Selasa, 30 Agustus 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.38

-- Volume 2 chapter 38 --


Yun Chang.

 

He Xia berdiri di belakang meja, dengan tenang membuka laporan terbaru dari pasukan. Ia berbalik, menoleh pada istrinya.

 

“Jangan khawatir Tuan Putri. Pasukan Dong Lin telah melakukan peperangan cukup lama dan telah kehilangan kekuatannya. Yun Chang sebaliknya masih segar dan sudah bersiap sejak lama.” Suara He Xia sangat tenang. Ia tersenyum sedikit.

 

Putri Yaotian duduk dengan sopan, memperhatikan suaminya yang telah lama pergi. Wajahnya masih setampan ketika ia melihatnya pertama kali. Sikapnya yang tenang juga masih sama kecuali rasa ketidakpuasan yang tidak ditunjukannya di wajahnya.

 

“Apa kita sungguh akan berperang? Selama bersekutu dengan Bei Mo, kau bilang itu hanya untuk menekan musuh agar mereka mengetahui kekuatan Yun Chang sehingga bisa menghindari pertempuran fisik dengan pasukan musuh.”

 

He Xia dengan hati-hati mempelajari ekspresi wajah Yaotian. Suaranya melembut, “Apa Tuan Putri takut?”

 

Yaotian mengeluh kecil, “Chu Beijie adalah seorang Jendral terkenal dan pasukan Dong Lin sungguh kuat. Bagaimana mungkin aku tidak takut, melihat pasukan Dong Lin begitu banyak berkemah di depan perbatasan kita sejak beberapa hari lalu. Meskipun Bei Mo bersekutu dengan Yun Chang, bagaimana kalau mereka tidak menepati janji dan menyerang kita, sementara kita sedang bertempur di perbatasan Dong Lin ?”

 

“He Xia meminta maaf telah membuat Putri begitu khawatir.” He Xia maju dan dengan lembut menyentuh wajah istrinya. Suaranya sangat memikat seperti magnet ketika ia berbisik, “Tolong letakan semua kekhawatiran dan ketakutan Putri pada He Xia. He Xia berjanji tidak akan membiarkan sedikitpun kerisauan melanda Putri.”

 

Anting-anting dari tusuk konde yang dipakai di kepalanya menyembunyikan sebagian sinar mata Yaotian. Ia meluruskan lehernya dan memperhatikan ke dalam mata He Xia. Sebuah cahaya bersinar di matanya ketika ia tersenyum manis, “Dengan kau berada disini, kekhawatiran berada jauh dariku.” Ia menundukan kepalanya tapi segera dihentikan oleh tangan He Xia yang menahan dagunya.

 

Yaotian dengan sedikit pasrah menaikan kepalanya sedikit demi sedikit mengikuti keinginan tangan He Xia. Sebuah kehangatan mendarat di bibirnya dan rasa panas segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengan satu hembusan napas hangat, He Xia menciumnya dengan membara.

 

Yaotian merasa pusing dengan ciuman itu, rona merah merambat melewati kedua telinganya. Yaotian mengeliat melepaskan diri dari He Xia, jantungnya serasa ingin melompat dari tempatnya. Ia mengangkat tangannya merapikan rambutnya yang menjuntai keluar, lalu menoleh pada cermin di pojok dan menyadari kalau telinganya sudah memerah. Ia memandang He Xia mengejek dengan bergaya marah dan mengerutu, “Seriuslah suamiku, Kita di istana kerajaan, bukan di kediaman Suami Ratu. Kalau pelayan melihat, bagaimana aku menatap mereka.”

 

He Xia terkekeh, “Maklumi aku Putri. He Xia meninggalkan Yun Chang terlalu lama dan sangat merindukan Putri sehingga, aku sulit mengendalikan diriku.” Lalu He Xia berbisik, “Maukah kau datang malam ini, ke kediaman suamimu? Pasukan Dong Lin saat ini sedang berkumpul, aku akan segera berangkat ke perbatasan beberapa hari lagi untuk menghadapi Chu Beijie. Aku tidak tahu peperangan ini akan memakan waktu berapa lama, dan aku juga tidak tahu kapan akan bisa kembali untuk menemui Putri lagi.”

 

Kuping Yaotian masih merona karena hembusan hangat napas He Xia, dan jantungnya berdetak kencang tak beraturan. Ia berbisik, “Apakah suamiku tidak lelah? Kau baru tiba di ibukota larut malam dan memasuki istana pagi ini. Kau belum tidur dengan benar.”

 

Ruangan pribadi mereka tiba-tiba terasa berat ketika mereka mendengar suara langkah kaki dari balik tirai.

 

Sebuah sosok berhenti di balik tirai. Luyi berkata, “Melapor pada Tuan Putri, Pejabat Senior mohon bertemu.”

 

“Persilahkan ia masuk.” Yaotian memerintahkan. Ia berbalik melihat He Xia, senyumnya seperti madu. Sebuah kerutan muncul di alisnya yang tersisir rapi, “Ini salahmu suamiku, kau membuatku wajahku sangat merah. Apa yang dipikirkan Pejabat Senior jika ia melihat wajahku.”

 

“Biarkan saja ia melihatmu. Bagaimana bisa seseorang yang begitu berumur seperti Pejabat Senior tidak mengerti hubungan antara istri dan suaminya?” He Xia tertawa ringan dan mendekatinya. Lalu berbisik,”Putri belum menjawab, apakah ia akan datang ke kediaman suaminya nanti malam?”

 

“Seriuslah, kau…”

 

“Kerinduan menunggu.”

 

Tak peduli seberapa tampan seorang pria, begitu mereka lepas kendali, mereka adalah seekor monyet yang harus dihadapi seorang wanita.

 

Yaotian merasa marah dan geli. Ia mengulum bibirnya, “Karena suamiku sudah kembali, maka aku sebaiknya mengunjungi kediamannya dengan gembira. Tapi apa yang akan dikatakan para pejabat, karena Yaotian hanyalah seorang perempuan? Akan terlihat seperti…. Kurasa lebih baik jika aku mencarikan dua pelayan cantik untuk kediaman suamiku.” Ia menatap malu pada He Xia.

 

Eskpresi He Xia tidak berubah, ia tersenyum sambil bertanya, “Jadi apakah mala mini sebaiknya aku menyiapkan arak dan cemilan di halaman belakang kediamanku?”

 

Yaotian menyembunyikan senyumnya dan menatapnya balik. Ia menyentuh pundak He Xia dengan lembut. “Para Jendral sedang menunggu untuk melapor padamu. Pergilah temui mereka. Hati-hati jangan sampai menabrak Pejabat Senior atau ia akan terus merengek padamu.”

 

He Xia mengecup pipinya lalu melangkah mundur. Ia menampilkan ekspresi lucu dan bersenandung sambil membungkuk sebelum pergi, “Berkah terbaik untukmu Putri.”

 

Tirai tersibak dengan berisik, Gui Changqing berjalan masuk dan melihat He Xia hendak pergi.

 

“Suami ratu.”

 

“Pejabat Senior.”

 

Mereka saling mengangguk sambil berlalu. Gui Changqing berbalik dan menyaksikan punggung He Xia, penuh kepercayaan diri dan kekuatan. Ia diam sesaat kemudian melangkah masuk ke dalam dan memberi salam pada Yaotian.

 

“Jangan hiraukan tatacara, duduklah Pejabat Senior.”

 

Luyi menghidangkan teh yang sudah dipersiapkan untuk Gui Changqing. Gui Changqing mengambilnya dan meminumnya sampai habis, kemudian menatap wajah Yaotian dan melihat wajahnya yang gembira. Lalu ia membuka mulutnya dan tertawa, “Tak heran para pejabat mengatakan hanya satu orang yang mampu dengan mudah, mengubah ekspersi wajah Tuan Putri, sejak kedatangannya di ibukota.”

 

Gui Changqing telah melayani selama bertahun-tahun dan telah menyaksikan Yaotian tumbuh besar. Ia sudah seperti ayah bagi Yaotian. Tawanya membuatnya merasa kesal, “Bahkan Pejabat Senior juga turut mengejek Yaotian?”

 

Gui Changqing menatap Yaotian dengan bangga dan akhirnya berhenti tertawa. Wajahnya berubah menjadi serius begitu juga dengan suaranya, “Apakah Suamimu sudah mengatakannya pada Putri?”

 

Dengan pertanyaan ini, senyum di wajah Yaotian menghilang.

 

“Sudah.” Ia menghela napas dan dahinya mengerut, “Ia sama sekali tidak khawatir dengan pergerakan pasukan Dong Lin dan sama sekali tidak berniat menyerahkan Bai Pingting untuk menghindari peperangan.”

 

“Putri kalau kita benar-benar sampai bertempur dengan pasukan Dong Lin, lawan kita adalah Chu Beijie. Dan pasukan kita dipimpin oleh Suamimu, kedua belah pihak akan mengalami kerugian besar. Sama sekali tidak ada keuntungan untuk Yun Chang.”

 

“Apa yang bisa kulakukan?” Yaotian mengerutkan dahi, “Ketika membicarakan pasukan Dong Lin, Suamiku sama sekali tidak menyinggung nama Bai Pingting, aku menerka dengan pasti kalau ia sama sekali tidak berencana menyelesaikan hal ini secara damai dengan Chu Beijie.”

 

Gui Changqing tidak berkata-kata lagi. Ia mengangkat cawannya dan memperhatikan riaknya. Ia membiarkan Yaotian menatapnya beberapa saat dan kemudian meletakan cawannya kembali dengan kedua tangannya. “Putri telah jatuh dalam perangkap Suamimu, mengirim pasukan keluar dan dengan berani mendekati perbatasan Dong Lin, tujuannya yang sebenarnya memutus hubungan Chu Beijie dengan keluarga kerajaan, menghancurkan mereka dengan menggunakan Bai Pingting.”

 

“Itu…”

 

“Putri harus sangat hati-hati, mulai sekarang.” Gui Changqing menatap mata Yaotian dan berbisik, “Suamimu menempatkan Pingting di kediamannya. Dan kudengar ia memerintahkan pelayan untuk tidak melepaskan pandangan mereka darinya, dan mereka juga diperintahkan untuk memperlakukannya dengan sangat sopan, seperti Nyonya Rumah.”

 

Anting-anting di mahkotanya bergetar ringan. Ia menghindari tatapan Gui Changqing dan berpikir dalam-dalam.

 

Beberapa saat berlalu, akhirnya Yaotian berkata dengan lemah, “Mengerti.”

 

Setelah kepergian Gui Changqing, Luyi datang melapor, “Makan siang sudah siap.”

 

“Aku tidak lapar, katakan pada mereka untuk membereskannya.”

 

Yaotian menyuruh Luyi dan pelayan lainnya untuk pergi. Ia duduk di dalam ruangan, sendirian. Kepalanya tertunduk ketika berpikir dengan keras. Cahaya berwarna-warni berkilau dari tirai permata. Mereka bergoyang di lewati angin, dan terkadang saling menabrakan diri, sehingga terdengar bunyi gemerincing yang jernih.

 

 

Yaotian mengangkat tanganya dan melepaskan mahkotanya. Ia memperhatikannya sebentar lalu meletakannya di meja. Ia melepaskan beberapa tusuk konde di rambutnya, membiarkan rambutnya yan sehitam mutiara terurai, menutupi bahunya. Ia menatap cermin, wajahnya terlihat lebih jelas menekankan kecantikannya.

 

Ia tersenyum pada cermin, mencoba beberapa macam senyum, semua senyum itu terlihat cantik dengan caranya sendiri. Yaotian tertawa dan meninggalkan cermin. “Luyi!” ia memanggil.

 

Luti segera datang dari beranda, “Hadir, apa yang Putri inginkan?”

 

“Aku ingin mandi.”

 

“Baik, aku akan segera menyiapkannya.”

 

Yaotian bersuara lagi dari balik tirai. “Taburkan beberapa kelopak bunga Qixiang dari gunung bersalju.”

 

“Baik.”

 

Setelah Luyi menjawab, Yaotian sepertinya memikirkan satu hal lagi, “Apa nama pemerah pipi yang diberikan oleh Penulis Sejarah Houncheng pada ulang tahunku bulan kemarin?”

 

“Menjawab Putri, pemerah pipi itu dikenal dengan nama Fangniang, terbuat dari kelopak bunga yang sangat langka. Bubuknya sangat tipis dan ringan ketika di pakai. Pejabat yang membawanya mengatakan, bisa membuat kulit sehalus kulit bayi yang baru lahir.”

 

Yaotian mendengarkan dengan seksama dan berkata, “Hm.” Lalu ia memerintahkan, “Setelah mand, bawakan Fangniang aku ingin mencobanya.”

 

“Baik, Putri.”

 

Perintah ini sudah cukup, Luyi segera menyiapkan segala yang dibutuhkan. Yaotian berdiri dari kursinya, melihat ke bawah agak lama, sebuah gaun berwarna merah keungguan terang yang pantas digunakan oleh seorang Putri.

 

Gaun ini khusus debuat oleh Penjahit terbaik Yun Chang untuknya. Ada beberapa bentuk bunga dan burung yang membuat lusinan penyulam istana sibuk selama sebulan penuh. Lengannya sangat panjang. Jumbai berwana abu-abu unggu bergantung di ujung kakinya, menyempurnakan bentuknya. Tidak ada gaunnya yang semahal dan serumit yang satu ini.

 

Kegembiraan dan kegairahan bermunculan di mata hitam Yaotian.

 

--

Dua Jendral terkenal di dunia, Tuan Besar dari Jin Anwang dan Tuan Besar Zhen Beiwang, sekarang sudah lengkap.

 

Ia sendiri Tuan Putri dari Yun Chang sudah menjadi istri dari He Xia.

 

Tapi bagaimana Bai Pingting bisa mendapatkan hati Chu Beijie?

 

Zuiju adalah orang yang paling tahu bagaimana penampilan Bai Pingting saat ini.

 

Mereka berdua datang hanya membawa satu helai pakaiang ganti masing-masing. Perjalanan kesini sangat tidak bersahabat. Mereka berdua lelah dan kotor. Ketika mereka tiba di Kediaman Suami Ratu, segalanya sepertinya telah dipersiapkan sejak lama. Tidak perlu memerintahkan pelayan membawakan keperluan sehari-hari karena semuanya sudah tersedia.

 

Cermin perunggu Pingting berdiri di atas meja, bersama sisir yang biasa ia gunakan ketika di kediaman Jin Anwang dulu. Dan sebuah lemari baju yang penuh pakaian rapi terlipat, semuanya warna kesukaannya, tak satupun yang salah.

 

Ada beberapa kotak di dekat meja. Satu berisi kecapi dan yang sebuah lagi berisi semangkuk penuh dengan bebatuan alam bermacam warna yang menyerupai permata.

 

Ruangan wangi dupa, membawa kehangatan, tapi tidak menyesakkan.

 

Sebuah pot bunga berdiri disamping jendela, penuh dengan bunga segar yang baru saja di petik. Beberapa pucuk dibiarkan tergeletak di atas meja dan di sebelahnya beberapa tangkai lagi bunga yang sudah mekar.

 

Sangat sempurna sehingga terasa mengerikan.

 

Sepertinya Pingting telah tinggal lama ditempat itu. Dan yang lebih mengerikan adalah keinginan Pingting untuk hadir dan tinggal disana selamanya.

 

He Xia telah berangkat ke istana kerajaan pagi sekali, meninggalkan dua burung terkurung dengan barang-barang baru yang sudah akrab.

 

Pingting dibelakang bangunan. Wajahnya tidak lagi putus asa seperti ketika menyaksikan bulan berlalu, mengakhiri tanggal enam.

 

Ekspresi yang mengantikannnya adalah rasa malas karena senggang.

 

Perasaan itu membuat Zuiju tak bisa mendekatinya.

 

Zuiju berdiri disamping lorong, melihat pada punggungnya yang tegak. Ia tahu kalau Pingting tengah berbaik hati pada dirinya sendiri, tapi ia masih tidak mengerti bagaimana Pingting mampu berdiri tegak seperti itu.

 

Ia menghela napas pelan.

 

Ia tidak mengerti, tapi selain Bai Pingting sendiri siapa yang mampu?

 

Zuiju menghela napasnya beberapa kali lagi. Ia berdiri tidak begitu jauh dari Pingting. Ia bisa melihat wajah Pingting, tapi tidak bisa melihat hatinya.

 

Disebrang koridor, Zuiju sepertinya diserbu airmata tak terbendung. Ia segera menggerakkan tangannya dan menyapu ujung matanya. Pingting berbalik ke arahnya dan memberi isyarat dengan serius.

 

Zuiju sangat terkejut.

 

Sejak Pingting menumpahkan obat, dan terjatuh berlutut sambil menangis, ia telah menjadi seseorang yang kehilangan jiwanya, hanya seperti boneka hidup. Pingting tidak berbicara sama sekali dan tidak ada apapun di sorot matanya. Zuiju segera mendekat, sepertinya sudah lama sekali Pingting tidak bereaksi seperti itu.

 

Walaupun hanya sebuah gerakan tubuh, sudah cukup membawa kegembiraan.

 

Zuiju segera melintasi koridor, berdiri disisi Pingting. “Nona Bai, ada masalah? Apa kau menginginkan sesuatu? Atau kau ingin makan sesuatu?”

 

Pingting mengelengkan kepalanya. Ia melihat sekelilingnya memeriksa apakah ada yang memperhatikan, dan akhirnya ia berbisik, “Ia menendangku.”

 

Sebuah gerakan kecil, sebuah senyum yang hampir tak terlihat, muncul dari wajahnya yang pucat.

 

Setelah beberapa hari bersedih dan putus asa, senyum ini adalah hal terindah yang pernah Zuiju lihat sepanjang hidupnya.

 

“Sudah bergerak?” Zuiju mengerutkan dahi dan berkata, “Kau tidak salah, Nona, Bayi itu belum cukup umur, seharusnya belum bisa menendang saat ini.”

 

“Tidak salah.” Pingting mengigit bibirnya, “Benar-benar bergerak.” Sebuah gerakan ringan yang mengingatkan Zuiju betapa gadis cantik ini telah mengacaukan Chu Beijie ketika dikediaman terpecil itu.

 

Sebuah kenangan yang tak terduga.

 

Sebuah kenangan indah yang muncul setelah malam yang mengerikan.

 

Wangi bunga plum yang telah dipendam di kediaman terasing dalam Kendi Yang Mengunci Diri. Hongqian telah pergi entah kemana sementara para penjaga berdiri saling mengangguk dan berbicara. Ekspresi Moran terasa jauh, tapi ia tetap baik hati, peduli dan lembut.

 

Para pelayan dapur menyediakan makanan setiap hari, dengan ramah menerima beberapa keluhan. Mereka merapikan mangkuk mangkuk makanan dengan puas ketika melihat Nona Bai menikmati makan siangnya.

 

Chu Beijie berada disana, dan hati Bai Pingting juga disana. Ia akan bermain kecapi dan pria itu berdiri disampingnya. Menolehkan kepalanya, mata pria itu memancarkan cinta dan kehangatan yang tak mungkin memisahkan mereka.

 

Semuanya terlukis dibalik salju yang berjatuhan, sungguh pemandangan yang indah.

 

Dan sekarang, Zuiju menyadari kehidupan di kediaman terpencil itu adalah sesuatu yang sungguh sangat berharga.

 

Sebuah tangan ramping bergerak di depan mata Zuiju, membuatnya kembali pada kenyataan.
“Ah… Nona.” Ia berkata.

 

“Aku tak bisa tetap disini.”  Suara Pingting sangat pelan tapi penuh keyakinan.

 

He Xia pasti akan segera tahu tentang anak ini.

 

Mereka berdua sedang dikurung, bagaimana mungkin He Xia tidak akan tahu kalau perut Pingting terus membengkak hari demi hari.

 

“Nona, Tuan Besar pasti akan menyelamatkan kita secepatnya.”

 

Zuiju segera menyesal ketika selesai mengatakannya.

 

Eskpresi Pingting seperti seseorang yang di tenggelamkan ke dalam sungai, perlahan membeku dan akhirnya sepenuhnya hancur.

 

Ia berbalik dan duduk di kursi batu di pekarangan.  Ia menundukan kepalanya, menyembunyikan ekspresinya dari Zuiju. Dan akhirnya ia berkata dengan sangat pelan, “Zuiju, kumohon padamu…”

 

Zuiju menyalahkan dirinya sendiri karena tak mampu menahan ucapannya dan segera berguman, “Zuiju telah bersalah, aku tidak akan menyinggung orang itu lagi di depanmu Nona.”

 

Pingting lalu menatap Zuiju setelah beberapa saat ia menggerakan tangannya kea rah Zuiju.

 

Zuiju mengenggamnya dan berlutut sambil berkata, “Tak usah berkata-kata lagi Nona, Zuiju mengerti.”

 

Kedua tangan itu saling menggenggam erat.

 

Salju berputar, serpihanny terlihat seperti air mata.

 

Kecapi di kediaman Zhen Beiwang telah rusak. Telapak tangan yang biasa bermain di rambutnya yang hitam tidak lagi hangat.

 

Mengingatkan kalau pedang berharga telah hancur dan satunya lagi telah menjadi jiwa yang terluka dan melayang di sekitar bulan pucat.

 

Setelah bulan melewati setegah langit, jiwanya telah ditarik keluar dari tulang-tulangnya dan menjadi abu.

 

“Suatu hari, kau akan tahu apa itu kepiluan hati.”

 

Tapi ia sudah tahu.

 

Ia tahu sejak saat itu.

 

Rasa sakit yang ia tahan bukan tanpa hasil, karena ia memiliki sebuah nyawa kecil di perutnya. Masih ada satu, dalam tubuhnya yang kurus dan hati yang terluka ini.

 

Jantungnya mungkin kecil, atau mungkin belum terbentuk, tapi sudah berdetak dengan kuat, dan tak mungkin dihentikan siapapun.

 

“Tak peduli apapun, melindungi anak ini yang utama.”  Zuiju berbisik, “Nona telah melalui perjalan yang sulit sambil gelisah dan bersedih. Sekarang anda harus membesarkan hati dan beristirahat dengan baik. Aku akan meminta mereka untuk merebus beberapa obat terbaik.”

 

“Tentu saja tidak.” Pingting menolak, “He Xia sangat ahli dalam obat-obatan juga. Ia akan segera mengerti dari resepmu. Hal yang paling penting sekarang adalah secepatnya pergi.”

 

Mata Zuiju bersinar, “Apa Nona telah memikirkan sebuah rencana?”

 

Alis Pingting mengerut. Ia menggelengkan kepalanya sedikit. “He Xia bukan orang biasa. Tidak akan mudah untuk bisa menghilang dari pengawasannya…”

 

“Lantas…”

 

“Kita harus memikirkan sebuah rencana.” Mata Pingting berputar dan mendarat di sebuah batu dibawah tangannya.

 

Disebrang meja batu, ada sebuah tulisan terukir “Kediaman Suami Ratu.”

 

Kediaman Suami Ratu, Suami dari Putri Yun Chang.

 

Kekuasaan He Xia atas militer Yun Chang adalah berkat gelarnya sebagai Suami Ratu.

 

Pingting memperhatikan tulisan itu dengan seksama. Ia melepaskan kerutan alisnya. Menghela napas dan berkata pada dirinya sendiri, “Aku ingin tahu seperti apa Tuan Putri Yun Chang ini…”

 

Dari kabar yang didengarnya, Tuan Putri Yun Chang bernama “Yaotian”.

 

Penuh berkah, cantik dan terpuji seperti bunga musim semi.

 

Ketika ia masih kecil, dan masih belajar bersama Tuan Mudanya, mereka sering berkelana diluar Kediaman Jin Anwang, untuk menemukan hal-hal baru.

 

Mereka sering bermain di Kediaman Pangeran He Su.

 

Disana mereka sering melihat pertemuan para penghuni kerajaan saling tertawa dan berbincang. Terkadang mereka membicarakan masalah kerajaan Yun Chang dan mereka sepakat bahwa Kerajaan Yun Chang sungguh malang.

 

Kabar mengatakan kalau Kerajaan Yun Chang adalah yang paling sedikit memiliki wanita cantik di istananya di antara empat negara. Bahkan Raja dan Ratu tidak bisa memperlihatkan kasih sayang mereka di depan umum. Satu-satunya tempat di istana dimana mereka bisa bersama adalah Kediaman pribadi Ratu.

 

Tapi begitu mereka keluar dari sarang kecil mereka, tak peduli betapa inginnya mereka bermesraan, mereka harus menjaga jarak dan duduk di tempat mereka masing-masing.

 

“Malang, sungguh malang. Tak heran Raja Yun Chang hanya memiliki satu orang Putri.”

 

“Dengan keadaan seeprti itu, mereka sungguh beruntung bisa memiliki seorang anak.”

 

Anak-anak bangsawan ini hanya mengerti sedikit tentang kehidupan orang dewasa tapi mereka berbincang dengan lantang, berseru dan menghela seperti itu adalah kehidupan mereka sendiri, terdidik dengan baik, Gui Li negara yang terbuka. Selama air memenuhi cangkir mereka, mereka bisa dengan keras mengutarakan perasaan mereka tanpa peduli dengan masalah dunia.

 

“Tuan Putri sungguh tidak beruntung. Di Gui Li kita, ketika seorang Putri menikah ia bisa tinggal di kediaman suaminya. Pasangan yang menikah seharusnya bersama setiap hari dan bisa melakukan semua yang ingin mereka lakukan. Yun Chang sungguh berbeda. Meskipun Putri telah menikah, ia tetap tinggal di istana, dan hanya ketika ia ingin melihat salju atau bunga atau bulan ia bisa memanggil suaminya dan berbincang sepanjang malam.”

 

“Ha! Tidakkah setiap orang bisa tahu berapa kali dalam sebulan ia pergi ke kediaman suaminya? Hitung saja dari berapa kali kereta Putri datang.”

 

Pingting berada disamping Tuan Mudanya, mendengarkan kata-kata konyol mereka, membicarakan hal memalukan di pagi hari. Lalu ia menarik Yang Feng, ke arah pohon willow yang hijau di halaman, memilih sebuah batu untuk duduk di atasnya dan berbincang tentang hal-hal feminim.

 

Masa lalu tak bisa kembali. Dan sekarang, semua orang telah berubah.

 

Pingting putus asa, ia harus maju. Tuan Mudanya yang telah bergurau tentang malangnya kehidupan suami istri di kerajaan Yun Chang, sekarang telah menjadi penghuni Kediaman Suami Ratu. Bagaimana hubungan mereka? Yang satu Suami Ratu dari negara Gui Li dan yang satunya Tuan Putri Yaotian yang telah tinggal di istana Yun Chang sepanjang hidupnya.

 

Sepertinya ketika He Xia memimpin pasukan memasuki perbatasan Dong Lin, mengepung kediaman terpencil itu, dan kembali dari medan pertempuran dengan kemenangan, tentunya sudah sangat lama berpisah dengan Tuan Putri.

 

Mesipun itu perpisahan sementara antara istri dan suami, tapi mereka masih termasuk pengantin baru.

 

Apa mereka saling merindukan satu sama lainnya?

 

Kalau pria itu, ia akan datang sehari setelah kepulangannya. Dengan kekuatan yang tak pernah ditunjukannya selama ini, ia akan memaksakan keinginannya dan menyebabkan beberapa malam penuh kekacauan, melancarkan ciuman-ciuman panasnya sampai ia mendengarnya memohon.

 

Pria itu….

 

Sebuah kesedihan berguncang di hatinya, panah berduri yang menusuk mulai bergetar tiba-tiba setelah ia melupakannya begitu lama. Pingting berusaha mengendalian perasaannya ia mencubit kulitnya yang lembut.

 

Jangan pikirkan.

 

Kau tidak boleh memikirkannya.

 

Jangan pernah memikirkannya lagi!

 

Ia menarik napas dalam, berusaha mengembalikan pikirannya pada tiga huruf di depannya, “Kediaman Suami Ratu.”

 

He Xia belum lama mengendalikan kekuatan militer dan statusnya masih belum aman. Tugas utamanya saat ini adalah membuat istrinya bahagia. Tuan Besar Jin Anwang yang telah kehilangan rumah dan statusnya di kerajaan Gui Li sudah cukup menderita. Ia sangat membutuhkan dukungan penuh dari Tuan Putri.

 

He Xia akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkan Tuan Putri.

 

Dimana lagi ia akan menghabiskan malam ini setelah kembali ke ibukota?

 

Pingting diam beberapa saat sebelum ia menoleh pada Zuiju, “Apa He Xia pergi ke Kediaman Putri pagi ini untuk bertemu Tuan Putri?”

 

“Setelah mandi, ia berpakaian dengan sangat rapi sebelum pergi. Ia mungkin pergi untuk menemui Tuan Putri.” Zuiju berpikir sebentar. “Tentu saja ia harus segera menemui Tuan Putri. Bagaimanapun Tuan Putri adalah penguasa Yun Chang.”

 

Lalu ia melihat ekspresi Pingting yang sedang berpikir keras dan matanya menyinarkan sebuah rencana. Kemudian ia mengerutkan keningnya sepertinya ada sesuatu yang menganggunya. Zuiju lalu bertanya, “Apa Nona sedang memikirkan sebuah rencana? Apa itu berkaitan dengan Tuan Putri?”

 

Benar, sepertinya Pingting telah menemui masalah dalam pemikirannya. Ia perlahan menggelengkan kepalanya dan menatap Zuiju, berpikir lagi dan akhirnya ia berkata, “Apa kau punya resep yang bisa mengubah denyut nadiku agar He Xia tidak tahu tentang kehamilanku ketika ia memeriksa? Satu malam sudah cukup.” Ia sendiri tahu pengobatan, dan hal yang dimintanya adalah hal yang sulit.

 

Obat apa yang reaksinya cepat tapi tidak menyakiti bayi di kandungannya? Sejak mereka di tangkap, apapun yang Zuiju inginkan harus atas persetujuan He Xia, bagaimana caranya agar He Xia tidak curiga.

 

Zuiju menjawab, “Kalau Nona hanya menguji pengetahuanku? Bahkan gurukupun tidak tahu, bagaimana aku bisa tahu?”

 

Pingting tidak terlalu berharap juga. Wajahnya menjadi sedih. Dan ia berkata dengan pelan. “Ini hal yang paling penting. Kalau kita tidak bisa melakukannya, akan sulit untuk melarikan diri dengan mudah.”

 

Sudut bibir Zuiju tiba-tiba menaik ke atas membentuk sebuah senyuman, “Meskipun tidak ada resep seperti itu, bukan berarti aku tidak punya cara lain. Berikan padaku tujuh jarum perak. Aku berjanji, malam ini, He Xia tidak akan mendengar detak jantung si bayi.”

 

“Akupuntur?” kegembiraan menari di mata Pingting.

 

Huo Yunan, tabib jenius Dong Lin sangat ahli dengan akupuntur.

 

“Tapi hal ini hanya bisa dilakukan satu kali. Kalau terlalu sering, tidak baik untuk bayimu.”  Zuiju berkata dengan terus terang, “Dan setelah akupuntur dilakukan, detak jantungmu tidak tenang dan stabil seperti biasanya tapi sedikit tidak teratur.”

 

“Itu lebih bagus!” Pingting menepuk tangannya di atas meja batu, sinar matanya hampir pulih seperti biasanya. Ia berkata pelan, “Aku perlu untuk membuat He Xia berpikir kalau aku sakit.”

 

“Tapi jarum perak…”

 

“Jarum perak hal yang mudah. He Xia memerintahkan semua orang disini untuk memperlakukanku seperti seorang Nyonya.”  Perlahan mata Pingting beralih pada dua pelayan yang sedang berdiri disebrang kolam. “Kalau aku meminta mereka membawakannya, apa mereka berani untuk menolak?”

 
--0--
 

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar