Selasa, 28 Juli 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.16

-- Volume 1 chapter 16 --

“Yang Mulia.” Pingting membungkuk setelah berjalan beberapa langkah memasuki aula utama istana kerajaan Bei Mo.

Raja Bei Mo tidak mempermasalahkan ketika Pingting tidak membungkuk dengan penuh hormat. Ia malah tertawa. “Kau boleh berdiri. Yangfeng sepertinya sangat menyukaimu, Nona yang terhormat, ia mengatakan kalau kau bisa menghentikan serangan pasukan Dong Lin, apakah itu benar?”

Pingting mengeluh. Kalau Raja Bei Mo tidak ragu untuk menyebutnya Nona yang terhormat, artinya situasi pasukan pasti tidak baik, jadi Bei Mo hanya bisa memohon pada bintang jatuh seperti dirinya. Mampukah ia mengalahkan Chu Beijie?

Ia sangat pusink, tapi ini sudah terlambat. Pingting bisa melihat tatapan berharap di mata Yangfeng yang sedang berdiri di depannya. “Pelayanmu yang sederhana ini akan melakukan yang terbaik,” ia berkata pelan.

“Terima kasih untuk ucapan Nona, sekarang Bei Mo memiliki harapan.” Raja Bei Mo bertukar pandang dengan Yangfeng sebelum bertepuk tangan dan bersorak. Wajahnya menjadi lebih ramah. Ia berbicara dengan nada yang sopan. “Pasukan sedang berada di titik sangat bahaya; pasukan Dong Lin mendekati Kanbu. Apa yang akan Nona rencanakan ?”

Sejak Pingting memutuskan untuk membantu Bei Mo, ia telah mempelajari tata letak Bei Mo kemarin malam, maka sudah mempersiapkan rencana dan formasi yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Tapi ia bagaimanapun sama sekali tidak tahu kalau pasukan Dong Lin sudah mendekati Kanbu jadi ia sedikit terkejut. “Jadi pasukan Bei Mo sudah terpojok sampai daerah perbatasan? Bagaimana si pembawa pesan yang terakhir tidak tahu tentang hal ini ?”

Semua informasi yang ia dapatkan berasal dari Yangfeng, maka ia menoleh ke arah Yangfeng. Yangfeng tidak tahu hal ini juga, wajahnya menjadi pucat ketika ia menggelengkan kepalanya ke arah Pingting.

Raja Bei Mo tersenyum masam. “Kabar itu kudapatkan dini hari ini. Rakyat Bei Yali sudah ketakutan jadi aku menghentikan berita ini tersebar. Beruntung kita memiliki Ze Yin atau keadaan bisa lebih buruk. Kita masih bisa menyelamatkan Kanbu sedikit lebih lama dengan kepemimpinan Ze Yin, tapi Ze Yin sendiri takkan bisa bertahan lebi lama lagi.” Sebuah tongkat kecil terlepas dari genggamannya dan ia mengeluh ke arah langit-langit. Matanya kemudian berkedip ke arah Pingting.

Pingting menatap balik ke arah Raja Bei Mo dan ia mengangguk untuk menunjukan bahwa ia mengerti situasinya. “Tak heran Yang Mulia bersedia memakai seorang yang tak dikenal seperti diriku.” Situasinya jauh lebih buruk dari yang ia duga. Chu Beijie sungguh pantas menyandang gelar sebagai Jendral Dong Lin yang terhebat.

Ia merasa frustasi, tapi ia tahu ia harus melakukan sesuatu, atau anak Yangfeng yang belum lahir tidak akan memiliki ayah. Ia memaksa dirinya untuk tenang, menutup matanya dan berpikir keras.

Raja Bei Mo dan Yangfeng tahu ia sedang berpikir sangat keras. Mereka tidak mengeluarkan suara, hanya diam menunggu.

Suasana di aula utama sangat sunyi dan sulit untuk bernapas.

Setelah beberapa saat, Pingting perlahan membuka matanya dan terlihat sangat penuh percaya diri. Ia tersenyum pada Yangfeng lalu beralih ke arah Raja Bei Mo. “Mungkin aku bisa melakukan sesuatu, tapi aku butuh bantuan sepenuhnya dari Yang Mulia.”

Raja Bei Mo teringat kata-kata Yangfeng sebelumnya. Tanpa mantap ia berkata, “Nona boleh meminta semua yang dibutuhkan, uang atau barang apapun.”

“Bagus, kalau begitu aku minta Yang Mulia untuk mengatakan yang sebenarnya padaku. Apa Bei Mo memiliki mata-mata disamping Raja Dong Lin ?”

Raja Bei Mo tiba-tiba terdiam, ia hanya berpikir kalau Pingting akan mengambil alih komando utama pasukan, bukannya bertanya tentang hal seperti ini. Selama masa perang, pihak yang berlawanan selalu memiliki mata-mata, agar informasi rahasia bisa didapatkan. Tapi setiap negara sangat hati-hati dengan mata-mata mereka, dan merekapun berhati-hati dari kemungkinan mereka di mata-matai negara lain. Walaupun tidak banyak yang bisa dikirimkan tapi yang pergi adalah mereka yang terbaik dan jati diri mereka adalah rahasia terbesar negara.

Pingting melihat keragu-raguan Raja Bei Mo, maka ia menjelaskan. “Aku pelayanmu yang sederhana, tidak bermaksud mengetahui lebih dalam. Hanya saja rencana ini akan dilakukan oleh orang yang dekat dengan Raja Dong Lin. Yang Mulia tidak perlu memberitahuku nama mata-mata itu, beritahu saja apakah ada atau tidak, orang yang bisa mendekati makanan Raja Dong Lin.”

“Eh !” Yangfeng berseru, “Jangan katakan kau berencana meracuni Raja Dong Lin ?”

Raja Bei Mo mengerutkan dahi, “Itu takkan berhasil. Maaf aku berkata seperti itu, sebenarnya aku memang punya satu atau dua orang disamping Raja Bei Mo. Adakalanya, mereka punya kesempatan dengan makanan Raja. Bagaimanapun, semua raja saat ini melakukan tindakan pencegahan untuk menjaga makanan mereka tidak diracuni dan seseorang untuk mengecek racun sebelum dimakan. Bahkan jika orangku berhasil menaruh racun dimakanannya, takkan berhasil sampai ke mulut Raja Dong Lin. Akan menjadi usaha yang sia-sia dan mereka akan sadar bahwa ada mata-mata di tempat mereka.

Pingting membalas dengan pelan, “Tentunya bukan masalah kalau racunnya tidak terdeteksi.”

“Apakah ada racun semacam itu?”

“Sebenarnya bukan racun, lebih seperti obat bius.” Pingting tertawa, “Ramuan ini kutemukan sendiri beberapa waktu lalu, kau bisa meletakannya di makanan dan pemeriksaan yang paling ketatpun tidak akan bisa mengenalinya. Orang dewasa akan mengalami koma untuk sekitar sepuluh hari dan nadinya akan melemah, seperti seseorang yang akan meninggal perlahan-lahan, tapi mereka akan tersadar setelah beberapa waktu.”

“Kalau itu bisa melewati pemeriksaan, maka semua masalah beres,”  Raja Bei Mo bersemangat, “Aku tak pernah membayangkan kalau kau begitu pintar! Berapa lama waktu yang kau perlukan untuk membuat obat ini?”

“Obat ini sebagian besar terbuat dari beberapa macam tumbuhan, tapi kita tak punya banyak waktu. Kita harus segera membuat Raja Dong Lin menjadi koma sebelum mereka berhasil menaklukan Kanbu,” Pingting menjawab dengan pertimbangan dan ia menambahkan, “Seharusnya aku bisa membuatnya dalam satu hari.”

“Bagus !” Raja Bei Mo tersenyum, “Kalau Raja Dong Lin tiba-tiba tidak sadarkan diri, situasi dalam kerajaan akan menjadi kacau karena perebutan tahta. Chu Beijie harus mundur dan kembali segera.”  Ia tertawa tapi segera mengeluh karena memikirkan sesuatu.

Yangfeng tidak mengerti, tapi Pingting tahu. Ia tersenyum ringan menjawab, “Raja mungkin mengeluh karena efek dari obat ini hanya bisa berkerja sekitar sepuluh hari. Kalau ada racun yang begitu hebat dan bisa melewati pemeriksaan, bukankah Raja Dong Lin akan segera meninggal saat itu?” Itu yang persis dipikirkan oleh Raja Bei Mo dan Pinting ikut mengeluh juga. “Aku telah menghabiskan banyak waktu dan tenaga, mencoba untuk meningkatkan obat ini, tapi tak pernah bisa berhasil membunuh seseorang. Kalau aku bisa melakukannya, Gui Li takkan rusak oleh Dong Lin. Mungkin ini kehendak Dewa. Kalau aku bisa membuat racun seperti itu, mungkin setiap negara akan menghadapi ancaman pembunuhan daripada perjanjian perdamaian.”

Yangfeng mendengarkan dengan seksama dan ia memikirkan Ze Yin yang sedang bertarung di Kanbu. Hatinya sakit, ia tak bisa menahan bisikannya, “Kenapa orang baik harus bertarung dan membunuh?”

Raja Bei Mo tetaplah seorang Raja walau bagaimanapun. Ia segera, dengan cara yang halus kembali ke hal utama. “Setelah obat ini di buat dan dikirim, Kanbu akan semakin berada dalam situasi bahaya... Apa yang akan Nona rencanakan ?”

“Itu benar Yang Mulia.” Pingting sudah menduga pertanyaan ini. “Pertama kita akan mengirim orang ke dalam pasukan Dong Lin untuk menyebarkan gosip bahwa, telah terjadi konfilk antara anggota keluarga di istana kerajaan Dong Lin, dan Raja Dong Lin dalam keadaan sakit parah. Chu Beijie tentunya akan segera mendengar kabar burung itu tapi tidak akan menganggap serius pada awalnya. Sampai kurir resmi dari Dong Lin tiba. Ini akan membuktikan kalau Raja Dong Lin dalam keadaan koma, dan memaksa Chu Beijie untuk mundur.”

Mata Raja Bei Mo bersinar ketika memujinya. “Nona, itu rencana yang sangat hebat, dan teliti. Itu akan menyerang musuh secara fisik dan mental.”

“Yang Mulia menyanjungku.” Pingting menundukkan kepala dengan sopan. “Di lain pihak, kalau Dong Lin menyerang pertahanan terakhir Kanbu, mereka akan segera menyerang Bei Yali. Dan kalau itu terjadi, aku takut kurir Dong Lin takkan bisa menyampaikan pesan pada Chu Beijie segera. Oleh karena itu, Yang Mulia harus memerintahkan beberapa pasukan untuk tetap bersiaga di Bei Yali untuk memperlihatkan pada Chu Beijie kalau Bei Yali tidak akan semudah itu ditaklukan dalam waktu singkat.”

“Aku tidak tahu siapa lagi yang cocok untuk tugas itu selain dirimu Nona.” Saat ini, Raja Bei Mo menjadi ragu sebelum akhirnya ia dengan agak lama menyiapkan bendera komando. Raja Bei Mo menatap orang yang berdiri di depannya yang akan menjadi komandan tertinggi pasukan Bei Mo, yang hanya terlihat seperti seorang wanita lemah. Dengan suara dalam ia berkata, “Hati-hati Nona. Nasib negara Bei Mo terletak di tanganmu sekarang.”

Yangfeng menarik napas panjang dari udara dingin dan berjalan bersama Pingting. “Aku akan menulis surat pada Ze Yin, memberitahunya tentang kau. Dengan ia di belakangmu, kau tak perlu menghadapi para prajurit yang tidak mau mendengarkan perintahmu.”

Kedua tangan Pingting mengenggam bendera komando. Ia sangat diam, pikirannya sudah terbang ke Kanbu. Bagaimana ia tidak gugup? Ia akan segera bertemu Chu Beijie lagi. Hanya saja kali ini, mereka akan terpisah oleh ribuan kuda dan para prajurit dan medan yang berlumuran darah – ini saatnya untuk berhadapan sebagai pihak yang berlawanan.

--0--



novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar