-- Volume 1 chapter 16 --
“Yang Mulia.” Pingting membungkuk
setelah berjalan beberapa langkah memasuki aula utama istana kerajaan Bei Mo.
Raja Bei Mo tidak mempermasalahkan
ketika Pingting tidak membungkuk dengan penuh hormat. Ia malah tertawa. “Kau
boleh berdiri. Yangfeng sepertinya sangat menyukaimu, Nona yang terhormat, ia
mengatakan kalau kau bisa menghentikan serangan pasukan Dong Lin, apakah itu
benar?”
Pingting mengeluh. Kalau Raja Bei
Mo tidak ragu untuk menyebutnya Nona yang terhormat, artinya situasi pasukan
pasti tidak baik, jadi Bei Mo hanya bisa memohon pada bintang jatuh seperti
dirinya. Mampukah ia mengalahkan Chu Beijie?
Ia sangat pusink, tapi ini sudah
terlambat. Pingting bisa melihat tatapan berharap di mata Yangfeng yang sedang
berdiri di depannya. “Pelayanmu yang sederhana ini akan melakukan yang
terbaik,” ia berkata pelan.
“Terima kasih untuk ucapan Nona,
sekarang Bei Mo memiliki harapan.” Raja Bei Mo bertukar pandang dengan Yangfeng
sebelum bertepuk tangan dan bersorak. Wajahnya menjadi lebih ramah. Ia berbicara
dengan nada yang sopan. “Pasukan sedang berada di titik sangat bahaya; pasukan
Dong Lin mendekati Kanbu. Apa yang akan Nona rencanakan ?”
Sejak Pingting memutuskan untuk
membantu Bei Mo, ia telah mempelajari tata letak Bei Mo kemarin malam, maka
sudah mempersiapkan rencana dan formasi yang paling memungkinkan untuk
dilakukan. Tapi ia bagaimanapun sama sekali tidak tahu kalau pasukan Dong Lin
sudah mendekati Kanbu jadi ia sedikit terkejut. “Jadi pasukan Bei Mo sudah
terpojok sampai daerah perbatasan? Bagaimana si pembawa pesan yang terakhir
tidak tahu tentang hal ini ?”
Semua informasi yang ia dapatkan
berasal dari Yangfeng, maka ia menoleh ke arah Yangfeng. Yangfeng tidak tahu
hal ini juga, wajahnya menjadi pucat ketika ia menggelengkan kepalanya ke arah
Pingting.
Raja Bei Mo tersenyum masam. “Kabar
itu kudapatkan dini hari ini. Rakyat Bei Yali sudah ketakutan jadi aku
menghentikan berita ini tersebar. Beruntung kita memiliki Ze Yin atau keadaan
bisa lebih buruk. Kita masih bisa menyelamatkan Kanbu sedikit lebih lama dengan
kepemimpinan Ze Yin, tapi Ze Yin sendiri takkan bisa bertahan lebi lama lagi.”
Sebuah tongkat kecil terlepas dari genggamannya dan ia mengeluh ke arah
langit-langit. Matanya kemudian berkedip ke arah Pingting.
Pingting menatap balik ke arah Raja
Bei Mo dan ia mengangguk untuk menunjukan bahwa ia mengerti situasinya. “Tak
heran Yang Mulia bersedia memakai seorang yang tak dikenal seperti diriku.”
Situasinya jauh lebih buruk dari yang ia duga. Chu Beijie sungguh pantas
menyandang gelar sebagai Jendral Dong Lin yang terhebat.
Ia merasa frustasi, tapi ia tahu ia
harus melakukan sesuatu, atau anak Yangfeng yang belum lahir tidak akan
memiliki ayah. Ia memaksa dirinya untuk tenang, menutup matanya dan berpikir
keras.
Raja Bei Mo dan Yangfeng tahu ia
sedang berpikir sangat keras. Mereka tidak mengeluarkan suara, hanya diam
menunggu.
Suasana di aula utama sangat sunyi
dan sulit untuk bernapas.
Setelah beberapa saat, Pingting
perlahan membuka matanya dan terlihat sangat penuh percaya diri. Ia tersenyum
pada Yangfeng lalu beralih ke arah Raja Bei Mo. “Mungkin aku bisa melakukan
sesuatu, tapi aku butuh bantuan sepenuhnya dari Yang Mulia.”
Raja Bei Mo teringat kata-kata
Yangfeng sebelumnya. Tanpa mantap ia berkata, “Nona boleh meminta semua yang
dibutuhkan, uang atau barang apapun.”
“Bagus, kalau begitu aku minta Yang
Mulia untuk mengatakan yang sebenarnya padaku. Apa Bei Mo memiliki mata-mata
disamping Raja Dong Lin ?”
Raja Bei Mo tiba-tiba terdiam, ia
hanya berpikir kalau Pingting akan mengambil alih komando utama pasukan,
bukannya bertanya tentang hal seperti ini. Selama masa perang, pihak yang
berlawanan selalu memiliki mata-mata, agar informasi rahasia bisa didapatkan.
Tapi setiap negara sangat hati-hati dengan mata-mata mereka, dan merekapun
berhati-hati dari kemungkinan mereka di mata-matai negara lain. Walaupun tidak
banyak yang bisa dikirimkan tapi yang pergi adalah mereka yang terbaik dan jati
diri mereka adalah rahasia terbesar negara.
Pingting melihat keragu-raguan Raja
Bei Mo, maka ia menjelaskan. “Aku pelayanmu yang sederhana, tidak bermaksud
mengetahui lebih dalam. Hanya saja rencana ini akan dilakukan oleh orang yang
dekat dengan Raja Dong Lin. Yang Mulia tidak perlu memberitahuku nama mata-mata
itu, beritahu saja apakah ada atau tidak, orang yang bisa mendekati makanan
Raja Dong Lin.”
“Eh !” Yangfeng berseru, “Jangan
katakan kau berencana meracuni Raja Dong Lin ?”
Raja Bei Mo mengerutkan dahi, “Itu
takkan berhasil. Maaf aku berkata seperti itu, sebenarnya aku memang punya satu
atau dua orang disamping Raja Bei Mo. Adakalanya, mereka punya kesempatan
dengan makanan Raja. Bagaimanapun, semua raja saat ini melakukan tindakan
pencegahan untuk menjaga makanan mereka tidak diracuni dan seseorang untuk
mengecek racun sebelum dimakan. Bahkan jika orangku berhasil menaruh racun
dimakanannya, takkan berhasil sampai ke mulut Raja Dong Lin. Akan menjadi usaha
yang sia-sia dan mereka akan sadar bahwa ada mata-mata di tempat mereka.
Pingting membalas dengan pelan,
“Tentunya bukan masalah kalau racunnya tidak terdeteksi.”
“Apakah ada racun semacam itu?”
“Sebenarnya bukan racun, lebih
seperti obat bius.” Pingting tertawa, “Ramuan ini kutemukan sendiri beberapa
waktu lalu, kau bisa meletakannya di makanan dan pemeriksaan yang paling
ketatpun tidak akan bisa mengenalinya. Orang dewasa akan mengalami koma untuk
sekitar sepuluh hari dan nadinya akan melemah, seperti seseorang yang akan
meninggal perlahan-lahan, tapi mereka akan tersadar setelah beberapa waktu.”
“Kalau itu bisa melewati pemeriksaan,
maka semua masalah beres,” Raja Bei Mo
bersemangat, “Aku tak pernah membayangkan kalau kau begitu pintar! Berapa lama
waktu yang kau perlukan untuk membuat obat ini?”
“Obat ini sebagian besar terbuat
dari beberapa macam tumbuhan, tapi kita tak punya banyak waktu. Kita harus
segera membuat Raja Dong Lin menjadi koma sebelum mereka berhasil menaklukan
Kanbu,” Pingting menjawab dengan pertimbangan dan ia menambahkan, “Seharusnya
aku bisa membuatnya dalam satu hari.”
“Bagus !” Raja Bei Mo tersenyum,
“Kalau Raja Dong Lin tiba-tiba tidak sadarkan diri, situasi dalam kerajaan akan
menjadi kacau karena perebutan tahta. Chu Beijie harus mundur dan kembali
segera.” Ia tertawa tapi segera mengeluh
karena memikirkan sesuatu.
Yangfeng tidak mengerti, tapi
Pingting tahu. Ia tersenyum ringan menjawab, “Raja mungkin mengeluh karena efek
dari obat ini hanya bisa berkerja sekitar sepuluh hari. Kalau ada racun yang
begitu hebat dan bisa melewati pemeriksaan, bukankah Raja Dong Lin akan segera
meninggal saat itu?” Itu yang persis dipikirkan oleh Raja Bei Mo dan Pinting
ikut mengeluh juga. “Aku telah menghabiskan banyak waktu dan tenaga, mencoba
untuk meningkatkan obat ini, tapi tak pernah bisa berhasil membunuh seseorang.
Kalau aku bisa melakukannya, Gui Li takkan rusak oleh Dong Lin. Mungkin ini
kehendak Dewa. Kalau aku bisa membuat racun seperti itu, mungkin setiap negara
akan menghadapi ancaman pembunuhan daripada perjanjian perdamaian.”
Yangfeng mendengarkan dengan
seksama dan ia memikirkan Ze Yin yang sedang bertarung di Kanbu. Hatinya sakit,
ia tak bisa menahan bisikannya, “Kenapa orang baik harus bertarung dan
membunuh?”
Raja Bei Mo tetaplah seorang Raja
walau bagaimanapun. Ia segera, dengan cara yang halus kembali ke hal utama.
“Setelah obat ini di buat dan dikirim, Kanbu akan semakin berada dalam situasi
bahaya... Apa yang akan Nona rencanakan ?”
“Itu benar Yang Mulia.” Pingting
sudah menduga pertanyaan ini. “Pertama kita akan mengirim orang ke dalam
pasukan Dong Lin untuk menyebarkan gosip bahwa, telah terjadi konfilk antara
anggota keluarga di istana kerajaan Dong Lin, dan Raja Dong Lin dalam keadaan
sakit parah. Chu Beijie tentunya akan segera mendengar kabar burung itu tapi
tidak akan menganggap serius pada awalnya. Sampai kurir resmi dari Dong Lin
tiba. Ini akan membuktikan kalau Raja Dong Lin dalam keadaan koma, dan memaksa
Chu Beijie untuk mundur.”
Mata Raja Bei Mo bersinar ketika
memujinya. “Nona, itu rencana yang sangat hebat, dan teliti. Itu akan menyerang
musuh secara fisik dan mental.”
“Yang Mulia menyanjungku.” Pingting
menundukkan kepala dengan sopan. “Di lain pihak, kalau Dong Lin menyerang
pertahanan terakhir Kanbu, mereka akan segera menyerang Bei Yali. Dan kalau itu
terjadi, aku takut kurir Dong Lin takkan bisa menyampaikan pesan pada Chu Beijie
segera. Oleh karena itu, Yang Mulia harus memerintahkan beberapa pasukan untuk
tetap bersiaga di Bei Yali untuk memperlihatkan pada Chu Beijie kalau Bei Yali
tidak akan semudah itu ditaklukan dalam waktu singkat.”
“Aku tidak tahu siapa lagi yang
cocok untuk tugas itu selain dirimu Nona.” Saat ini, Raja Bei Mo menjadi ragu
sebelum akhirnya ia dengan agak lama menyiapkan bendera komando. Raja Bei Mo
menatap orang yang berdiri di depannya yang akan menjadi komandan tertinggi
pasukan Bei Mo, yang hanya terlihat seperti seorang wanita lemah. Dengan suara
dalam ia berkata, “Hati-hati Nona. Nasib negara Bei Mo terletak di tanganmu
sekarang.”
Yangfeng menarik napas panjang dari
udara dingin dan berjalan bersama Pingting. “Aku akan menulis surat pada Ze
Yin, memberitahunya tentang kau. Dengan ia di belakangmu, kau tak perlu
menghadapi para prajurit yang tidak mau mendengarkan perintahmu.”
Kedua tangan Pingting mengenggam
bendera komando. Ia sangat diam, pikirannya sudah terbang ke Kanbu. Bagaimana
ia tidak gugup? Ia akan segera bertemu Chu Beijie lagi. Hanya saja kali ini,
mereka akan terpisah oleh ribuan kuda dan para prajurit dan medan yang
berlumuran darah – ini saatnya untuk berhadapan sebagai pihak yang berlawanan.
--0--
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar