Ia menatap
cermin, wajahnya terlihat lebih jelas menekankan kecantikannya.
Ia
tersenyum pada cermin, mencoba beberapa macam senyum, semua senyum itu terlihat
cantik dengan caranya sendiri. Yaotian tertawa dan meninggalkan cermin. “Luyi!”
ia memanggil.
Luti
segera datang dari beranda, “Hadir, apa yang Putri inginkan?”
“Aku
ingin mandi.”
“Baik,
aku akan segera menyiapkannya.”
Yaotian
bersuara lagi dari balik tirai. “Taburkan beberapa kelopak bunga Qixiang dari
gunung bersalju.”
“Baik.”
Setelah
Luyi menjawab, Yaotian sepertinya memikirkan satu hal lagi, “Apa nama pemerah
pipi yang diberikan oleh Penulis Sejarah Houncheng pada ulang tahunku bulan
kemarin?”
“Menjawab
Putri, pemerah pipi itu dikenal dengan nama Fangniang, terbuat dari kelopak
bunga yang sangat langka. Bubuknya sangat tipis dan ringan ketika di pakai. Pejabat
yang membawanya mengatakan, bisa membuat kulit sehalus kulit bayi yang baru
lahir.”
Yaotian
mendengarkan dengan seksama dan berkata, “Hm.” Lalu ia memerintahkan, “Setelah
mand, bawakan Fangniang aku ingin mencobanya.”
“Baik,
Putri.”
Perintah
ini sudah cukup, Luyi segera menyiapkan segala yang dibutuhkan. Yaotian berdiri
dari kursinya, melihat ke bawah agak lama, sebuah gaun berwarna merah keungguan
terang yang pantas digunakan oleh seorang Putri.
Gaun
ini khusus debuat oleh Penjahit terbaik Yun Chang untuknya. Ada beberapa bentuk
bunga dan burung yang membuat lusinan penyulam istana sibuk selama sebulan
penuh. Lengannya sangat panjang. Jumbai berwana abu-abu unggu bergantung di
ujung kakinya, menyempurnakan bentuknya. Tidak ada gaunnya yang semahal dan
serumit yang satu ini.
Kegembiraan
dan kegairahan bermunculan di mata hitam Yaotian.
--
Dua
Jendral terkenal di dunia, Tuan Besar dari Jin Anwang dan Tuan Besar Zhen
Beiwang, sekarang sudah lengkap.
Ia
sendiri Tuan Putri dari Yun Chang sudah menjadi istri dari He Xia.
Tapi
bagaimana Bai Pingting bisa mendapatkan hati Chu Beijie?
Zuiju
adalah orang yang paling tahu bagaimana penampilan Bai Pingting saat ini.
Mereka
berdua datang hanya membawa satu helai pakaiang ganti masing-masing. Perjalanan
kesini sangat tidak bersahabat. Mereka berdua lelah dan kotor. Ketika mereka
tiba di Kediaman Suami Ratu, segalanya sepertinya telah dipersiapkan sejak
lama. Tidak perlu memerintahkan pelayan membawakan keperluan sehari-hari karena
semuanya sudah tersedia.
Cermin
perunggu Pingting berdiri di atas meja, bersama sisir yang biasa ia gunakan
ketika di kediaman Jin Anwang dulu. Dan sebuah lemari baju yang penuh pakaian
rapi terlipat, semuanya warna kesukaannya, tak satupun yang salah.
Ada
beberapa kotak di dekat meja. Satu berisi kecapi dan yang sebuah lagi berisi
semangkuk penuh dengan bebatuan alam bermacam warna yang menyerupai permata.
Ruangan
wangi dupa, membawa kehangatan, tapi tidak menyesakkan.
Sebuah
pot bunga berdiri disamping jendela, penuh dengan bunga segar yang baru saja di
petik. Beberapa pucuk dibiarkan tergeletak di atas meja dan di sebelahnya
beberapa tangkai lagi bunga yang sudah mekar.
Sangat
sempurna sehingga terasa mengerikan.
Sepertinya
Pingting telah tinggal lama ditempat itu. Dan yang lebih mengerikan adalah
keinginan Pingting untuk hadir dan tinggal disana selamanya.
He
Xia telah berangkat ke istana kerajaan pagi sekali, meninggalkan dua burung
terkurung dengan barang-barang baru yang sudah akrab.
Pingting
dibelakang bangunan. Wajahnya tidak lagi putus asa seperti ketika menyaksikan
bulan berlalu, mengakhiri tanggal enam.
Ekspresi
yang mengantikannnya adalah rasa malas karena senggang.
Perasaan
itu membuat Zuiju tak bisa mendekatinya.
Zuiju
berdiri disamping lorong, melihat pada punggungnya yang tegak. Ia tahu kalau
Pingting tengah berbaik hati pada dirinya sendiri, tapi ia masih tidak mengerti
bagaimana Pingting mampu berdiri tegak seperti itu.
Ia
menghela napas pelan.
Ia
tidak mengerti, tapi selain Bai Pingting sendiri siapa yang mampu?
Zuiju
menghela napasnya beberapa kali lagi. Ia berdiri tidak begitu jauh dari
Pingting. Ia bisa melihat wajah Pingting, tapi tidak bisa melihat hatinya.
Disebrang
koridor, Zuiju sepertinya diserbu airmata tak terbendung. Ia segera
menggerakkan tangannya dan menyapu ujung matanya. Pingting berbalik ke arahnya
dan memberi isyarat dengan serius.
Zuiju
sangat terkejut.
Sejak
Pingting menumpahkan obat, dan terjatuh berlutut sambil menangis, ia telah
menjadi seseorang yang kehilangan jiwanya, hanya seperti boneka hidup. Pingting
tidak berbicara sama sekali dan tidak ada apapun di sorot matanya. Zuiju segera
mendekat, sepertinya sudah lama sekali Pingting tidak bereaksi seperti itu.
Walaupun
hanya sebuah gerakan tubuh, sudah cukup membawa kegembiraan.
Zuiju
segera melintasi koridor, berdiri disisi Pingting. “Nona Bai, ada masalah? Apa
kau menginginkan sesuatu? Atau kau ingin makan sesuatu?”
Pingting
mengelengkan kepalanya. Ia melihat sekelilingnya memeriksa apakah ada yang
memperhatikan, dan akhirnya ia berbisik, “Ia menendangku.”
Sebuah
gerakan kecil, sebuah senyum yang hampir tak terlihat, muncul dari wajahnya
yang pucat.
Setelah
beberapa hari bersedih dan putus asa, senyum ini adalah hal terindah yang
pernah Zuiju lihat sepanjang hidupnya.
“Sudah
bergerak?” Zuiju mengerutkan dahi dan berkata, “Kau tidak salah, Nona, Bayi itu
belum cukup umur, seharusnya belum bisa menendang saat ini.”
“Tidak
salah.” Pingting mengigit bibirnya, “Benar-benar bergerak.” Sebuah gerakan
ringan yang mengingatkan Zuiju betapa gadis cantik ini telah mengacaukan Chu
Beijie ketika dikediaman terpecil itu.
Sebuah
kenangan yang tak terduga.
Sebuah
kenangan indah yang muncul setelah malam yang mengerikan.
Wangi
bunga plum yang telah dipendam di kediaman terasing dalam Kendi Yang Mengunci
Diri. Hongqian telah pergi entah kemana sementara para penjaga berdiri saling
mengangguk dan berbicara. Ekspresi Moran terasa jauh, tapi ia tetap baik hati,
peduli dan lembut.
Para
pelayan dapur menyediakan makanan setiap hari, dengan ramah menerima beberapa
keluhan. Mereka merapikan mangkuk mangkuk makanan dengan puas ketika melihat
Nona Bai menikmati makan siangnya.
Chu
Beijie berada disana, dan hati Bai Pingting juga disana. Ia akan bermain kecapi
dan pria itu berdiri disampingnya. Menolehkan kepalanya, mata pria itu
memancarkan cinta dan kehangatan yang tak mungkin memisahkan mereka.
Semuanya
terlukis dibalik salju yang berjatuhan, sungguh pemandangan yang indah.
Dan
sekarang, Zuiju menyadari kehidupan di kediaman terpencil itu adalah sesuatu
yang sungguh sangat berharga.
Sebuah
tangan ramping bergerak di depan mata Zuiju, membuatnya kembali pada kenyataan.
“Ah… Nona.” Ia berkata.
“Ah… Nona.” Ia berkata.
“Aku
tak bisa tetap disini.” Suara Pingting
sangat pelan tapi penuh keyakinan.
He
Xia pasti akan segera tahu tentang anak ini.
Mereka
berdua sedang dikurung, bagaimana mungkin He Xia tidak akan tahu kalau perut
Pingting terus membengkak hari demi hari.
“Nona,
Tuan Besar pasti akan menyelamatkan kita secepatnya.”
Zuiju
segera menyesal ketika selesai mengatakannya.
Eskpresi
Pingting seperti seseorang yang di tenggelamkan ke dalam sungai, perlahan
membeku dan akhirnya sepenuhnya hancur.
Ia
berbalik dan duduk di kursi batu di pekarangan.
Ia menundukan kepalanya, menyembunyikan ekspresinya dari Zuiju. Dan
akhirnya ia berkata dengan sangat pelan, “Zuiju, kumohon padamu…”
Zuiju
menyalahkan dirinya sendiri karena tak mampu menahan ucapannya dan segera
berguman, “Zuiju telah bersalah, aku tidak akan menyinggung orang itu lagi di
depanmu Nona.”
Pingting
lalu menatap Zuiju setelah beberapa saat ia menggerakan tangannya kea rah
Zuiju.
Zuiju
mengenggamnya dan berlutut sambil berkata, “Tak usah berkata-kata lagi Nona,
Zuiju mengerti.”
Kedua
tangan itu saling menggenggam erat.
Salju
berputar, serpihanny terlihat seperti air mata.
Kecapi
di kediaman Zhen Beiwang telah rusak. Telapak tangan yang biasa bermain di
rambutnya yang hitam tidak lagi hangat.
Mengingatkan
kalau pedang berharga telah hancur dan satunya lagi telah menjadi jiwa yang
terluka dan melayang di sekitar bulan pucat.
Setelah
bulan melewati setegah langit, jiwanya telah ditarik keluar dari
tulang-tulangnya dan menjadi abu.
“Suatu
hari, kau akan tahu apa itu kepiluan hati.”
Tapi
ia sudah tahu.
Ia
tahu sejak saat itu.
Rasa
sakit yang ia tahan bukan tanpa hasil, karena ia memiliki sebuah nyawa kecil di
perutnya. Masih ada satu, dalam tubuhnya yang kurus dan hati yang terluka ini.
Jantungnya
mungkin kecil, atau mungkin belum terbentuk, tapi sudah berdetak dengan kuat,
dan tak mungkin dihentikan siapapun.
“Tak
peduli apapun, melindungi anak ini yang utama.”
Zuiju berbisik, “Nona telah melalui perjalan yang sulit sambil gelisah
dan bersedih. Sekarang anda harus membesarkan hati dan beristirahat dengan
baik. Aku akan meminta mereka untuk merebus beberapa obat terbaik.”
“Tentu
saja tidak.” Pingting menolak, “He Xia sangat ahli dalam obat-obatan juga. Ia
akan segera mengerti dari resepmu. Hal yang paling penting sekarang adalah
secepatnya pergi.”
Mata
Zuiju bersinar, “Apa Nona telah memikirkan sebuah rencana?”
Alis
Pingting mengerut. Ia menggelengkan kepalanya sedikit. “He Xia bukan orang
biasa. Tidak akan mudah untuk bisa menghilang dari pengawasannya…”
“Lantas…”
“Kita
harus memikirkan sebuah rencana.” Mata Pingting berputar dan mendarat di sebuah
batu dibawah tangannya.
Disebrang
meja batu, ada sebuah tulisan terukir “Kediaman Suami Ratu.”
Kediaman
Suami Ratu, Suami dari Putri Yun Chang.
Kekuasaan
He Xia atas militer Yun Chang adalah berkat gelarnya sebagai Suami Ratu.
Pingting
memperhatikan tulisan itu dengan seksama. Ia melepaskan kerutan alisnya.
Menghela napas dan berkata pada dirinya sendiri, “Aku ingin tahu seperti apa
Tuan Putri Yun Chang ini…”
Dari
kabar yang didengarnya, Tuan Putri Yun Chang bernama “Yaotian”.
Penuh
berkah, cantik dan terpuji seperti bunga musim semi.
Ketika
ia masih kecil, dan masih belajar bersama Tuan Mudanya, mereka sering berkelana
diluar Kediaman Jin Anwang, untuk menemukan hal-hal baru.
Mereka
sering bermain di Kediaman Pangeran He Su.
Disana
mereka sering melihat pertemuan para penghuni kerajaan saling tertawa dan
berbincang. Terkadang mereka membicarakan masalah kerajaan Yun Chang dan mereka
sepakat bahwa Kerajaan Yun Chang sungguh malang.
Kabar
mengatakan kalau Kerajaan Yun Chang adalah yang paling sedikit memiliki wanita
cantik di istananya di antara empat negara. Bahkan Raja dan Ratu tidak bisa
memperlihatkan kasih sayang mereka di depan umum. Satu-satunya tempat di istana
dimana mereka bisa bersama adalah Kediaman pribadi Ratu.
Tapi
begitu mereka keluar dari sarang kecil mereka, tak peduli betapa inginnya
mereka bermesraan, mereka harus menjaga jarak dan duduk di tempat mereka
masing-masing.
“Malang,
sungguh malang. Tak heran Raja Yun Chang hanya memiliki satu orang Putri.”
“Dengan
keadaan seeprti itu, mereka sungguh beruntung bisa memiliki seorang anak.”
Anak-anak
bangsawan ini hanya mengerti sedikit tentang kehidupan orang dewasa tapi mereka
berbincang dengan lantang, berseru dan menghela seperti itu adalah kehidupan
mereka sendiri, terdidik dengan baik, Gui Li negara yang terbuka. Selama air
memenuhi cangkir mereka, mereka bisa dengan keras mengutarakan perasaan mereka
tanpa peduli dengan masalah dunia.
“Tuan
Putri sungguh tidak beruntung. Di Gui Li kita, ketika seorang Putri menikah ia
bisa tinggal di kediaman suaminya. Pasangan yang menikah seharusnya bersama
setiap hari dan bisa melakukan semua yang ingin mereka lakukan. Yun Chang
sungguh berbeda. Meskipun Putri telah menikah, ia tetap tinggal di istana, dan
hanya ketika ia ingin melihat salju atau bunga atau bulan ia bisa memanggil
suaminya dan berbincang sepanjang malam.”
“Ha!
Tidakkah setiap orang bisa tahu berapa kali dalam sebulan ia pergi ke kediaman
suaminya? Hitung saja dari berapa kali kereta Putri datang.”
Pingting
berada disamping Tuan Mudanya, mendengarkan kata-kata konyol mereka, membicarakan
hal memalukan di pagi hari. Lalu ia menarik Yang Feng, ke arah pohon willow
yang hijau di halaman, memilih sebuah batu untuk duduk di atasnya dan
berbincang tentang hal-hal feminim.
Masa
lalu tak bisa kembali. Dan sekarang, semua orang telah berubah.
Pingting
putus asa, ia harus maju. Tuan Mudanya yang telah bergurau tentang malangnya
kehidupan suami istri di kerajaan Yun Chang, sekarang telah menjadi penghuni
Kediaman Suami Ratu. Bagaimana hubungan mereka? Yang satu Suami Ratu dari
negara Gui Li dan yang satunya Tuan Putri Yaotian yang telah tinggal di istana
Yun Chang sepanjang hidupnya.
Sepertinya
ketika He Xia memimpin pasukan memasuki perbatasan Dong Lin, mengepung kediaman
terpencil itu, dan kembali dari medan pertempuran dengan kemenangan, tentunya sudah
sangat lama berpisah dengan Tuan Putri.
Mesipun
itu perpisahan sementara antara istri dan suami, tapi mereka masih termasuk pengantin
baru.
Apa
mereka saling merindukan satu sama lainnya?
Kalau
pria itu, ia akan datang sehari setelah kepulangannya. Dengan kekuatan yang tak
pernah ditunjukannya selama ini, ia akan memaksakan keinginannya dan
menyebabkan beberapa malam penuh kekacauan, melancarkan ciuman-ciuman panasnya
sampai ia mendengarnya memohon.
Pria
itu….
Sebuah
kesedihan berguncang di hatinya, panah berduri yang menusuk mulai bergetar
tiba-tiba setelah ia melupakannya begitu lama. Pingting berusaha mengendalian
perasaannya ia mencubit kulitnya yang lembut.
Jangan pikirkan.
Kau tidak boleh
memikirkannya.
Jangan pernah
memikirkannya lagi!
Ia
menarik napas dalam, berusaha mengembalikan pikirannya pada tiga huruf di
depannya, “Kediaman Suami Ratu.”
He
Xia belum lama mengendalikan kekuatan militer dan statusnya masih belum aman.
Tugas utamanya saat ini adalah membuat istrinya bahagia. Tuan Besar Jin Anwang
yang telah kehilangan rumah dan statusnya di kerajaan Gui Li sudah cukup
menderita. Ia sangat membutuhkan dukungan penuh dari Tuan Putri.
He
Xia akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkan Tuan Putri.
Dimana
lagi ia akan menghabiskan malam ini setelah kembali ke ibukota?
Pingting
diam beberapa saat sebelum ia menoleh pada Zuiju, “Apa He Xia pergi ke Kediaman
Putri pagi ini untuk bertemu Tuan Putri?”
“Setelah
mandi, ia berpakaian dengan sangat rapi sebelum pergi. Ia mungkin pergi untuk
menemui Tuan Putri.” Zuiju berpikir sebentar. “Tentu saja ia harus segera
menemui Tuan Putri. Bagaimanapun Tuan Putri adalah penguasa Yun Chang.”
Lalu
ia melihat ekspresi Pingting yang sedang berpikir keras dan matanya menyinarkan
sebuah rencana. Kemudian ia mengerutkan keningnya sepertinya ada sesuatu yang
menganggunya. Zuiju lalu bertanya, “Apa Nona sedang memikirkan sebuah rencana?
Apa itu berkaitan dengan Tuan Putri?”
Benar,
sepertinya Pingting telah menemui masalah dalam pemikirannya. Ia perlahan
menggelengkan kepalanya dan menatap Zuiju, berpikir lagi dan akhirnya ia
berkata, “Apa kau punya resep yang bisa mengubah denyut nadiku agar He Xia
tidak tahu tentang kehamilanku ketika ia memeriksa? Satu malam sudah cukup.” Ia
sendiri tahu pengobatan, dan hal yang dimintanya adalah hal yang sulit.
Obat
apa yang reaksinya cepat tapi tidak menyakiti bayi di kandungannya? Sejak
mereka di tangkap, apapun yang Zuiju inginkan harus atas persetujuan He Xia,
bagaimana caranya agar He Xia tidak curiga.
Zuiju
menjawab, “Kalau Nona hanya menguji pengetahuanku? Bahkan gurukupun tidak tahu,
bagaimana aku bisa tahu?”
Pingting
tidak terlalu berharap juga. Wajahnya menjadi sedih. Dan ia berkata dengan
pelan. “Ini hal yang paling penting. Kalau kita tidak bisa melakukannya, akan
sulit untuk melarikan diri dengan mudah.”
Sudut
bibir Zuiju tiba-tiba menaik ke atas membentuk sebuah senyuman, “Meskipun tidak
ada resep seperti itu, bukan berarti aku tidak punya cara lain. Berikan padaku
tujuh jarum perak. Aku berjanji, malam ini, He Xia tidak akan mendengar detak
jantung si bayi.”
“Akupuntur?”
kegembiraan menari di mata Pingting.
Huo
Yunan, tabib jenius Dong Lin sangat ahli dengan akupuntur.
“Tapi
hal ini hanya bisa dilakukan satu kali. Kalau terlalu sering, tidak baik untuk
bayimu.” Zuiju berkata dengan terus
terang, “Dan setelah akupuntur dilakukan, detak jantungmu tidak tenang dan
stabil seperti biasanya tapi sedikit tidak teratur.”
“Itu
lebih bagus!” Pingting menepuk tangannya di atas meja batu, sinar matanya hampir
pulih seperti biasanya. Ia berkata pelan, “Aku perlu untuk membuat He Xia
berpikir kalau aku sakit.”
“Tapi
jarum perak…”
“Jarum
perak hal yang mudah. He Xia memerintahkan semua orang disini untuk
memperlakukanku seperti seorang Nyonya.”
Perlahan mata Pingting beralih pada dua pelayan yang sedang berdiri
disebrang kolam. “Kalau aku meminta mereka membawakannya, apa mereka berani
untuk menolak?”
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar